READING

Potensi Inflasi 2020 Tinggi, Ini Yang Dilakukan Pe...

Potensi Inflasi 2020 Tinggi, Ini Yang Dilakukan Pemkot Kediri

KEDIRI – Pemerintah Kota Kediri berusaha menekan laju inflasi di tengah situasi sulit tahun 2020. Kenaikan cukai rokok, pencabutan subsisdi listrik, isu pencabutan subsidi elpiji 3 kg, serta gejolak pasar (volatile food) bisa mendorong angka inflasi.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengatakan tantangan inflasi di tahun 2020 cukup besar. Karena itu kesiapan pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menyusun langkah strategis menjadi mutlak dibutuhkan.

“Kenaikan cukai perlu segera diantisipasi karena adanya kemungkinan pengangguran terbuka. Kalau cukai rokok naik pasti akan beralih ke automatisasi (mekanisasi) karena lebih murah dari tenaga manusia,” kata Mas Abu dalam pertemuan khusus di Ruang Kilisuci Balaikota Kediri, Selasa 21 Januari 2020.

Hingga saat ini upaya menekan laju inflasi di Kota Kediri, menurut Mas Abu, sudah sangat bagus. Bahkan informasi yang dia terima, harga bahan di Kota Kediri lebih murah dibanding kota lain.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KpwBI) Kediri Musni Hardi Kasuma Atmaja memaparkan beberapa hal yang harus diwaspadai di tahun 2020. Di antaranya adalah harga sejumlah komoditi yang diperkirakan naik. Seperti emas yang mulai naik karena isu global. “Kalau administered price (harga yang diatur) ini naik harus kita waspadai karena bisa berpotensi meningkatkan inflasi. Di tahun 2019 cenderung rendah,” kata Musni.

Menurut catatan Musni Hardi, terdapat lima komoditas lain yang juga harus diwaspadai karena telah mengalami kenaikan di awal tahun 2020. Mereka adalah beras IR 64, gula pasir, minyak goreng, bawang merah dan cabai merah. Untuk beras IR 64, minyak goreng, bawang merah dan cabai merah masih bisa dilakukan penetrasi oleh kesediaan stok Bulog.

Kepala Badan Pusat Statistik Kota Kediri Agus Puji Raharjo mengatakan, kondisi ini akan memicu terjadinya perubahan pengelompokan pengeluaran. Jika biasanya ada 7 kelompok pengeluaran,  di tahun 2020 ini akan menjadi 11 kelompok pengeluran.

Pertama; kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kedua; pakaian dan alas kaki. Ketiga; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Keempat; perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga. Kelima; kesehatan. Keenam, transportasi. Ketujuh; informasi, komunikasi dan jasa keuangan. Kedelapan; rekreasi, olahraga, dan kebudayaan. Kesembilan; pendidikan. Kesepuluh; penyediaan makanan dan minuman. Kesebelas; perawatan pribadi dan jasa.

Agus Puji menambahkan, inflasi Kota Kediri pada tahun 2019 di angka 1,83 persen. Angka itu masih di bawah capaian nasional 2,72 persen dan capaian Jawa Timur sebesar 2,12 persen. Selama tahun 2019 Kota Kediri mengalami tiga kali deflasi pada bulan Februari -0,08 persen, bulan Agustus -0,23 persen, dan bulan September -0,27 persen. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.