READING

Review Film Gundala : Saya Malu Jadi Orang Indones...

Review Film Gundala : Saya Malu Jadi Orang Indonesia

Celetukan diatas sukses membikin seisi gedung bioskop pecah oleh tawa. Adalah Pak Agung (Pritt Timothy) petugas keamanan rekan Sancaka (Abimana Aryasatya) yang melontarkan kata-kata tersebut, saat melihat Sancaka menggunakan antena bekas sebagai elemen dari topeng Gundala-nya, sebelum ia ganti dengan pecahan logam dari papan nama perusahaan surat kabar tempat ia bekerja. Kita yang terbiasa melihat superhero dari jagat sinematik Marvel maupun DC (Detective Comics) dengan berbagai gadget dan kostum modern-nya, tentu juga bakal mentertawakan kostum awal dari Gundala yang cupu abis itu. Tapi filmnya asyik kok. Ada aksi baku hantam, drama menyentuh, dan sedikit humor. Walau masih ada beberapa kekurangan di sana-sini, Gundala yang diadaptasi dari komik Harya Suraminata (Hasmi) ini pantas menjadi film pembuka dari BumiLangit Cinematic Universe (BCU) yang menaungi banyak jagoan lokal Indonesia seperti Gundala, Godam, Sri Asih, Aquanus, Maza, dan Merpati. Buktinya penonton cukup terhibur dan penasaran dengan proyek besar film-film BCU selanjutnya.

Saya teringat sebuah cerita menarik. Alkisah ada dua anak kembar yang mempunyai ayah brengsek, pengangguran, gemarnya mabuk-mabukan, dan menyakiti ibu mereka. 20 tahun kemudian, kedua anak kembar itu dipertemukan lagi dalam sebuah acara reality show. Keduanya terlihat dalam kondisi yang sangat jomplang. Salah satu dari mereka hidup sangat sukses, kaya, dan bahagia. Sedangkan saudara kembarnya persis nasibnya dengan bapak mereka, yaitu pengangguran, suka mabuk-mabukan, dan menyakiti perempuan. Ketika mereka ditanyai pembawa acara, kenapa kok hidup mereka ketika dewasa begitu berbeda satu sama lain? Uniknya, jawaban mereka ternyata sama.

“Ayah kami kaya gitu, mau gimana lagi?”

Film Gundala (2019) karya Joko Anwar (Pengabdi Setan, Pintu Terlarang, Modus Anomali) adalah juga tentang pilihan-pilihan hidup dalam menyikapi masa lalu yang kelam. Kita dikenalkan oleh origin story dua tokoh utama yang saling berlawanan di film ini, yaitu Sancaka dan Pengkor. Keduanya mempunyai masa kecil yang Nauzubillah min zalik, berat luar biasa. Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) ditinggal mati ayahnya (Rio Dewanto) karena tewas ditusuk di tempat kerja, akibat menjadi penggerak demo buruh melawan pemilik perusahaan. Tak lama kemudian, sang ibu (Marissa Anita) turut pula meninggalkannya, setelah berpamitan ke luar kota untuk mencari pekerjaan namun tak pernah kembali. Sancaka kecil akhirnya harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup.

Sebagai penonton, saya cukup capek melihat Sancaka kecil bolak-balik lari kesana-kemari dikejar preman. Untunglah datang dewa penolong bernama Awang (Faris Fadjar Munggaran) yang mengajari Sancaka ilmu bela diri. Namun sayangnya perjumpaan mereka hanya sekejab. Awang yang ketika dewasa kelak akan menjelma menjadi Godam ini, pergi bersama kereta yang melintas setahun sekali di kota mereka, dengan meninggalkan kata-kata wasiat kepada Sancaka, “Jangan suka mencampuri urusan orang lain kalau mau dirimu selamat.” Namun kita semua tahu, kata-kata itu tidak dituruti oleh Sancaka. Ia justru berbuat sebaliknya atas nama keadilan, yaitu menjadi patriot pembela rakyat kecil.

Nasib Pengkor kecil setali tiga uang dengan Sancaka. Ayahnya yang seorang tuan tanah difitnah oleh bawahannya, kemudian rumah beserta isinya dibakar habis oleh penduduk desa. Bahkan tubuh Pengkor sebagian menjadi cacat karena mengalami luka bakar. Pengkor lalu menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan. Di tempat itulah, “bakat jahatnya” terfasilitasi. Akibat sering mengalami perlakuan kasar dari pengurus panti, Pengkor mengorganisir teman-teman senasib untuk memberontak dan membunuh para pengurus panti dengan cara yang sadis. Keduanya punya starting point yang sama, yaitu masa lalu yang kelam, namun jalan hidup yang berbeda membuat mereka harus berhadap-hadapan di penghujung cerita. Pengkor (Bront Palarae) saat dewasa menjelma menjadi mafia kejam yang bisa membuat ciut nyali anggota dewan yang terhormat hanya dengan kata-katanya.

Joko Anwar seperti biasa, selalu ingin terlihat cerdas dan kritis di film-filmnya. Dalam Gundala, ia mengangkat isu bobroknya mental wakil rakyat di pemerintahan yang bersinggungan dengan maraknya kekerasan dan penindasan di tengah masyarakat. Karena itulah masyarakat butuh patriot, tokoh panutan seperti Gundala. Penonton dimanjakan dengan visual mumpuni, berkat sinematografi langganan Joko, Ical Tanjung (Pengabdi Setan, Ave Mariam). Nuansa creepy khas Joko juga kerap menyeruak di beberapa adegan, misal saat anak buah Pengkor, Swara Batin (Cecep Arif Rahman) muncul dengan topeng di belakang kepalanya, atau saat Ghalam Zulham / Ghazul (Ario Bimo), musuh abadi Gundala, sedang menggali kubur dari kepala tanpa jasad Ki Wilawuk, tokoh antagonis dari masa lalu yang nantinya akan menguak rahasia asal kekuatan petir dari Gundala. Cerita juga mengalir lancar, pembangunan karakter Sancaka dan Pengkor menarik untuk diikuti, sampai saat Wulan (Tara Basro) tiba-tiba muncul butuh bantuan Sancaka untuk menghajar para preman pasar. Film mulai terlihat penuh sesak, maunya banyak. Tapi masih okelah, walaupun kelahinya ya gitu-gitu aja, repetitif sambil kadang diselingi kilatan petir yang keluar dari tangan Sancaka (tapi siapa sih yang sanggup menolak pesona Tara Basro setiap ia tampil di layar?).

Namun menginjak babak ketiga, Joko seperti takut film kehabisan durasi, akhirnya semua amunisi cerita ia tumpahkan di sepertiga akhir film. Joko seperti berusaha terlalu keras untuk terlihat keren. Ceritanya Pengkor menciptakan serum racun yang sengaja disuntikkan ke dalam beras yang didistribusikan ke rakyat agar nantinya ibu hamil yang mengkonsumsi beras itu akan melahirkan anak yang tidak bermoral (?) Lalu Gundala, eh Sancaka pun berusaha menghentikan niat jahat itu. Menariknya, untuk melawan Sancaka, Pengkor mengerahkan anak didiknya dari panti asuhan yang mempunyai profesi dan keahlian membunuh yang berbeda-beda. Ini seperti panggilan ala film Mission Imposible tapi anggotanya kriminal semua. Sayangnya mereka beraninya main kroyokan dan kalahnya juga cepat. Kenapa sih ga dicicil aja keluarnya, Mas Joko, biar mereka bisa tampil maksimal dengan keunikan masing-masing?

Koreografi fighting-nya juga nanggung, terlalu hati-hati. Terlebih saat adegan perkelahian antara Gundala dan Swara Batin yang diperanin oleh Cecep Arif Rahman. Mungkin Kang Cecep takut kena betulan ya? Untungnya kehadiran salah satu karakter jagoan dari BCU di akhir film menyuntikkan kembali gairah penonton untuk bersorak-sorai. Petunjuknya adalah : Dia perempuan, titisan Dewi Sri, bisa terbang, dan punya kekuatan 250 tenaga pria. Hebohnya persis seperti di film “Batman V Superman” saat Gal Gadot muncul tiba-tiba di tengah gelanggang dengan kostum Wonder Woman-nya. Lepas dari segala kekurangan yang ada, film Gundala ini adalah awal dari era film superhero Indonesia yang digarap secara serius dalam satu jagat sinema atau universe. Tak sabar rasanya menunggu jagoan-jagoan Bumi Langit lainnya tampil di filmnya masing-masing! Oiya, jangan pulang dulu ya setelah end credit tampil di layar bioskop, karena ada cuplikan yang cukup bikin bangga dari jagoan kita ini yang ternyata juga bisa tampil keren…

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.