READING

Ribuan Santri Lirboyo Sholat Ghaib Untuk Mbah Moen

Ribuan Santri Lirboyo Sholat Ghaib Untuk Mbah Moen

KEDIRI – Wafatnya Kiai Haji Maimoen Zubair di tanah suci mengundang kesedihan umat Islam. Tak terkecuali ribuan santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, tempat Mbah Moen pernah mondok.

Sesaat setelah mendengar kabar meninggalnya Mbah Moen di tanah suci, pengurus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri langsung mengajak para santri melaksanakan sholat Ghaib. “Kemarin santri langsung melaksanakan sholat Ghaib,” kata Kiai Haji Abdul Muid, pengasuh Ponpes Lirboyo kepada Jatimplus.ID, Rabu 7 Agustus 2019.

Di kalangan Pondok Pesantren Lirboyo, sosok Mbah Moen bukanlah orang lain. Mengutip dari laman lirboyo.net, Maimoen bin Zubair bin Dahlan bin Warijo, pernah tercatat sebagai santri di bawah bimbingan Kiai Haji Abdul Karim, Kiai Haji Marzuqi Dahlan, dan Kiai Haji Mahrus Aly.

baca juga: Tanda Kasih Umat Katolik Mojokerto Untuk Mbah Moen

Kisah yang berkembang dari para pengajar, Mbah Moen dikenal rajin bertirakat seperti menyedikitkan makan dan tidur selama lima tahun mondok di Lirboyo. Karena itu kabar wafatnya Mbah Moen mengundang duka seluruh santri dan menggelar sholat Ghaib bersama.

baca juga: Klub Legendaris Persik Gaet GoPay Jadi Sponsor

Shalat Ghaib adalah ibadah yang tak bisa dilakukan sekehendak hati kita. Berbeda dengan sholat tajahud atau sholat hajat yang bisa dilakukan saat kita memiliki dorongan untuk melakukannya.

Shalat Ghaib hanya bisa dilakukan dalam waktu khusus, yakni jika ada keluarga atau saudara sesama Muslim yang meninggal dunia jauh dari tempat kita. Baik meninggal akibat suatu bencana, kecelakaan, ataupun penyakit yang menimbulkan kematian. Berbeda dengan sholat jenasah, ibadah sholat Ghaib bisa dilaksanakan meski waktu kematiannya sudah lewat.

baca juga: Trik Jitu Berbisnis Sengon Ala Jokowi

Hukum sholat Ghaib, menurut laman NU.or.id, adalah sah sebagaimana shalat jenazah atau shalat mayit. Begitupula dengan bacaan dan cara yang sama persis dengan shalat jenazah, yakni terdiri atas empat takbir tanpa rukuk dan sujud.

Diawali dengan niat shalat Ghaib dan Takbiratul Ihram, selanjutnya membaca surat Alfatihah. Kemudian takbir kedua membaca shalawat pendek “allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad”. Lalu mendoakan mayit setelah takbir ketiga dengan bacaan “Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa ‘afihi wa’fu anhu” (Ya Allah ampuniah dia, berilah dia rahmat dan sejahterakan serta maafkanlah dia).

Terakhir, setelah rakaat keempat disunnahkan membaca do’a sebelum salam. Bunyinya “Allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna ba’dahu waghfirlana walahu” (Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya yang akan sampai kepada kami, dan jangan Engkau memberi fitah kepada kami sepeninggalnya serta ampunilah kami dan dia).

Penulis : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.