READING

Ramah dan Bergaul, Terduga Teroris Blitar Tanggalk...

Ramah dan Bergaul, Terduga Teroris Blitar Tanggalkan Stigma Eksklusif ?

BLITAR- Tiga orang terduga teroris dibekuk Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror di wilayah Blitar Raya Jumat malam (23/8/2019). Lelaki berinsial S ditangkap saat berada di jalan raya Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. S merupakan warga setempat yang sehari-hari dikenal sebagai penjaga apotek. 

Dalam penggeledahan di rumah S, disita celurit, ruyung double stick, sejumlah buku jihad dan tiga unit telepon genggam. Pada saat yang sama Tim Densus juga meringkus KJW (48), seorang pengusaha laundry yang menempati sebuah rumah di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar. KJW tinggal bersama istri dan tiga orang anaknya. 

Rumah yang ditempati lelaki asal Kediri itu milik dokter Hariyadi, warga Kota Blitar. Rumah itu dulunya digunakan praktek dokter, yang kemudian kosong karena berhenti.

Sudah empat tahun rumah itu dihuni KJW dan keluarganya. Dalam penggeledahan aparat Densus menyita busur, anak panah, serta dua unit telpon genggam. 

Sementara di wilayah Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, tim Densus juga menciduk JPS (47) warga setempat. Lelaki yang diduga terlibat jaringan terorisme itu bekerja sebagai pegawai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kota Blitar.

Penangkapan ketiga orang terduga teroris diduga pengembangan dari penangkapan sekeluarga terduga teroris di Lamongan. 

Kapolres Blitar AKBP Anissullah M. Ridha membenarkan adanya tiga orang warga Blitar Raya yang dibawa Tim Densus 88 Anti Teror karena diduga terlibat kegiatan terorisme. Dalam kegiatan itu Polres Blitar hanya memberi bantuan pengamanan. Semua kewenangan sepenuhnya berada di tangan Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri. 

“Kami hanya diminta memback up pengamanan terduga teroris tersebut. Sementara untuk penanganan wewenang Densus,” ujar Anissullah M. Ridha kepada wartawan Sabtu (24/8).

Kerja BPR, Kamuflase?

“Ini agak ganjil. Masak seorang terduga teroris bekerja di BPR,” tanya salah seorang warga Blitar menyikapi penangkapan terduga JPS. JPS, ayah dua putra dengan si sulung duduk di bangku SMA dan si kecil masih SMP, cukup lama menjadi pegawai BPR. 

Tempatnya mencari uang tergolong BPR lama di Kota Blitar. Memiliki nama cukup terkenal dan relatif besar. Umumnya, lanjut warga Blitar yang enggan disebut namanya itu, mereka seringkali menghindari mata pencaharian yang dianggap masih berpolemik dengan hukum syariah. 

Terutama pekerjaan yang membuka ruang perdebatan soal bunga bank, riba dan sejenisnya. Alasan itu juga yang membuat mereka dalam berekonomi kerap memilih jalur berdikari. Membuat usaha sendiri. Berdagang, beternak, maupun mengaplikasikan ilmu pertanian. 

“Kalau ada terduga teroris yang bekerja di BPR, ini hal baru. Mengingat bunga bank itu bagi mereka menjadi perdebatan. Apakah murni pencaharian atau hanya kamuflase?,” tanyanya. 

Dari informasi yang dihimpun, ketiga terduga teroris yang diamankan juga bergaul lazimnya anggota masyarakat yang lain. Bertetangga. Bertegur sapa. Cukup aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan dan memenuhi undangan setiap diundang. 

Stigma jenggot panjang, bercelana cingkrang, eksklusif atau tertutup dalam pergaulan, yakni hanya berkomunikasi dengan kelompoknya, tidak terlihat. 

“Dia (JPS) sangat ramah. Karenanya kami kaget kalau ditangkap Densus 88,” tutur Sugiono, tetangga JPS. Di lingkungannya, para tetangga JPS setidaknya mengenal sebagai orang baik, ramah, sekaligus sopan. 

Begitu juga dengan terduga KJW. Meski tergolong jarang ngobrol, pengusaha laundry itu sering terlihat salat maghrib berjamaah di musala sebelah tempat tinggalnya. KJW juga rutin terlihat lari pagi. Dalam berkomunikasi juga tidak pernah muncul hal yang aneh. 

“Kalau ngobrol ya biasa biasa saja,” tutur Susilo Iswanu, Ketua RT setempat. Meski juga pendiam, setahu warga terduga S, juga tidak pernah berpilaku yang menarik perhatian lingkungan. 

Para tetangga melihat S sebagai orang yang baik. Fenomena terduga teroris ini berbeda dengan kasus beberapa tahun sebelumnya. Setiap mereka yang terduga terpapar gerakan radikalisme itu, identitas eksklusifnya paling mudah menjadi bahan perbincangan.

Tidak Cukup Tausiyah di Media

Ketua Ansor NU Kota Blitar Hartono menduga wilayah Blitar Raya hanya sebagai persinggahan atau transit. Para terduga teroris itu sepertinya tidak memilih Blitar sebagai  sasaran aksi. Meski ada yang berstatus pendatang, keberadaan mereka di Blitar, kata Hartono lebih untuk tujuan pulang kampung.

“Artinya Blitar bukan sebagai sasaran aksi. Diduga hanya sebagai transit, “kata Hartono.

Baca Juga : Ansor Banser NU Pelopori Bersih Lingkungan  

Karakter warga Blitar yang umumnya permisif, terbuka, toleran, dan jarang bereaksi selama tidak ada gejala neko-neko, ditengarai menjadi pertimbangan memilih Blitar. Blitar ditengarai menjadi tempat “sembunyi” yang aman dan nyaman. 

Menurut Hartono, di lingkungannya mereka terlihat sebagai warga yang baik. Persoalannya banyak warga yang tidak tahu aktifitas mereka di luar Blitar. “Karenanya banyak yang terkejut ketika mereka diamankan Densus 88. Ini bisa juga dikatakan kecolongan,” papar Hartono. 

Melalui Ansor-Banser di tingkat ranting (desa) dan PAC (kecamatan), GP Ansor akan meningkatkan pengawasan di masyarakat. Terutama kepada mereka yang dianggap mencurigakan. 

Baca Juga : FPI Tidak Ada di Kediri

Pendapat sedikit berbeda disampaikan Pembina Banser NU Kabupaten Blitar Imron Rosadi. Menurut dia, wilayah Blitar tidak sekedar menjadi transit mereka yang diduga terpapar gerakan terorisme. Namun diduga lebih dari itu.

Apalagi paska peristiwa penangkapan terduga teroris dua tahun silam, informasinya sel mereka  diduga semakin berkembang. “Menurut saya tidak sekedar transit. Sebab kabarnya sel mereka di sini (Blitar) semakin berkembang, meski sudah dalam pantauan aparat,” katanya. 

Entah kamuflase atau apa istilahnya, Imron yang akrab dipanggil Baron juga melihat adanya perubahan pola komunikasi. Ada dinamika dalam prilaku sosial yang ditengarai sebagai taktik menyembunyikan diri. 

Mereka yang sebelumnya eksklusif, tertutup, menonjolkan simbol, berubah terbuka, ramah dan bergaul. Hal itu yang membuat lingkungan dimana mereka bertempat tinggal menjadi terkelabui.

Baca Juga : Pramuka Yang Pertama Akui Merah Putih Bendera Persatuan

Disisi lain alat ukur (identifikasi) yang digunakan untuk mereka yang terpapar gerakan terorisme tidak berubah. Berjenggot, bercelana cingkrang, tertutup, tidak ramah, tidak melakukan tahlil dan tidak berziarah kubur. 

Apakah saat ini mereka tengah menyamar dengan menerapkan konsep semacam taqiyah?. Baron mengaku tidak tahu pasti. Menurut dia, dengan perubahan itu, kelompok terduga teroris akan semakin sulit teridentifikasi. 

Karenanya dirinya berulang-ulang menegaskan penanganan masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan tausiyah dari kejauhan yang berjarak. Apalagi hanya berseru melalui media massa.

Semua yang berkompeten dengan keutuhan NKRI, menurut Baron harus turun ke bawah. Akar rumput harus didatangi dan disentuh.

“Kunci satu-satunya harus turun ke bawah bersama sama. Mendatangi umat. Tidak cukup hanya memberi tausiyah dari kejauhan, “katanya. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.