READING

Pramuka lah Yang Pertama Mengakui Merah Putih Bend...

Pramuka lah Yang Pertama Mengakui Merah Putih Bendera Persatuan

Pramuka (Praja Muda Karana) ikut andil dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

KEDIRI- Sebelum Indonesia merdeka bernama Kepanduan. Mereka yang menjadi anggotanya bukan semata untuk berburu latihan kedisplinan. Bukan sekedar menimba ilmu baris berbaris, tali temali, menguasai sandi morse, menghafal kode semafor, membaca jejak dalam jurit malam, mendirikan tenda, lalu bermain tepuk tangan sambil duduk mengelilingi api unggun perkemahan.

Lebih dari itu. Kepanduan Indonesia sejak berdiri sudah bernafaskan perlawanan, persatuan, sekaligus perjuangan merebut kemerdekaan. Hal itu yang membedakan histori Pramuka Indonesia dengan sejarah Kepanduan rintisan Bapak Kepanduan Sedunia, Lord Robert Boden Powell (1908) 

Powell menginisiasi Kepanduan demi tercapainya pembangunan mental, moral, jasmaniah dan latihan untuk menjadi warga negara yang baik. Sementara berdirinya kepanduan di Indonesia (Saat itu Hindia Belanda) juga menjadi alat melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda. 

Kepanduan Kolonial

Pada tahun 1917 atau sembilan tahun setelah Lord Boden Powell mengenalkan gagasan Kepanduan  di dunia, Nederland Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau perhimpunan kepanduan Hindia Belanda, berdiri.

Organisasi ini bertujuan menghimpun kaum muda Hindia Belanda yang melek organisasi. Terutama mereka yang berminat kumpul kumpul. Namun sejak lahir NIPV sudah dilekati sifat eksklusif. Tidak semua pemuda bisa dengan mudah menggabungkan diri. Hal itu terlihat dari anggotanya yang sebagian besar diisi orang orang Belanda. 

Alasan itu juga yang membuat NIPV terlihat kurang menarik di depan mata pribumi. Meski tidak memperlihatkan penolakan terbuka, kaum muda bumiputera memilih bergabung ke dalam JPO (Javaansche Padvinters Orgnisatie). 

JPO berdiri tahun 1916. Dibanding NIPV, usia JPO selisih lebih tua setahun. Meski lebih disukai kaum bumi putera, JPO sebenarnya merupakan tempat pembibitan tentara Mangkunegaran. 

Perlawanan Kepanduan Bumi Putera

Bak cendawan di musim hujan. Hanya selang 3-4 tahun dari berdirinya JPO dan NIPV, yakni tahun 1920an, banyak bermunculan perhimpunan Kepanduan baru di Hindia Belanda. 

Mereka rata rata merupakan ounderbow (sayap) atau cabang dari perkumpulan atau ormas yang sudah ada. Tidak heran jika pengaruh organ induknya membuat Kepanduan memasukkan program politik nasional, yakni berjuang merebut kemerdekaan. 

Sebut saja Partai Komunis Indonesia (PKI). Dibawah Ketua Semaun, PKI, yakni terutama yang di Semarang memiliki sayap organisasi Kepanduan yang maju. Sebagian besar anggotanya berasal dari siswa siswi sekolah rakyat, yakni sekolah pribumi yang didirikan Tan Malaka.

Saat itu banyak aktivitas organisasi kepanduan di Semarang yang berjejaring dengan PKI. Tidak mau kalah dengan PKI, Algemeebe Studieclub mendirikan organisasi kepanduan yang bernama NPO (Nationaal Padvinders Organisatie). Kemudian Sarekat Islam dengan SIAP (Serikat Islam Afdeeling Pandu), Muhammadiyah dengan Hizbul Wathon, Budi Utomo dengan Nationale Padvinderij, Jong Java dengan Jong Java Padvinderij yang kemudian berubah Pandu Kebangsaan. 

Lalu juga Jong Islamieten Bond dengan Natipy (Nationale Islamitische Padvinderij), Pemuda Indonesia dengan INPO (Indonesische Padvinders Organisatie), Jong Sumatra dengan PPS (Pandu Pemuda Sumatera), kaum teosof dengan JIPO (Jong Indonesische Padvinders Organisatie), PBI dengan Surya Wirawan serta Taman Siswa dengan Siswa Proyo dan Al Kasyaf wal Fajrie.

Mengusung Semangat Kemerdekaan

Melihat banyaknya organisasi Kepanduan di Hindia Belanda, Mr Sunario, salah satu tokoh pergerakan berhaluan nasionalis tergerak mempersatukannya. Dia melihat adanya hasrat persatuan yang hidup dan berkembang diantara kaum terjajah. Pada tahun 1927 Mr Sunario mendirikan Persaudaraan Antar Pandu Indonesia (PAPI).

Sementara melihat banyaknya organisasi kepanduan bumiputera, NIPV sebagai Kepanduan kepanjangan tangan Pemerintah Hindia Belanda merasa cemas. NIPV memutuskan mengubah strategi organisasi. 

Untuk bisa meraih simpati dan dukungan, anggaran dasar organisasi dilonggarkan. NIPV tidak lagi eksklusif dalam menerima anggota. Namun tawaran itu tetap sepi peminat.

Dari banyaknya perhimpunan Kepanduan yang ada di Hindia Belanda, hanya JIPO yang didirikan kaum teosof yang bersedia bergabung dengan NIPV. Sementara yang lain tetap di luar dengan terus menjunjung semangat persatuan Indonesia. 

Pada tahun 1929 terjadi dinamika besar besaran. Perkumpulan pemuda melakukan fusi yang membuat PAPI tidak bertahan. Pada 15 Desember 1929 pengurus besar Kepanduan menggelar konferensi.

Hasilnya memutuskan hanya ada dua badan fusi Kepanduan, yakni Kepanduan Nasional dan Kepanduan Islam. Kemudian selanjutnya menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). KBI berciri setangan atau kain merah putih pada leher atau dalam perjalanannya dikenal sebagai hasduk. Merah putih juga menjadi warna panji panjinya.

KBI dengan 57 cabangnya bukan bagian Indonesia Muda yang merupakan fusi perhimpunan pemuda pimpinan tokoh Murba asal Garum, Blitar, Sukarni 

Diluar KBI ada gerakan kepanduan lain bernafaskan Islam, seperti Hizbul Wathon, SIAP, Natipy, Al Kasyaf wal fajire. Pada April 1938, KBI, SIAP, Natipy dan Hisbul Wathon membentuk federasi kepanduan yang bernama Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI). 

Pengurus BPPKI terdiri dari wakil KBI, SIAP dan Natipy. Pada 10 Februari 1941 konferensi Kepanduan digelar di Solo yang menghasilkan sejumlah keputusan yang diantaranya menyatakan federasi terbuka untuk semua kepanduan di Indonesia.

Kemudian Merah Putih diakui sebagai bendera persatuan. Dalam Perkemahan Kepanduan Indonesia Umum yang digelar Juli 1941, BPPKI menolak keikutsertaan semua kepanduan yang tergabung dalam NIPV. 

Berganti Nama Pramuka

Meski di jaman penjajahan Jepang seluruh organisasi Kepanduan sempat dilarang dan diganti Seinendan dan Keibodan, paska Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, semuanya bangkit lagi.

Bahkan pergerakanya semakin  pesat. Tahun 1954 tercatat ada sebanyak 71 organisasi kepanduan dengan anggota 194 ribu pandu putra dan 41 ribu pandu putri.

Dalam hal jumlah anggota kepanduan, Hizbul Wathon menduduki tempat teratas. Lalu disusul Ansor, Pandu Rakyat Indonesia, KBI, Pandu Islam Indonesia dan seterusnya. 

Melihat banyaknya organisasi serta kebutuhan kerjasama dan koordinasi, pada 16 September 1951 dibentuklah Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo). 

Pada peringatan 10 tahun Indonesia merdeka 17 Agustus 1955 di Karang Taruna Pasar Minggu, Jakarta, digelarlah Jambore Nasional yang pertama. Acara akbar itu diikuti 4 ribu pandu dari berbagai suku di Indonesia. 

Sembilan tahun kemudian atau tepatnya bulan Mei 1960, Ipindo direorganisasi dan berubah nama menjadi Perkindo (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Setahun kemudian atau tahun 1961 semua organisasi kepanduan di Indonesia berganti nama Pramuka yang merupakan kepanjangan dari Praja Muda Karana hingga sekarang. (Mas Garendi)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.