READING

Ratusan Santri dan Kiai Rumuskan Nasionalisme di L...

Ratusan Santri dan Kiai Rumuskan Nasionalisme di Lirboyo

KEDIRI – Sedikitnya 600 santri, kiai, dan akademisi mengikuti Halaqoh Kebangsaan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Ketua Lesbumi PBNU Agus Sunyoto dan budayawan Zawawi Imron turut menyampaikan pikiran dalam forum besar ini.

Halaqoh kebangsaan yang berlangsung pada tanggal 1 – 4 Oktober 2019 di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo ini mendiskusikan kembali kontribusi pesantren dari masa ke masa. Hingga kini, pesantren masih dipandang strategis untuk menanamkan nilai toleransi dalam mempersatukan masyarakat.

“Sejak dulu posisi dan peran pesantren jelas terhadap bangsa ini. Bahkan sejarah mencatat kegiatan pendidikan di Lirboyo sempat terhenti karena seluruh santri angkat senjata melawan penjajah. Bagaimana mungkin pesantren akan mengkhianati bangsa ini,” kata KH Athoilah S. Anwar, pengasuh Lirboyo dalam pembukaan halaqoh, Rabu, 2 Oktober 2019.

Di depan ratusan santri yang hadir, Gus Athok –panggilan KH Athoilah- menegaskan jika nasionalisme santri tak perlu dipertanyakan lagi. Penegasan ini sekaligus menjawab pertanyaan publik terhadap posisi pesantren di tengah dinamika negara yang berlangsung saat ini.

Untuk memperkuat nilai kebangsaan dan nasionalisme santri, salah satu upaya yang dilakukan adalah mempelajari sejarah. Karena itu tema “Merawat Ingatan Sejarah Untuk Memperkokoh Keindonesiaan” dipilih sebagai topik halaqoh kali ini.

Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Triana Wulandari yang hadir di forum itu menjelaskan Halaqoh Kebangsaan tersebut merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan kementeriannya dengan pondok pesantren.

Program yang dinamai Penguatan Nilai Kebangsaan (Pena Bangsa) di Pesantren ini digagas dengan kesadaran bahwa nilai-nilai kebangsaan harus terus diperkuat untuk mengokohkan ikatan kebangsaan yang beragam. “Semangat kebangsaan yang dinafasi oleh nilai dan tradisi pesantren dapat menjadi modal dan model untuk menguatkan karakter kebangsaan bagi generasi penerus,” katanya.

Bersama Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU dan Pondok Pesantren Lirboyo, Kemendikbud mentargetkan para santri memiliki nilai toleransi yang tinggi. Pesantren harus bisa menampilkan wajah Islam yang tawassuth (memilih jalan tengah), tasamuh (toleran), dan tawazun (menjaga keseimbangan).

Pameran Kesejarahan

Tak hanya menyelenggarakan diskusi, halaqoh kebangsaan ini juga menggelar lomba penulisan esai dengan tema kebangsaan, serta pameran kesejarahan. Sejumlah benda bersejarah yang memiliki kaitan dengan pondok pesantren Lirboyo ditampilkan di sebuah gallery yang terbuka untuk masyarakat umum.

Ketua Tosan Aji Imam Mubarok Muslim menunjukkan keris peninggalan Pangeran Diponegoro kepada Triana Wulandari dan KH Anwar Mansyur. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

Beberapa benda yang dipamerkan antara lain dokumentasi foto-foto pengasuh pondok Lirboyo terdahulu, beserta protret kehidupan santri jaman dulu. Dari foto tersebut tergambar jelas napak tilas perjalanan Lirboyo dari masa ke masa yang penuh perjuangan.

Menariknya, penyelenggara kegiatan juga menghadirkan benda-benda bersejarah yang tak pernah diperlihatkan pada khalayak. Diantaranya adalah kursi roda KH Marzuqi Dahlan yang terbuat dari besi. Karena sudah terlalu tua, benda tersebut dipenuhi karat dan menyisakan beberapa bagian yang tak utuh lagi.

Selain itu, benda lain yang tak kalah menarik perhatian adalah beduk pertama masjid Lirboyo yang masih berbentuk. Beduk berukuran kecil itu bahkan menampakkan lobang yang cukup besar bekas dimakan rayap.

Deretan keris yang dipajang di etalase menjadi bagian menarik lainnya dalam pameran itu. Keris-keris yang dipamerkan memiliki nilai sejarah masing-masing yang tak kalah unik. Salah satunya adalah keris peninggalan Pangeran Diponegoro yang mencuri perhatian para pengasuh pondok, termasuk KH Anwar Mansyur. “Keris ini adalah peninggalan Pangeran Diponegoro,” kata Imam Mubarok Muslim, Ketua Paguyuban Tosan Aji menjelaskan salah satu keris kepada Triana Wulandari.

Pesan Zawawi Imron

Budayawan asal Madura yang menjadi salah satu pembicara halaqoh KH Zawawi Imron mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali ke kesadaran dasar. Pergolakan yang terjadi belakangan ini, menurut dia, bukan menjadi karakter bangsa Indonesia. “Kita minum dari tanah Indonesia, kita sama-sama makan dari beras yang ditanam di Indonesia. Jadi tidak ada alasan untuk berkelahi sesama kita,” pesannya.

Zawawi meminta semua pihak untuk meredam amarah dan menahan diri. Saling berbudaya, saling mendengarkan, dan saling berbagi adalah kunci untuk mencipatkan suasana yang harmoni. Presiden dan anggota DPR yang baru saja dilantik juga dituntut bisa mendengarkan suara rakyat. Tak bisa lagi mengedepankan kepentingan dan keinginan sesaat. “Tidak ada yang paling berhak atas negara ini,” kata Zawawi.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.