READING

Ranu Pani, Gerbang Pendakian ke Semeru Segera Dipu...

Ranu Pani, Gerbang Pendakian ke Semeru Segera Dipulihkan

Ranu Pani

Seperti pepohonan hutan tropis yang tegak tak pernah sendiri
Kehangatan terjalin
Kesunyian itu, Sayangku
Seperti artefak purba penuh kegenitan
Tetapi tahukah kamu,
Kita merindukannya, bukan?
Ketika kematian danau itu
Membayang di senja yang begitu magenta

LUMAJANG – Kualitas ekosistem Ranu Pani yang kian menurun, mempertemukan TNBTS dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang duduk dalam satu meja untuk mencari jalan keluar. Danau di atas ketinggian 2100 mdpl itu tak hanya mengalami pendangkalan namun juga penyempitan secara signifikan. Ranu Pani yang pada tahun 2008 memiliki luasan sekitar 7 hektar, saat ini menyusut menjadi tak lebih dari 4 hektar.

“Kami ingin melihat kawasan Ranu Pani menjadi lebih tertata,” kata Yuli Haris, plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang kepada jatimplus.id. “Apalagi, Ranu Pani adalah pintu masuk pendakian ke Semeru. Tak perlu promosi orang sudah tahu Ranu Pani, namun tak semua orang paham bahwa Ranu Pani berada di wilayah Kabupaten Lumajang,” kata Yuli menjelaskan mengapa Pemkab Lumajang antusias saat rapat koordinasi dengan pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada 2 Mei 2019 lalu.

Dalam pertemuan yang dihadiri langsung Bupati Lumajang Thoriqul Haq dan Kepala Balai Besar TNBTS John Kenedie itu ada dua persoalan utama yang menjadi pokok bahasan yakni soal sampah dan pendangkalan Ranu Pani. Selain Dinas Lingkungan Hidup, Bupati Lumajang dalam pertemuan itu mengajak serta  Dinas PUTR (Pekerjaan Umum dan Tata Ruang) yang nanti akan terlibat dalam pengerjaan sarana dan prasarana terkait penataan kawasan Ranu Pani.

Selain sampah yang dihasilkan oleh warga Desa Ranupani , sampah yang dihasilkan dari aktivitas pendakian membutuhkan penanganan secara terpadu. Menurut catatan SAVER (Sahabat Alam Volunteer Semeru) dalam sebulan setidaknya 2 ton sampah Pendaki yang terkumpul di tempat penampungan sementara. Sampah tersebut adalah sampah yang dibawa turun kembali oleh para pendaki.

Ngatin, relawan asal Desa Ranupani saat melakukan pemilahan sampah di TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu). FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani.

“Sejak tahun 2018 kami bekerja sama dengan Kelompok Kebersihan Lingkungan Ranu Pani dalam menangani sampah pendakian,” kata Syarif Hidayat Kepala Humas TNBTS menjelaskan terkait langkah yang sudah dilakukan dalam menangani sampah yang ditinggalkan oleh pendaki. Secara periodik  sampah pendaki oleh relawan diangkut ke TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) yang berada tak jauh dari Desa Ranupani. Di sini sampah yang memiliki nilai ekonomis dipilah lantas dijual untuk medukung biaya operasional.

Sebagai gunung tertinggi di Jawa yang menjulang 3676 mdpl, Semeru memiliki daya tarik kuat bagi para pendaki untuk menjejakkan kaki di puncak atau sekadar berkemah di pinggiran danaunya yang indah, Ranu Kumbolo. Pendaki yang sambang tak hanya datang dari berbagai wilayah di Indonesia, namun juga pendaki dari luar negeri seperti Malaysia, Jerman, Perancis dan berbagai negara lainnya.

Sejumlah pendaki terlihat melintas di areal savanah menuju Ranu Kumbolo, danau elok di atas ketinggian 2400 mdpl. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

Untuk keamanan dan kenyamanan pendakian, pihak TNBTS membatasi jumlah pendaki 600 orang perhari. Selain karena cuaca Semeru yang tak bersahabat dan keperluan recovery serta kesempatan perbaikan sarana prasarana seperti perbaikan rambu-rambu petunjuk, TNBTS melakukan penutupan pendakian mulai Januari sampai April. Tahun 2019, musim pendakian ke Semeru dibuka mulai 12 Mei setelah ditutup sejak tanggal 3 Januari lalu. Tingginya minat ke Semeru di antaranya ditunjukkan dengan tak lama setelah lebaran kuota pendakian sudah penuh sampai dengan akhir bulan Juni ini. Besarnya minat pendakian ke Semeru tentu membawa dampak tumpukan sampah yang perlu ditangani.

Sampah Para Pendaki dan Ranu Pani yang Terancam Hilang

Tahun 2018 lalu, Pemkab Lumajang pernah terlibat dalam menangani persoalan sampah pendaki di Ranu Pani dengan membawanya turun. “Namun cuma berjalan sekitar dua minggu,” kata Andi Iskandar Zulkarnain atau yang lebih dikenal sebagai Andi Gondrong, pegiat lingkungan. “Saya tak tahu masalahnya apa,” lanjutnya. Andi Gondrong adalah salah seorang yang menginisiasi berdirinya Kelompok Kebersihan Lingkungan (KKL) Ranu Pani. Sebelumnya terdapat tiga kelompok relawan kebersihan yang bergerak sendiri-sendiri. Dengan dibentuknya KKL, pekerjaan pengelolaan sampah menjadi lebih terkoordinasi.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang berjanji mengangkut kembali sampah Ranu Pani. “Kami berencana menyediakan dump truk untuk mengangkut sampah dari Ranupani turun ke Lumajang,” kata Yuli Haris.

Selain sampah, masalah yang dibahas oleh Pemkab Lumajang dan TNBTS adalah pendangkalan Ranu Pani. Dengan melihat konturnya,  Ranu Pani secara alamiah akan menjadi tempat penghentian segala yang mengalir dari atas. Andi Gondrong mencatat,  ketika musim penghujan tiba setidaknya 300 meter kubik tanah akan masuk ke dalam Ranu Pani. Hal ini terjadi sepanjang tahun tanpa terlihat adanya upaya untuk membendung agar aliran lumpur pada saat hujan mengguyur kawasan Desa Ranu Pani dan sekitarnya tak mencebur ke dalam danau. Akibatnya, dalam sebelas tahun terakhir luasan Ranu Pani menyusut hampir separuh.

Tak hanya penyempitan, Ranu Pani juga mengalami pendangkalan. Pendangkalan ini dipercepat dengan hadirnya tumbuhan Salvinia Molesta. Sementara ini Ranu Pani terbebas dari Salvinia molesta, tumbuhan invansif asal Amerika Latin, setelah sedikitnya 1.700 relawan melakukan bersih-bersih selama  80 hari yang berakhir pada pertengahan Agustus 2018 lalu. Pembersihan tanaman dengan nama lokal Kiambang ini adalah untuk yang kedua kalinya setelah dilakukan upaya yang sama pada tahun 2012 lalu.

Tumpukan Salvinia molesta yang dientas dari Ranu Pani saat aksi bersih-bersih yang berakhir pada Agustus 2018. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani.

Pembersihan Salvinia yang merebak sejak tahun 2009 itu dilakukan secara manual dengan menggunakan alat sederhana utamanya dari bambu. Meski saat ini terlihat bersih, namun Salvinia berpotensi menutup kembali permukaan Danau.  “Kalau hanya dipinggirkan saja, Salvinia akan tumbuh lagi,” kata Herwanto warga Ranupani yang menjadi Koordinator bersih-bersih Ranupani tahun lalu. 

Seolah menjawab harapan, Pemkab Lumajang menjanjikan mengirim alat berat untuk mengatasi endapan dan pendangkalan Ranu Pani. Tak hanya itu, Pemkab Lumajang mengancangkan Dinas PUTR melakukan langkah pembenahan dengan melakukan pengerjaan saluran air Desa Ranupani untuk ditata sedemikian rupa supaya lumpur dari areal perladangan pada saat musim penghujan tidak masuk ke dalam Ranu Pani.      

Perlunya Pembangkitan Nilai Kultural Masyarakat Adat Tengger

Dalam penilaian Purnawan D. Negara, persoalan pendangkalan dan penyempitan Ranu Pani utamanya bukan pada fisik, namun akibat tergerusnya nilai kultural masyarakat adat Tengger. “Di Ranu Pani itu yang terjadi sebenarnya bukanlah kondisi kerusakan fisik, tapi kerusakan nilai-nilai. Erosi nilai-nilai, erosi kultural itulah yang menyebabkan erosi ekologi. Nilai-nilai adat Tengger yang tidak diugemi, tidak dijaga yang menyebabkan kerusakan itu,” papar Pupung, panggilan akrab Purnawan kepada jatimplus.id.

Pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Widyagama  Malang ini menyarankan, agar Pemkab Lumajang dan TNBTS tidak mengambil posisi terlalu di depan dan mendikte namun melibatkan masyarakat adat Tengger.

“Penataan di situ jangan semata cuma wisata karena di situ ada nilai-nilai sebelum TNBTS dan Pemkab Lumajang ada. Pemulihannya adalah eco religio cultural dalam artian dibangkitkan, diangkat dan digali kembali nilai-nilai masyarakat Tengger di dalam menjaga kawasannya. Konkritnya adalah menjadikan masyarakat adat Tengger menjadi bagian dari pengelolaan kawasan Ranupani. Ajak duduk bersama Kepala Desa, para dukun dan tokoh masyarakat bagaimana membahas Ranupani khususnya terkait dengan masalah perladangan, jadwal menanam dan kepemilikan tanah  sehingga diperoleh gambaran yang komprehensif,” papar Pupung yang juga menjadi Dewan Daerah WALHI Jawa Timur ini.

Kondisi Ranu Pani setelah dibersihkan dari Salvinia molesta yang menutup permukaan danau. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

Perladangan yang meninggalkan sistem terasiring merupakan faktor utama penyebab terjadinya sedimentasi di Ranu Pani. Air hujan dengan bebas menyeret material tanah ladang dalam bentuk lumpur yang akan berakhir di Ranu Pani. Pun sabuk gunung, berupa gundukan tanah yang biasanya ditanami rumput untuk menahan erosi, sudah tak terlihat lagi.

“Kalau dulu ndak ada masalah karena masyarakat Tengger menanam tanaman yang tak menimbulkan sedimentasi terhadap kawasan Ranupani. Tapi begitu sekarang saat industrialisasi tanaman yang laku keras di pasar itu mau tak mau tanah Tengger dipaksa untuk diproduksi sesuai dengan keinginan. Menanam tanaman yang laku keras di pasar butuh lahan yang semakin luas. Apalagi penduduk Ranupani yang semakin bertambah menjadikan punggungan bukit juga ditanami dan meninggalkan pola terasiring. Ini yang kemudian menimbulkan erosi yang besar-besaran,” kata Pupung menambahkan.

Saat ini setidaknya terdapat 400 Kepala Keluarga yang menghuni Desa Ranupani. Karena berada dalam kawasan Taman Nasional, desa dengan luasan sekitar 500 hektar ini secara regulatif luasnya relatif stagnan. Sementara secara alamiah jumlah cacah akan terus bertambah. Akibatnya, selain meninggalkan sistem tanam terasiring dan sabuk gunung agar beroleh luasan ladang secara optimal, di areal perladangan yang dulu tak terlihat bangunan, sekarang sudah berdiri rumah-rumah untuk tempat tinggal.

Itulah sebabnya restorasi kawasan Ranu pani dan sekitarnya, menurut Pupung perlu melibatkan masyarakat desa adat Tengger. Jika nilai-nilai kearifan lokal seperti penghormatan atas tanah dan air tidak dibangkitkan kembali dan dibiarkan mati dalam kehidupan keseharian masyarakat Ranupani, yang akan terjadi adalah bunuh diri ekologi. (Prasto Wardoyo)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.