READING

Rawon Djamiah Batu – Malang, Bikin Mabuk Kep...

Rawon Djamiah Batu – Malang, Bikin Mabuk Kepayang

BATU MALANG – Entah mengapa saya menjadi penggemar rawon garis keras. Bahkan di imajinasi saya, mungkin asal muasal rawon dulunya adalah dari resep curian dapur penghuni kayangan. Lebay ga sih…

Rawon adalah menu favorit di Warung Nasi Djamiah Putra

Berjalan kaki dari Jalan Panglima Sudirman ke arah Alun-Alun Kota adalah hal paling menyenangkan yang bisa dilakukan saat pagi hari di Kota Batu. Kita bisa menikmati keramaian kota kecil berhawa dingin ini dengan menyusuri trotoar yang dihiasi pertokoan, restoran, dan hotel di kanan-kiri jalan. Laju langkah saya terhenti di depan sebuah warung nasi berpapan nama “Djamiah Putra” diatas pintu masuknya.  Pagi ini warung masih sepi. Hanya nampak seorang bapak duduk di meja belakang sedang menikmati makan paginya. Saya segera memesan sepiring rawon dan teh hangat begitu seorang perempuan berjilbab menghampiri saya. Pandangan saya mengelilingi ruangan bagian dalam warung. Saya lalu memutuskan untuk duduk di bagian utama warung dimana sang pemilik menaruh beraneka macam sajian menu makanan. Bagian itu berbentuk etalase sederhana mempunyai dua sisi. Beberapa piring dan panci berisi lauk-pauk dan sayur-mayur tertata rapi di rak kacanya.

Aneka lauk-pauk dan sayur berbahan utama daging sapi terhidang rapi di etalase

Pesanan saya akhirnya terhidang di meja. Sepiring rawon dengan kuahnya yang keruh menggugah selera. Potongan daging cukup banyak ditaruh di satu sisi piring dengan tempe goreng dan taburan serundeng kelapa di atasnya. Sedangkan sisi yang lain terdapat sambal dan kecambah sebagai condiment-nya. Tak sabar segera saya mencoba kuah rawon terlebih dulu. Rasanya gurih dan kental. Kaldu daging sapi dan aroma kluwek berpadu harmonis dalam rasa. Kluwek atau Pangium Edule dalam bahasa latin, sudah dikenal sejak lama sebagai salah satu bumbu dapur masakan nusantara. Rawon, brongkos, dan sup konro adalah beberapa masakan yang menggunakan biji tumbuhan yang juga disebut sebagai kepayang dalam bahasa melayu ini.  Biji yang mentahnya dapat digunakan sebagai racun untuk mata anak panah ini, bila dimakan dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan mabuk. Ungkapan mabuk kepayang dalam bahasa melayu berasal dari biji ini, menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta hingga tak mampu berpikir logis, seakan mabuk habis memakan kepayang.

Berbagai hidangan menggugah selera siap disantap di warung maupun dibawa pulang

Saya lalu menyuapkan nasi beserta daging rawon dengan sedikit sambal ke mulut. Daging sapinya cukup bersahabat, mudah sekali dikunyah, tidak alot. Sedangkan sambalnya ternyata cukup pedas bagi ukuran saya sebagai penggemar masakan pedas. Tak berapa lama, nasi rawon di piring saya pun tandas tak bersisa. Porsinya pas. Tak terlalu sedikit, juga tak terlalu banyak. Sambil menikmati teh hangat, saya lalu mengajak ngobrol Ibu Siti, generasi ketiga warung nasi Djamiah Putra. Perempuan berusia 30 tahun ini ternyata menantu dari Pak Djumain, anak dari Pak Mat Jebug dan Bu Djamiah, generasi pertama yang membuka warung ini di tahun 50-an. Orang-orang dulunya lebih mengenal warung ini dengan sebutan warung Mat Jebug, sesuai dengan nama suami Bu Djamiah. Kenapa ada Jebug di belakang namanya, ternyata Pak Mat dikenal di antara teman-temannya, mempunyai rambut kribo atau Jebug dalam bahasa Malangan. Sejak kepemilikan warung turun ke Pak Djumain, anak dari Bu Djamiah, akhirnya warung nasi ini berubah nama menjadi Djamiah Putra. Hingga kini, Pak Djumain sendiri yang meracik resep rawon dan hidangan lainnya di warung ini. Karena itulah, rasa masakan di warung ini tetap terjaga kelezatan dan kekhasannya. Disini tak hanya menyediakan menu rawon, tapi juga masakan lain berbahan utama daging sapi, seperti kare, sate lidah, babat goreng, dan jeroan. Hati-hati ya bagi yang sedang diet, hehehe…   

Pengunjung bisa membeli rawon untuk dibawa pulang dalam bungkus plastik

Bu Siti mengeluhkan anggapan sebagian masyarakat bahwa harga makanan di warungnya terlalu mahal. Padahal menurutnya harga tersebut masih terbilang wajar, mengingat bahan masakannya yang terdiri dari bahan-bahan pilihan, terutama daging sapinya yang memiliki kualitas terbaik. Untuk sepiring rawon dipatok dua puluh lima ribu. Sedangkan sate lidah dihargai tiga puluh ribu. Kalau menurut saya sendiri, harga makanan di warung nasi Djamiah cukup pantas. Dalam artian, memang tidak semurah warung kebanyakan, tapi harga tersebut sepadan dengan rasa dan kualitas yang kita dapatkan. selain itu juga, Bu Siti percaya bahwa pelanggan setia warung nasi Djamiah tak akan lari hanya karena harga makanan yang sedikit lebih mahal. Buktinya warung ini tetap ramai pembeli, terutama saat hari raya atau liburan. Warung ini menjadi jujugan warga Batu untuk bernostalgia menikmati masakan tempo dulu, baik warga usia lanjut, maupun warga yang tinggal di luar kota Batu di saat mudik.

Seorang ibu mengambil lembaran seratus ribu baru untuk membayar pesanannya

Ada kejadian unik yang terjadi setiap awal bulan di warung nasi Djamiah, yaitu warung ini ramai didatangi pelanggan yang terdiri dari para pensiunan, terutama ibu-ibu. Mereka ada yang menikmati makanan di tempat, namun banyak juga yang membeli untuk dibawa pulang. Usut punya usut, ternyata tepat di seberang jalan dimana warung berada, terdapat Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), yaitu Bank tempat para pensiunan mengambil uang tunjangan setiap awal bulan. Ternyata menikmati masakan warung nasi Djamiah menjadi salah satu bentuk perayaan bagi para pensiunan setelah mengambil uang pensiun. Berbarengan dengan saya saat membayar, seorang ibu baru saja memesan rawon dalam kantong plastik besar seharga tujuh puluh ribu untuk di bawa pulang. Si ibu mengeluarkan uang seratus ribu baru dan licin dari dompetnya. Sementara itu dua orang ibu lainnya nampak asyik membaca menu makanan di salah satu meja. Tiba-tiba timbul rasa bahagia di hati, karena saya menjadi tamu yang paling muda di ruangan ini…

Foto & Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.