READING

Ramai Berbincang Film Bumi Manusia. Emang Kamu Sud...

Ramai Berbincang Film Bumi Manusia. Emang Kamu Sudah Baca Novelnya?

“Kita kalah Ma, bisikku. “Kita telah melawan Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat–hormatnya”.

Percakapan yang anggun. Seuntai perlawanan kata kata yang indah. Didepan Minke (Baca; Mingke) yang merasa kalah karena dipaksa berpisah dengan Annelies Mellema, istrinya,  Nyai Ontosoroh menunjukkan ketangguhannya.

Kalimat itu bak tarian perang. Lentur, gemulai yang sepintas pasrah, namun disatu sisi tetap bertenaga. Mengingatkan pada percakapan Sri Kresna yang menanggapi kegalauan Arjuna dalam kidung Bhagawad Gita.

Tertulis di paragraf terakhir halaman 405, diatas kalimat Buru (Pulau Buru), Lisan 1973 dan Tulisan 1975, dialog itu diingat para penikmat novel Bumi Manusia sebagai percakapan paling monumental.

Melawan dengan cara terhormat dan menerima kekalahan dengan sikap tegar, tidak nglokro menjadi titik balik kehidupan Minke berikutnya. Berhimpun, berorganisasi, menguatkan ketokohan dan membuat babak baru perlawanan terhadap kolonial.

Titik balik itu bisa dibaca dalam novel Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca yang menjadi lanjutannya. Bisa jadi karena dianggap paling penting, bagian percakapan ini tidak bocor dalam trailer film Bumi Manusia.

Kekuatan novel Bumi Manusia terletak pada narasi yang dibangun penulisnya.  Kekuatan karakter tokoh tokohnya.  Dialog dialognya. Diksi diksinya. Dan tentu saja pengetahuan sejarah dan latar belakang si penulis yang pernah menjalani kehidupan gulag Pulau Buru tanpa proses pengadilan. Itu semua menjadi kekuatan tersendiri.

Akankah dialog  percakapan Nyai Ontosoroh dan Minke dalam film Bumi Manusia akan sebertenaga narasi novelnya?. Trailer yang sudah diluncurkan membuat  rasa penasaran itu semakin berkibar. Membuat bertanya tanya.

Bagaimana gestur Sha Ine Febrianti saat mengucapkannya nanti. Wibawa suaranya. Tinggi rendah nadanya. Posisi tubuhnya. Penghayatannya. Apakah  akan berdiri tegak dengan kepala sedikit mendongak? Akankah berbicara dengan menunjukkan sorot mata tajam yang sempurna?. Bukan sekedar memindahkan narasi menjadi bunyi laiknya pembaca berita.   

Dalam roman Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh dan Minke adalah medan magnet cerita. Dari keduanya sejarah berpusar, mengalir, bertumbuh kembang dan lalu menjadi. Sejarah tokoh dan kebangsaan. Sekedar mengubah untuk dikapitalisasi sebagai tontotan mata (visual) tentu akan mencederai kemurnian spirit novelnya.     

Lalu bagaimana dengan Iqbaal Ramadhan yang sempat diragukan kepantasannya sebagai Minke?. Apakah pemeran film Dilan 1990 itu mampu mempersonifikasikan kewibawaan seorang Tirto Adhi Suryo (TAS) dengan sempurna?. Tidak sekedar berakting menangis, tertawa dan berteriak.   

Para penikmat karya Pak Pram tidak sabar menanti datangnya 15 Agustus 2019. Dan berharap sutradara Hanung Bramantyo akan menempatkan setiap adegan sesuai maqomnya.

Bumi Manusia Tidak Ada di Tulungagung

“Saya belum pernah membaca novel Bumi Manusia”. Dengan wajah merasa bersalah layaknya orang ketinggalan acara perjalanan, salah seorang mahasiswa seni semester akhir di salah satu kampus di Malang, mengucapkan itu. 

Nadanya sedih. Di perpustakaan kampusnya tidak dia temukan. Mungkin ada dan tengah dipinjam pengunjung lain. Atau mungkin memang pihak kampus tidak menjadikannya sebagai koleksi pustaka. Begitu juga di lingkungan teman sesama perupa. Tidak ada satupun yang memilikinya.

Karenanya bisa jadi teman teman sepergaulannya juga belum pernah membaca Bumi Manusia. Karena faktor tidak tahu dan itu menjadikannya kurang tertarik, dirinya juga tidak berusaha mencari di toko buku offline maupun online. Sampai pada titik dirinya mengetahui film Bumi Manusia akan tayang di layar lebar 15 Agustus 2019 mendatang.

Tidak hanya Bumi Manusia. Di tanggal yang sama juga dirilis film Perburuan yang juga buah karya Pramoedya. “Kalau tidak ada filmnya mungkin sampai sekarang saya tidak tahu Bumi Manusia, “sambungnya.  

Karena merasa tertinggal dan malu, seniman muda ini sejak awal menolak namanya disebutkan dalam catatan ini. Dengan polosnya dia juga mengatakan tidak tahu siapa Pramoedya Ananta Toer. Tidak tahu bagaimana Bumi Manusia ditulis penuh kesengsaraan Pulau Buru.  

Beberapa kali dia bertanya siapa Pram?. Orang mana, karyanya apa saja. 

Sebagai perupa bermadzab realis dia betul betul tidak tahu jika Pram salah satu satrawan terbesar yang pernah dimiliki bangsa ini. Salah satu satrawan yang menerima penghargaan bergengsi Ramon Magsay Say dan namanya pernah dikandidatkan sebagai penerima nobel perdamaian.

“Setelah menonton filmnya saya akan mencari versi novelnya. Setidaknya untuk perbandingan, “katanya.

Bagi para Pramis, yakni sebutan untuk para pengagum Pramoedya, ketidaktahuan itu rawan mendapat tanggapan nyinyir setimpal, “lalu selama ini kemana saja”. Bisa jadi fenomena ini hanyalah kasuistis kecil.

Namun faktanya di forum pers mahasiswa di sebuah kampus Tulungagung, terjadi juga fenomena serupa. Dalam pertanyaan pembuka sebuah diskusi kecil, peserta yang rata rata mahasiswa dan mahasiswi semester menengah, menjawab dengan gelengan kepala.

Sama dengan mahasiswa perupa asal kampus Malang. Banyak yang tidak tahu dan belum pernah membaca Bumi Manusia. Tidak sedikit yang mengaku  tidak mengetahui profil Pramoedya. “Bukunya susah dicari sih, “dalih salah seorang mahasiswa yang mengaku pernah mendengar.

Di perpustakaan kampus nihil. Atau mungkin memang tidak ada. Mungkin sengaja ditiadakan.  Padahal selain tetralogi pulau buru, buku karya Pramoedya Ananta Toer cukup banyak. Sebut saja Arus Balik yang juga merupakan magnum opusnya. Kemudian Arok Dedes, Perburuan, Mereka Yang Dilumpuhkan, Korupsi, Di Tepi Kali Bekasi, Mangir, Bukan Pasar Malam, Gadis Pantai, Keluarga Gerilya, Subuh, Percikan Revolusi, Larasati, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan lain sebagainya.   

Beberapa judul diantaranya mungkin masih bisa ditemukan di toko buku. Namun harganya melampaui kedalaman kantong mahasiswa. Di kalangan pecinta sastra sejarah, buku Pramoedya memang dikenal langka dan mahal. Baik buku cetakan lama maupun baru, harganya selalu melangit.

Untuk buku cetakan lama yang tidak dicetak ulang seringkali dijuluki harta karun. Contohnya novel Arus Balik yang sampai kini tidak pernah dicetak ulang, bisa tembus sampai diatas satu juta setengah. Disisi lain kelangkaan karya Pramoedya tidak lepas dari aksi sweeping dan pelarangan buku. Selalu menjadi langganan sasaran pembersihan.

Nasibnya tentu tidak sama dengan karya penyair Chairil Anwar. Yang banyak beredar dan mudah ditemukan.  Nasib karya Pram juga tidak seberuntung buku cetakan Balai Pustaka yang banyak dijumpai di perpustakaan sekolah maupun umum. Tidak seberuntung karya para sastrawan dan seniman yang pernah tergabung dalam kelompok Manifesto Kebudayaan.

Padahal tidak sedikit dari buku buku Pramoedya  yang  telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Bahkan di negara lain menjadi pelajaran sastra siswa sekolah.  

Mungkin karena langka dan kalaupun ada harganya mahal, fenomena “ketidaktahuan” Bumi Manusia dan Pramoedya Ananta Toer juga dijumpai di lingkungan jurnalis. Masih banyak yang mengenal Bumi Manusia hanya sebatas membaca sinopsis. Sekedar membaca resensi di media online atau catatan ringan di media sosial. Namun belum pernah sekalipun mendaras novelnya secara utuh. Padahal cerita yang diangkat alam Bumi Manusia sesungguhnya adalah sejarah perjalanan tokoh pers Indonesia.

Menurut A. Setiawan salah seorang Pramis asal Blitar, dengan diangkatnya Bumi Manusia  menjadi film diharapkan  akan semakin banyak yang tahu dan mengenal karya  Pramoedya Ananta Toer.  Sebab meski disajikan secara fiksi, kisah Bumi Manusia kaya akan data sejarah perlawanan penjajahan kolonial.

“Hari ini banyak yang membicarakan film Bumi Manusia. Apalagi setelah trailernya diluncurkan. Uniknya, mereka yang berbincang itu banyak yang belum membaca novelnya. Alasannya macam macam,  “katanya.

Setiawan juga berharap euforia Bumi Manusia tidak hanya berhenti di keramaian sinema. Setelah filmnya, buku buku karya sastra Pram diharapkan bisa masuk sebagai koleksi perpustakaan sekolah dan umum.

“Dan itu yang terpenting. Bisa masuk sebagai bacaan siswa sekolah, “harapnya. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.