READING

Ribuan Massa Baju Hitam di Malang Teriakkan Reform...

Ribuan Massa Baju Hitam di Malang Teriakkan Reformasi Dikorupsi

Tagar Gejayan Memanggil yang mengajak seluruh mahasiswa se Indonesia menggelar aksi serentak pada Senin (23/9), disambut aktivis dan masyarakat Malang Raya.

MALANG- Bukan hanya menolak revisi UU KPK yang mengebiri kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Rancangan KUHP yang mengancam kehidupan masyarakat sipil.

Di depan Kantor DPRD Kota Malang, ribuan massa berpakaian hitam hitam itu juga menuntut pemerintah untuk menuntaskan kriminalisasi yang menimpa warga Papua.

BPJS yang semakin melambung dan mencekik rakyat, serta kasus kebakaran hutan di Kalimantan dan Riau yang tidak kunjung selesai, juga ikut dipertanyakan.  

Gerakan massa dengan pita merah putih terikat di kepala itu menamakan diri Front Rakyat Melawan Oligarki (FRMO). “Kami menuntut revisi UU KPK dan Rancangan KUHP untuk dibatalkan, “tegas Kevin Al Firdaus perwakilan aksi FRMO dari unsur Mahasiswa Senin (23/9).

Kehadiran massa tumpah ruah di kawasan bundaran Tugu, depan Kantor DPRD Kota Malang. Ruas jalan berubah menjadi mimbar bebas. Dengan tangan kiri terkepal, orasi perlawanan disuarakan. Kami, kata Kevin tidak bisa tinggal diam melihat kesewenang wenangan.

Massa rakyat dan mahasiswa sudah waktunya untuk kembali turun ke jalan melawan oligarki kekuasaan. “Kami menganggap pemerintah dan legislatif  telah gagal mengurus negara, “cetusnya.

Simbol Duka dan Tanggalnya Atribut Mahasiswa

Ribuan tangan kiri terkepal dan teracung di udara. Lagu “Pembebasan” berkumandang. Sebuah lagu era Reformasi 98 ciptaan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Safi’i Kemamang yang dipopulerkan band Marginal.

Setiap bibir para pendemo bergerak gerak melantunkan liriknya. Sama dengan lagu Darah Juang. Tembang perlawanan buruh, tani, mahasiswa dan kaum miskin kota terhadap tirani orde baru itu dihafal diluar kepala.

Menurut Kevin, massa aksi memang sengaja berpakaian serba hitam. Warna hitam sebagai simbol duka cita atas matinya nurani pemerintah, legislatif dan semangat reformasi.

Hitam juga dianggap sebagai netralitas. Karenanya tidak hanya mahasiswa yang turun ke jalan. Aksi bersama itu juga melibatkan banyak masyarakat dan aktifis NGO.  “Seperti yang dari kemarin-kemarin kita gaungkan yaitu #reformasidikorupsi hingga #revolusibutuhrevolusi, ”ungkapnya.

Dalam aksi terbesar dan serentak sepanjang pemerintah Jokowi itu juga tidak terlihat atribut atau bendera organisasi mahasiswa.Yang berkibar hanya sang saka merah putih.

Terkait itu Kevin mengatakan mahasiswa telah melebur menjadi satu, dan bendera organisasi mahasiwa tidak lagi dibutuhkan. “Yang kami bawa hanya bendera merah putih. Dan kami juga melebur bersama masyarakat yang sama sama resah. Ini murni suara dari rakyat, “paparnya.

Dalam kesempatan itu Kevin juga menambahkan, aksi yang digelar juga bentuk solidaritas kepada sesama aktivis yang berunjuk rasa di Jakarta. Massa akan terus mengobarkan perlawanan terhadap kebijakan negara yang mencederai rakyat.

“Kita dukung kawan-kawan di Jakarta yang kini juga berjuang dan terus berupaya mendesakkan judicial review, ”kata Kevin. Sementara dari pantauan di lapangan, tidak sedikit dosen yang ikut turun ke jalan.

Meski tidak berorasi, kehadiran para pengajar kampus diantara ribuan massa aksi dianggap memompa semangat mahasiswa.

Namun kendati demikian, beredarnya informasi bahwa dengan adanya aksi massa kampus di Malang meliburkan kegiatan belajar mahasiswa, telah dibantah.

Di kampus Universitas Negeri Malang (UM), misalnya. Kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. “Sejauh ini info yang saya terima (UM diliburkan) itu tidak benar, ”ujar Kasubag Humas UM Ifa Nursanti.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.