READING

Review Film Joker : Film Horor Bagi Wakil Rakyat

Review Film Joker : Film Horor Bagi Wakil Rakyat

Seorang seniman pernah berkata, “karya seni dianggap berhasil kalau sepulang dari melihatnya, kamu masih ingat karya itu. Tidur pun bermimpi tentangnya. Bahkan keesokan harinya, saat buang hajat di WC, karya itu belum juga hilang dari ingatanmu. Intinya, karya seni yang berhasil adalah karya yang terus-menerus mengganggumu.” Bagi saya, film Joker (2019) yang baru saya tonton, punya kualitas yang mengganggu itu. Bagaimana kegilaan yang terkondisi oleh masyarakat dan negara yang abai, menjadi katalis terciptanya ikon yang menggerakkan people power melawan kemapanan. Seperti juga di Gundala (2019) karya Joko Anwar, film Joker ini related dengan kondisi saat ini. Sampai saat saya menulis review ini, saya masih merinding. Dan saya membayangkan, seandainya saya menjadi salah satu wakil rakyat yang baru saja dilantik di gedung DPR tanggal 1 Oktober kemarin, tentu rasa takut itu akan berlipat ganda…

Film Joker besutan Todd Phillips, sutradara yang namanya besar berkat film-film komedi macam trilogi Hangover, Old School, dan Road Trip ini, adalah adaptasi bebas dari cerita origin sang pangeran kejahatan Kota Gotham. Inspirasinya sih dari “The Killing Joke” katanya, adult graphic novel karya Alan Moore dan Brian Bolland. Di Killing Joke, asal muasal tokoh villain ini dulunya adalah seorang penghibur yang gagal, persis yang terjadi dengan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) yang berjuang mewujudkan cita-citanya sejak kecil untuk menjadi penghibur. Arthur percaya kata-kata ibunya, bahwa ia dilahirkan ke dunia untuk memberi tawa dan kebahagiaan. Bahkan ibunya memanggilnya dengan panggilan sayang “Happy”.

Namun ternyata kenyataan tak seindah yang ia bayangkan. Arthur justru sering mengalami kegetiran dalam hidupnya. Sejak awal film, penonton disuguhi rutinitas yang dilakukan oleh Arthur, yaitu bekerja sebagai badut dan merawat ibunya yang sakit-sakitan sambil sesekali menonton talkshow kegemaran mereka berdua di televisi yang dibawakan oleh Murray Franklin (Robert De Niro). Ibunya juga sering bertanya kepada Arthur mengenai kabar surat-surat yang ia kirim ke Thomas Wayne (Brett Cullen), mantan bosnya yang kini sedang mencalonkan diri menjadi walikota Gotham. Ibu Arthur percaya, bahwa Thomas akan membantu mereka keluar dari jurang kemiskinan, walaupun surat balasan itu tak kunjung datang.

Arthur juga rutin berjumpa dengan dokter jiwa tempat ia berkeluh-kesah. Ia punya penyakit jiwa serius. Selain mengalami delusi, setiap emosinya terganggu, mendadak Arthur bisa tertawa terbahak-bahak, meski tak ada yang lucu di depannya. Ia menderita gangguan emosi pseudobulbar, yaitu ketidakmampuan mengontrol tawa atau tangis. Bahkan Arthur selalu membawa kartu kecil bertuliskan keterangan penyakitnya kemana pun ia pergi, supaya orang lain mahfum apabila tiba-tiba dia tertawa ngakak. Namun tetap saja orang-orang menganggapnya aneh. Puncaknya adalah saat Arthur baru saja di PHK perusahaan tempat ia bekerja sebagai badut, karena ketauhan membawa pistol saat bekerja. Di dalam kereta menuju rumahnya, ia melihat tiga orang pria kantoran berbaju necis mengganggu seorang penumpang wanita. Si wanita berusaha memberi isyarat meminta tolong ke Arthur. Tapi anda tahu apa yang dilakukan Arthur? Yup, benar. Dia malah tertawa. Akibatnya, Arthur yang masih memakai riasan badut, dihajar habis-habisan oleh tiga pria tersebut.

Arthur yang biasanya hanya diam, ternyata melawan. Dengan pistol ditangannya, ia menghabisi ketiganya. Apa yang dilakukan Arthur ternyata menyulut api dukungan dari masyarakat pinggiran, mendapuknya sebagai idola dalam melawan ketimpangan sosial antara kaya dan miskin di kota Gotham. Sejak saat itu, dimana-mana timbul gelombang protes dan tindakan anarkis oleh orang-orang bertopeng badut. Dalam diri Arthur sendiri juga mulai timbul kepercayaan diri. Akhirnya Joker pun lahir di dunia penuh amuk. Nama Joker merupakan titular yang Arthur ciptakan, sebelum tampil di talkshow-nya Murray Franklin, tokoh pujaannya. Sedari awal ia sadar, ia diundang Murray bukan untuk berbagi tawa, melainkan untuk mentertawakan dirinya. Kejutan pun terjadi, dan di acara itu pulalah, Joker dilahirkan oleh seorang ibu bernama ketidakpedulian. Ia pun sadar, hidupnya ternyata bukanlah tragedi, melainkan komedi.

Joaquin Phoenix pemeran Joker. Foto : Empire

Joker termasuk film slow-burn, tak seperti kebanyakan film superhero yang banyak aksi. Alurnya bergerak lambat menelusuri perkembangan karakter Arthur Fleck dari awal hingga mengguncang jiwa saat tiba di akhir. Penonton diajak untuk mempelajari karakter Arthur, mengapa dia bisa seperti itu dan apa akibatnya kalau dia menjadi seperti itu. Warna-warna suram menghiasi film yang berdurasi dua jam ini. Todd Phillips menjawab banyak keraguan orang tentang apakah bisa sutradara film komedi macam dia mampu menggarap film “berat” seperti Joker ini. dan jawaban sahihnya adalah delapan menit standing ovation dari para penonton yang memenuhi gelaran Venice Film Festival tempo hari. Ada duo maestro yang menginspirasi Todd dalam menggarap film ini, yaitu Robert De Niro dan Martin Scorsese. Pengaruh keduanya di film Taxi Driver (1976), Raging Bull (1980), dan The King of Comedy (1983) kental sekali terlihat di film Joker.  

Akhirnya pujian terbesar pantas dialamatkan ke Joaquin Phoenix, sang one man show di film Joker. Saya mengenal aktor ini pertama kali di film To Die For (1995). Gerak-geriknya canggung, tampangnya aneh, dan menyedihkan. Itu terbukti dengan film-film yang ia bintangi, kebanyakan Joaquin berperan sebagai “orang aneh”. Sebut saja di film The Master (2012), Her (2013), ataupun Inherent Vice (2014). Di Film Joker, saya bisa melihat ketawa seorang Joker dengan tingkatan emosi yang berbeda-beda. Dan baru di film ini, saya menonton orang tertawa tapi hati saya menangis. Tawanya sungguh tawa seorang yang “sakit”. Sukar untuk saya deskripsikan. Entah andai bukan Joaquin yang berperan sebagai Joker, apakah akan mencapai level sakit yang sama.

Kukasih Oscar deh untukmu, Jok, eh Jo.

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.