READING

Ritual Karo Warga Tengger : Merayakan Hidup Dengan...

Ritual Karo Warga Tengger : Merayakan Hidup Dengan Yang Telah Tiada

Kabut tipis menyelimuti area pemakaman desa Ngadas, kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang pagi ini. Desa berjuluk negeri di atas awan berketinggian 2200 mdpl ini, adalah satu-satunya pintu masuk ke area teritorial Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) dari wilayah Kabupaten Malang. Terlihat di kejauhan dua orang bersarung khas Tengger menaruh sesajen di pusara kerabatnya. Sementara beberapa orang sibuk memasang speaker berukuran besar di pintu masuk makam, dan yang lain sedang mendirikan panggung di sampingnya. Siang nanti, seluruh warga desa akan berkumpul disini untuk merayakan sadranan, yaitu puncak upacara Karo, Lebarannya warga suku Tengger.

Jaran Kencak atau Kuda Joget adalah hiburan yang selalu ada saat ritual Karo diselenggarakan.

Menurut masyarakat Desa Ngadas, Karo berasal dari sebuah legenda tentang abdi Kanjeng Nabi bernama Setya dan abdi Aji Saka bernama Setuhu. Akibat salah paham, Setya dan Setuhu berselisih dan berkelahi sampai keduanya (kekaro = karo) gugur. Melihat hal tersebut, Aji Saka lalu memerintahkan para pengikutnya untuk mengadakan upacara sebagai peringatan, agar warga suku Tengger terhindar dari kesalahpahaman dan musibah (paceklik dan pagebluk). Selain itu, upacara Karo juga bertujuan untuk kembali kepada kesucian atau disebut satya yoga, karena warga suku Tengger beranggapan pada zaman satya yoga masyarakat masih mempunyai sifat sederhana, berpegang pada kebenaran, jujur, serta suci.

Ibu-ibu bergotong-royong menyiapkan makanan yang akan digunakan untuk sedekah Panggonan.

Berbagai ritual dilakukan warga Ngadas dalam upacara Karo yang berlangsung selama 15 hari. Hari terakhir adalah puncak acara yang ditunggu-tunggu. Ritual dimulai dengan sedekah Panggonan, yaitu bentuk rasa syukur kepada alam, tempat mencari rejeki yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa. Warga berkumpul di depan rumah kepala desa dengan membawa sedekah di wadah daun pisang dan dibungkus dengan kain terbaik, sebagai simbol dari penyerahan hasil bercocok tanam warga kepada pepunden desa.

Warga berkumpul di depan rumah kepala desa dengan membawa sedekah Panggonan, yaitu bentuk rasa syukur kepada hasil alam yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Di teras rumah, Mujianto sang kepala desa bersama para perangkat adat mendampingi dukun desa merapal doa menghadap hamparan sedekah yang ditaruh warga di pelataran rumah. Doa diucapkan cukup cepat dan setiap dukun selesai mengucap sebuah doa, semua yang hadir akan mengamininya dengan berkata ‘nggih‘. Setelah selesai dimanterai, warga bersegera mengambil kembali sedekahnya, kemudian memberikan sebagian kepada kepala desa, dan sebagian lagi dijadikan taping atau sesembahan yang akan ditaruh di ladang, kebun, mata air, dan tempat-tempat lainnya yang menjadi sumber kehidupan.

Para tetua desa berziarah ke makam leluhur Ngadas, yaitu Mbah Sedek, sebelum melaksanakan Sadranan.

Acara dilanjutkan dengan Sadranan, puncak upacara Karo. Kepala desa bersama keluarga dan para perangkat adat atau mbah dukun menuju ke tempat pemakaman Mbah Sedek, leluhur dari Mataram yang menjadi cikal bakal desa Ngadas. Sesampainya di makam, para tetua desa lalu memanjatkan doa, menabur bunga, dan menaruh sesajen. Terdapat tiga pusara di kompleks pemakaman tersebut. Ketiganya dulu pernah menjadi kepala desa Ngadas. Yaitu Mbah Sedek yang meninggal tahun 1824, Mbah Tirun meninggal tahun 1831, dan mbah Asmokerto yang meninggal tahun 1970.

Seluruh warga desa berbondong-bondong menuju kramat atau makam desa dengan membawa tikar dan rantang berisi makanan.

Bersamaan dengan itu, warga desa berbondong-bondong menuju Kramat, yaitu sebutan warga desa Ngadas untuk tempat pemakaman. Mereka mengenakan pakaian terbaik, berhias secantik mungkin, dan masing-masing menjinjing rantang berisi makanan. Di Kramat itulah warga melakukan Sadranan, yaitu ziarah ke makam sambil mengadakan makan bersama. Warga seluruh desa, tanpa memandang agama ataupun derajat sosial, bersama-sama menggelar tikar di sekitar pusara kerabatnya untuk merayakannya.

Seperti layaknya lebaran,warga Ngadas berhias dan memakai baju baru saat merayakan Karo.

Sebagian besar warga Ngadas memeluk kepercayaan Budha Jawa Sanyata yaitu 50%, sedangkan Islam 40%, dan sisanya Hindu 10%. Walaupun memiliki keyakinan yang berbeda-beda, namun warga Ngadas tetap berpegang teguh pada adat istiadat turun-temurun. Semua warga desa wajib mengikutinya. Setelah tetua adat membacakan doa untuk para arwah leluhur, semua warga yang hadir lalu makan bersama dengan bekal yang mereka bawa dari rumah. Aneka makanan lezat berupa lauk pauk, kue, dan buah-buahan tersaji menggugah selera. Suasana di pemakaman saat ini benar-benar meriah. Warga saling bermaaf-maafan, bercengkerama, dan berfoto bersama.

Warga menggelar tikar di samping makam leluhurnya, kemudian membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah untuk dinikmati secara bersama-sama.

Karena tradisi inilah, perayaan Karo kerap disebut sebagai Lebarannya orang Tengger. Selain keramaian tersebut, sebenarnya Sadranan juga mempunyai makna yang dalam, yaitu sebagai pengingat bagi warga mengenai kematian. Bahwa semuanya suatu saat pasti akan meninggal dan akan kembali ke makam ini. Sadranan tak hanya ditandai dengan memakai baju baru dan makan bersama semata, tetapi juga harus menandai perilaku baru yang lebih baik lagi, supaya warga Ngadas tetap hidup tentram di masa sekarang dan selamanya.

Warga desa tumpah ruah di makam desa merayakan puncak acara Karo, bercengkerama, bermaaf-maafan, dan berswa-foto dengan suka cita.
print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.