Pramuka Adalah Hari Jumat

Pramuka adalah hari Jumat. Itulah satu-satunya hal yang aku ingat tentang Pramuka sejak dulu.

Entah apa kaitannya antara Pramuka dengan hari Jumat, yang jelas tiap hari itu aku dan teman-temanku di Sekolah Dasar Negeri Sukorame 1, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri diwajibkan memakai seragam Pramuka.  Jika tidak, kami diberi dua pilihan oleh guru kelas, pulang berganti seragam atau berdiri di depan kelas dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Selebihnya adalah sanksi sosial.

Ya, sanksi sosial karena aku harus menjadi minoritas selama jam sekolah hari itu. Di saat siswa lain mengenakan seragam coklat, aku justru berseragam putih merah seperti yang dikenakan di hari Senin sampai Kamis. Belum lagi cibiran dan olokan teman sekelas yang menuding sebagai pelupa atau siswa pungut, sebutan untuk siswa yang dipungut dari sekolah lain.

Kerasnya konsekuensi yang diterima jika berseragam selain Pramuka di hari Jumat memaksaku untuk memeriksa seragam tiap Kamis malam. Aku akan uring-uringan jika seragam Pramukaku belum berada di dalam lemari, atau masih tergantung di tali jemuran. “Pokoknya besok pagi harus sudah kering,” kataku dengan alis tinggi kepada ibu.

Dengan sabar ibu mengambil seragamku dari jemuran dan menggantungnya di kamar tidur. Seragam itu digantung di dekat lampu agar cepat kering. Dan aku tidur sambil memicingkan mata ke arah lampu, berharap bisa memancarkan sinar ultraviolet untuk mengeringkan seragamku besok pagi.

Jumat pukul 05.30 WIB aku sudah bangun. Pandanganku langsung menuju gantungan baju di dekat lampu. Aku terbelalak. Kantukku ilang. Seragam itu tidak ada dan hanya menyisakan hanger yang masih menempel di kabel lampu gantung.

Sambil berlari aku memanggil ibuku berulang-ulang yang kutemukan di ruang setrika. “Seragammu belum kering betul, makanya ibu setrika biar kering dan bisa kau pakai,” kata ibu tenang.

Kutarik kursi kayu di dekat meja setrika untuk melihat proses pengeringan itu. Aku sedikit heran saat pakaian coklat itu mengeluarkan asap tipis ketika disapu setrika yang panas. Dengan sedikit menekan, tangan ibu terus menggerakkan setrika ke seluruh bagian seragam yang masih kemamel (kondisi agak basah).

“Nanti bolong kena setrika,” celetukku yang mulai khawatir dengan banyaknya kepulan asap dari seragamku. “Sudah tenang saja, yang penting kering,” sahut ibukku.

Sambil menunggu proses pengasapan selesai, aku mandi. Jam dinding telah menunjukkan pukul 05.45 WIB. Aku tak ingin terlambat ke sekolah.

Benar saja, begitu keluar dari kamar mandi aku sudah mendapati seragam Pramukaku tergantung di kamar dalam kondisi kering. Ibuku benar-benar hebat.

Bukan hanya seragam Pramuka, kaus kaki warna hitam juga sudah tergeletak di dekatnya. Sebab sudah menjadi ketentuan sekolah jika seragam Pramuka harus diikuti kaus kaki warna hitam. Jika tidak, ancaman berdiri dan olok-olok sudah menanti.

Pagi itu kuawali langkah menuju sekolah dengan penuh percaya diri. Sesekali terbersit pikiran nakal, berharap ada teman yang lupa memakai seragam Pramuka. “Biar habis kuolok-olok nanti,” pikirku.

Pucuk dicinta ulam tiba. Begitu masuk ke dalam kelas, kudapati Umar, teman sekelasku yang dikenal paling bandel duduk di pojok mengenakan seragam putih merah. Wajahnya pucat saat diolok-olok teman sekelas. Tanpa melepas tas, aku bergabung dalam Kelompencapir (kelompok pencela dan pencibir) untuk menghabisi Umar.

Keriuhan itu baru berhenti setelah bel sekolah berbunyi. Seperti biasa, sebelum memulai pelajaran, guru kelas melakukan sidak seragam ke masing-masing bangku. Aku menegakkan kepala sambil sesekali melirik Umar. “Mampus kau,” batinku.

Setelah berkeliling dua kali, guru tersebut memanggil Umar untuk berdiri di depan kelas. Kami semua spontan tertawa melihat wajah Umar yang pucat seperti tahu.

Namun detik berikutnya namaku dipanggil pak guru. Aku kaget, benar-benar kaget. Kenapa aku ikut dipanggil. Seragamku sempurna mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Namun karena tak berani membantah, aku berdiri menyusul Umar di dekat papan tulis.

Seperti memahami kebingunganku, pak guru memberi kode untuk menunduk ke bawah. Kutelusuri seragamku mulai pakaian, celana pendek, kaus kaki, hingga sepatu. Alamak, ternyata aku memakai sepatu warna biru, bukan hitam seperti paket seragam Pramuka. Dan alhasil, selama pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung aku menemani Umar di depan kelas.

Kini, di Hari Pramuka yang diperingati seluruh masyarakat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 2019, tak ada yang bisa kuingat dari organisasi berlambang tunas kelapa itu selain hari Jumat. Pramuka adalah hari Jumat. Titik.

print

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.