READING

Rilis Video Klip Terbaru, Ini Gaya Kritik Sosial B...

Rilis Video Klip Terbaru, Ini Gaya Kritik Sosial Band Tani Maju Malang

Sejak lahir pada medio 1999, grup band Tani Maju asal Kota Malang konsisten dengan lirik lagu yang sarat tema pendidikan, politik, kritik sosial, dan nasionalisme. Semua disajikan dengan video klip yang jenaka.

Sepintas terlihat lucu. Di atas panggung dengan cahaya lampu sorot yang jatuh di tengah, para lelaki bertelanjang dada, berkerumun menyatu. Ada adegan dua lelaki yang saling mencekik. Ada lelaki gendut yang mengacung acungkan jari dengan gaya jumawa. Sementara laki-laki kerempeng menghiba diujung kakinya.   

Video klip album keempat yang bertajuk “Beda Topi Miring Bersama” itu dikemas dengan sentuhan teatrikal. Walaupun disuguhkan secara jenaka, lagu Bukan Bisnis sejatinya sebuah kritik pedas.

“Dasar Kau Materialistis, segalanya kau buat bisnis. Dasar kau mata duitan, segalanya kau lakukan”. Begitulah penggalan liriknya. Suara yang terdengar bernada semi koor seriosa. Direpetisi. Diserukan dengan gaya merintih, menyayat seakan sedang berduka.

“Lagu ini merupakan salah satu tema alternatif dari album Beda Topi Miring Bersama,“ kata Leo Zainy salah satu pentolan band Tani Maju. Lagu Bukan Bisnis ibarat palu yang memukul. Tidak hanya melulu bicara pendidikan.

Fenomena ketimpangan politik yang menyertai di dalamnya juga dihantam. “Dasar kau tukang bohong, semua omong kosong”. Dengan kata-kata sarkas semua yang merugikan rakyat digebuki. Dinyinyiri. Tanpa kecuali.

Menurut Leo, ide lagu Bukan Bisnis berangkat dari situasi pendidikan yang memprihatinkan. Para seniman Tani Maju melihat kekuasaan telah dimonopoli. Para oknum begitu gampangnya mempermainkan. Tangan kekuasaan digerakkan untuk kepentingan segelintir orang.

Dan praktik busuk itu telah mengoyak moral bangsa. Termasuk munculnya anggapan bahwa semua bisa dibisniskan. Semua itu disarikan dengan penggalan lirik: “Jual beli kesempatan moral bangsa berantakan”.

“Bayang-bayang kritik sosial itulah yang menjadi inspirasi munculnya ide Bukan Bisnis ini,“ terang Leo yang berprofesi sebagai dosen ini. Secara historis, personel band tani Maju rata-rata jebolan kampus pendidikan di Kota Malang.

Tak heran isu pendidikan selalu mendapat tempat khusus. Terutama kepada pendidikan yang telah dikapitalisasi, dibisniskan. Sekolah mahal. Kebijakan negara yang tidak berpihak kepada mereka yang papa, hingga anggapan orang miskin dilarang sekolah menjadi instrumen yang selalu menjadi sorotan.   

Fenomena yang terjadi menurut Leo tidak relevan dengan paradigma yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. “Pendidikan kok dibisniskan. Pendidikan bukanlah bisnis,” ungkap personel band yang terkenal dengan lagunya yang berjudul Kastol ini.

Adapun video klip terbaru ini berasal dari ide kreatif kelompok seniman yang tergabung dalam Kancing Studio, Bungker, dan bantuan dari UKM seni di Kampus Universitas Negeri Malang (UM).

Dengan cara kreatif, lirik lagu divisualkan ke dalam fragmen ekspresi dan ungkapan yang bermacam-macam. Walhasil sambutan hangat pun mengalir deras. Terutama dari fans band Tani Maju yang menyebut diri sebagai Jogeder Indonesia.

 “Tani Maju selalu memiliki dukungan banyak dari kawan-kawan mahasiswa dan UKM seni yang ada di kampus,” ujar pria yang memegang alat musik ketipung ini. Izzul Mutho salah satu fans band Tani Maju menyambut baik video klip lagu Bukan bisnis.

Sebagai guru di sebuah SMK di Kota Malang dirinya mengaku bisa merasakan apa yang sudah disuarakan. Izzul menaruh harapan besar lagu yang ada bisa mengubah paradigma berfikir siapa saja yang telah mengkapitalisasi pendidikan. “Cukup miris memang melihat pendidikan akhir-akhir ini. Seolah-olah kalau tidak kaya tidak bisa bersekolah,” ujarnya. (Moh. Fikri Zulfikar)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.