READING

Reaksi Para Caleg Mengetahui Hasil Suara Mereka

Reaksi Para Caleg Mengetahui Hasil Suara Mereka

KEDIRI – Sejumlah calon legislatif memiliki ekspresi berbeda saat melihat hasil perolehan suara di tempat pemungutan. Mulai kecewa, bergaya tenang, hingga menggelar pesta syukuran walau tak terpilih menjadi wakil rakyat.

Meski penghitungan atau rekapitulasi hasil pemungutan suara belum selesai, namun sejumlah caleg sudah bisa mengetahui nasib mereka. Jatimplus.ID mewawancarai para caleg yang mengikuti pemilihan suara di Kediri, Tulungagung, serta Blitar, dan mendapati reaksi beragam dari mereka.  

Kecewa

Herlambang Novian Efendi tak bisa menyembunyikan kekecewaan saat mendapati perolehan suaranya kecil di sejumlah TPS. Bahkan angka yang didapat jauh dari yang diperkirakan sebelumnya. “Ajur mas, morat marit,” katanya saat dihubungi Jatimplus.ID.

Politisi yang biasa disapa Songler oleh rekan-rekannya ini maju dari Partai Nasional Demokrat sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Tulungagung. Sebelum nyaleg, Songler adalah wartawan harian media cetak di Jawa Timur.

Sikap ini kontras ketika dia mengikuti kontestasi pemilihan legislatif beberapa waktu lalu. Dengan jargon “2019 ganti nom-noman”, Songler membidik suara milenial sebagai pemilihnya. Karena itu dia telah menyiapkan banyak program yang menyasar anak muda di daerah pemilihannya.

Termasuk membiayai pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah melalui pengasapan (fogging). Meski tak menyesali yang sudah dilakukan, Songler sempat mengaku menghabiskan uang tak sedikit untuk program itu. Tema demam berdarah dipilih sebagai alat kampanye lantaran merebaknya wabah tersebut saat proses pencalegan berlangsung.

Songler juga tak mengaku punya hutang. Seluruh biaya pencalonannya merupakan hasil menjual tanah. Dia mengklaim hanya menghabiskan biaya di bawah Rp 300 juta dalam pemilu kemarin.

baca juga: Benarkah Ruqyah Bisa Sembuhkan Caleg Stres

Dengan hasil ini, Songler yang baru pertama kali nyaleg akan kembali menekuni profesinya sebagai wartawan. Dia juga beruntung masih memiliki usaha warung kopi yang bisa menopang sumber ekonominya sehari-hari.

(Bergaya) Tenang

Hendi Budi Yuantoro adalah caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sama dengan Songler, Hendi adalah pekerja media yang menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Blitar.

Dengan nada cengengesan, Hendi yang dikenal humoris menerima telepon Jatimplus.ID dengan santai. Meski mengaku dag dig dug dengan hasil penghitungan seluruhnya, Hendi optimis bisa mengejar perolehan suara untuk duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Blitar.

“Penghitungan suara belum masuk semua. Tapi PDIP kan memperoleh banyak suara. Semoga saja saya bisa masuk,” katanya tertawa.

Ketenangan Hendi ini bisa jadi dipengaruhi oleh pengalamannya yang pernah gagal dalam pemilihan legislatif lima tahun lalu. Dan dunia politik adalah hal yang disukainya sejak dulu. Hendi bahkan telah menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya demi memuaskan hasrat politiknya.

Kalah menang adalah hal biasa. Namun bertarung di kancah politik menjadi kepuasan tersendiri bagi Hendi. Karena itu dia mengaku siap menerima hasil apapun dalam perhitungan manual mendatang.

Sikap yang sama ditunjukkan caleg dari Partai Demokrat Setyohadi. Caleg DPRD Kota Kediri ini tak terlihat tegang saat ditanya perolehan suaranya. Wakil Ketua Bidang Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Kota Kediri ini hanya menyebut fifty-fifty ketika ditanya peluangnya duduk di kursi DPRD. “Semoga makin bagus perolehannya nanti,” katanya.

Menggelar Syukuran

Dari berbagai reaksi tersebut, Nowo Doso adalah caleg yang memiliki reaksi ajaib. Meski sudah mengetahui jumlah pemilihnya sedikit, tak ada kesedihan sama sekali darinya. Bahkan yang lebih ekstrim, Nowo akan menggelar syukuran dan memberangkatkan tetangganya ziarah wali. “Termasuk tetangga yang tak memilih saya,” katanya.

Tak tanggung-tanggung, caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa yang maju untuk DPRD Kota Kediri ini akan menyembelih dua ekor kambing. Seluruh kerabat dan tetangga akan diundang dalam pesta syukuran tersebut, tanpa melihat sikap politik mereka dalam pemilu kemarin.

Dalam waktu dekat Nowo juga akan menyewa bus untuk memberangkatkan tetangganya dalam wisata ziarah wali. Terutama para relawan dan teman yang telah membantunya dalam proses pencalegan kemarin. Hal ini sebagai bentuk syukur atas rampungnya proses politik dengan tenang dan damai.

Saat disinggung jumlah suara yang diperolehnya, Nowo justru tertawa. Menurut dia hasil suaranya jauh dari memenuhi batas aman untuk duduk sebagai wakil rakyat. Dan hal ini sudah dia sadari sejak pertama kali mencalonkan diri.

Nowo memang bukan seorang politisi atau pengusaha. Dia adalah pemilik warung kopi di trotoar kawasan Stasiun Kediri yang dikelola bersama istrinya. Warung kaki lima semi terbuka itu adalah satu-satunya lahan yang dia tempati setelah kiosnya tergusur beberapa tahun lalu.

Nowo menerima tawaran menjadi caleg setelah mendapat mandat dari orang yang dihormatinya di partai dan organisasi Nahdlatul Ulama. Ketaatan Nowo pada kiai memang tinggi. Karenanya begitu gagal, Nowo tak kecewa. Dia menganggapnya sebagai amanah yang telah dijalankan dengan baik. Segala upaya sudah dilakukan. “Apapun hasilnya, keputusan ada pada Allah. Ikhlas saja,” katanya sambil menyeduh kopi di warung kecilnya. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.