READING

Review Film : The Virgin Suicides (1999), Tentang ...

Review Film : The Virgin Suicides (1999), Tentang Ibu Obsesif, Bukan Keperawanan

Pagi sendu dibalut mendung menyapa saya saat membuka laptop untuk memulai kerja. Tiba-tiba timbul niat iseng membuka-buka kembali koleksi film lama saya di tempat penyimpanan keping DVD. Pas banget nih suasananya untuk muter film depresif biar hidup lebih bersemangat.

Kurang kontradiktif gimana coba?

Saya menemukan film debut pertama Sofia Coppola berjudul The Virgin Suicides (1999). Tau kan siapa doski? Yup dia anak dari Francis Ford Coppola, sutradara beken pembuat trilogi Godfather itu. Jadi kalau filmnya oke, justru wajar. Kalau jelek, baru bikin malu. Tapi menariknya, film-film Sofia Coppola ini tak hanya bagus tapi juga unik secara cerita maupun gaya pembuatannya. Lost in Translation (2003), Marie Antoinette (2006), atau Somewhere (2010) adalah contoh beberapa film yang pernah ia buat. Namun pilihan saya pagi ini tetaplah The Virgin Suicides.  

Film dibuka oleh aksi Kirsten Dunst sedang mengulum es lilin di tengah jalan komplek suburban yang nyaman dan damai di Grosse Pointe, Michigan di akhir tahun 70-an. Matahari musim panas menerobos dedaunan dan ricauan burung terdengar di kejauhan, ditingkahi musik pelan membius. Saya sebenarnya sudah curiga dengan bentuk opening seperti ini. Bentuk opening “baik-baik saja” yang menipu, karena biasanya hanya sesaat, yang kemudian berganti wajah dengan cepat.

Benar saja.

Belum juga kesan damai itu hilang, penonton langsung disuguhi adegan miris setelahnya, seorang gadis belia yang tenggelam di bak mandi dengan urat nadi teriris pisau. Darah berceceran saat petugas rumah sakit menggotong si gadis keluar dari bak dan membawanya ke ambulan, diikuti tatapan para tetangga yang berkerumun di depan rumahnya. Gadis itu bernama Cecilia (Hanna R Hall), si bungsu dari lima anak perempuan pasangan Ronald Lisbon (James Woods), seorang guru matematika, dan Sara Lisbon (Kathleen Turner). Sedangkan Kirsten Dunst yang tampil diawal, memerankan Lux, kakak dari Cecilia. Tiga lainnya adalah Bonnie (Chelse Swain), Therese (Leslie Hayman), dan Mary (A. J. Cook).

Kelima gadis berusia 13 hingga 17 tahun itu cantik-cantik tanpa cela, hingga jadi bahan ghibah para pemuda teman sekolah mereka. Di antara para pemuda itu terdapat empat sekawan yang nantinya setia mengiringi cerita film ini hingga akhir. Tampilan luar yang sempurna dari Lisbon Girl ternyata menyimpan masalah. Salah satunya langsung disuguhkan di awal, yaitu percobaan bunuh diri yang dilakukan si bungsu Cecilia. Musababnya karena pasangan Lisbon memperlakukan kelima anak gadisnya terlalu protektif, hingga membuat Cecilia depresi. Tak salah sih sebenarnya. Punya anak perawan bening-bening seperti itu, memang pantas lebih waspada, karena godaan pasti akan lebih banyak datang menghampiri mereka.

Hmm, jadi sebenarnya kecantikan itu anugerah atau kutukan sih?

Atas saran seorang psikiater, Dr. E. M. Horniker (Danny DeVito), akhirnya keluarga Lisbon mau membuka diri demi agar anak-anaknya tidak kuper dan bisa hidup normal. Caranya adalah dengan mengadakan coctail party dengan mengundang teman sekolah anak-anak mereka. Awalnya, acara berlangsung semarak dan penuh tawa gembira. Diiringi “A Dream Goes on Forever” dari Todd Rundgren, Lisbon Girls seperti baru saja keluar dari bunker akhir dunia yang diciptakan oleh kedua orang tuanya. Namun tragedi hanyalah sekedar mengulur waktu untuk menunjukkan muka bengisnya. Cecilia toh akhirnya berhasil juga mengakhiri hidupnya, justru di tengah-tengah pesta untuknya. Ia menerjunkan diri dari jendela kamar loteng. Tubuh mungilnya pun menancap di ujung-ujung lancip besi pagar rumah.

Lux (Kirsten Dunst) berpacaran dengan Trip Fountaine (Josh Harnett) hingga diluar batas. Foto : Istimewa.

Tewasnya Cecilia meninggalkan luka mendalam di masing-masing individu yang bersinggungan dengannya. Tiap orang lantas mempunyai caranya sendiri untuk “berdamai” dengan tragedi tersebut. Sang ayah memilih tenggelam dalam dunia mengajarnya. Sementara si ibu semakin percaya bahwa tindakannya untuk melindungi anak-anak perawannya dari dunia luar adalah benar. Namun semakin ditahan, jiwa yang terkekang suatu saat pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk bebas. Hal itu terjadi dengan Lux. Dia yang dasarnya memang rebel dan liar akhirnya makin menjadi setelah Cecilia tiada. Terlebih setelah dia berpacaran dengan Trip Fontaine (Josh Hartnett), si playboy sekolah.

Puncaknya adalah saat Lux pulang pagi sehabis prom night. Sang ibu marah besar karena merasa dikhianati kepercayaannya. Keempat anak perawan yang tersisa dari keluarga Lisbon, kemudian dihukum tidak boleh keluar rumah, bahkan untuk sekolah pun tidak. Mereka hanya boleh keluar untuk ke gereja saja. Semua yang menurut si ibu berpengaruh buruk bagi anaknya turut dilenyapkan dari rumah, termasuk koleksi vinyl musik-musik kegemaran mereka. Lux, Bonnie, Therese, dan Mary benar-benar dipisahkan dari dunia luar oleh ibunya. Satu-satunya akses keluar adalah lewat telepon. Dengan alat itu pulalah para gadis masih bisa “berkomunikasi” lewat lagu dengan empat sekawan teman mereka. Hello It’s Me (Todd Rundgren), Alone Again (Gilbert O’Sullivan), So Far Away (Carole King), dan Run To Me (Bee Gees) mengalir syahdu menjadi tik-tok indah di antara dua dunia yang terpisah.

Lisbon Girls “berkomunikasi” dengan dunia luar lewat lagu. Foto : Istimewa.

Menonton The Virgin Suicides memantik realita menggelitik di pikiran saya, yaitu tentang penjara bernama cinta. Orang tua yang terlalu obsesif terhadap anaknya, entah itu agar anaknya berprestasi atau terlindungi hidupnya, pasti ketika ditanya alasannya akan menjawab semua itu karena cinta. Tapi sebenarnya cinta untuk siapa? Untuk anaknya atau untuk diri si orang tua sendiri? Akhir dari film ini tidak saya ceritakan supaya tidak spoiler bagi yang belum menontonnya, namun sebenarnya judul film ini sudah menjelaskan dengan gamblang endingnya. Saya jadi teringat syair indah Khalil Gibran :

“Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang hidup, yang rindu akan dirinya sendiri…”  

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.