READING

Rokok Sumbang 96 Persen Penerimaan Cukai Kediri

Rokok Sumbang 96 Persen Penerimaan Cukai Kediri

KEDIRI – Kantor Bea Cukai Kediri mencatat penerimaan cukai rokok sebesar Rp 20,68 triliun selama tahun 2019. Jumlah tersebut menyumbang 96 persen pendapatan cukai di Kediri.

Kepala Kantor Bea Cukai Kediri Suryana mengatakan penerimaan cukai rokok masih mendominasi pendapatan kantornya hingga kini. Di tahun 2019, pendapatan Kantor Bea Cukai Kediri berhasil mencapai target penerimaan negara sebesar Rp 20,69 triliun atau 105,23 persen. “Ternyata 96 persen penerimaan itu berasal dari cukai rokok,” terang Suryana dalam konferensi pers di kantor Bea Cukai Kediri, Jalan Diponegoro, Rabu 15 Januari 2020.

baca juga: Tarif Cukai Rokok Naik Perusahaan Rokok Kecil Mulai Rumahkan Karyawan

Suryana melanjutkan, meski dibenci oleh sebagian kalangan, industri rokok ternyata menyokong perekonomian dan memberikan kontribusi besar bagi pemasukan negara. Bahkan perolehan penerimaan yang dicapai Kantor Bea Cukai Kediri ini telah melebihi target tahun 2019 sebesar Rp 19,66 triliun. Penerimaan cukai ini jauh di atas penerimaan bea masuk yang hanya sebesar Rp 5,4 milyar.

Data Kantor Bea Cukai Kediri menyebutkan saat ini terdapat tidak kurang 28 pabrik rokok di wilayah mereka. Dua diantaranya masuk golongan I, yakni PT Gudang Garam Tbk., dan PT HM Sampoerna, Tbk. Sedangkan sisanya adalah pabrik rokok golongan II, serta produsen rokok rumahan yang masuk golongan III. “Pabrik rumahan ini biasanya memproduksi rokok jenis sigaret kretek tangan,” kata Suryana.

Besarnya produksi rokok di wilayah Kediri ini memaksa Kantor Bea Cukai setempat untuk memperketat pengawasan. Sebab terhitung sejak Januari 2020 berlaku aturan baru PMK Nomor 152/2009 tentang tarif cukai hasil tembakau.

baca juga: Harga Rokok Naik Masihkah Beli

Aturan tersebut menetapkan kenaikan cukai hasil tembakau sebesar 23 persen. Harga jual eceran (HJE) rokok pun diatur dengan kenaikan sebesar 35 persen. Dengan kenaikan ini, diprediksi jumlah peredaran rokok ilegal juga makin meningkat.

“Rokok ilegal ini bisa berupa rokok tidak berpita cukai, atau bisa juga menggunakan pita cukai bekas. Modus lain adalah menggunakan pita cukai yang bukan dari perusahaan atau pita cukai yang tidak sesuai peruntukannya,” jelas Suryana.

Temuan rokok tanpa pita cukai di tahun 2019 cukup tinggi, mencapai 418.652 batang rokok. Sebanyak 170.352 batang rokok telah dimusnahkan. Selain rokok, pemusnahan juga dilakukan terhadap barang ilegal lain seperti minuman keras, liquid, etil alcohol, hingga sex toys.

Pemusnahan dan pengendalian rokok ilegal ini dinilai perlu untuk melindungi penjualan rokok legal di pasaran. Jika hal itu terjadi, akan memberikan dampak pada penerimaan negara dari cukai rokok. “Juga melindungi stabilitas usaha produsn dan menghindari potensi pemutusan hubungan kerja besar-besaran,” lanjut Suryana.

Meski berkantor di Kota Kediri, wilayah pengawasan Kantor Bea Cukai Kediri meliputi kota dan Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, serta Kabupaten Jombang.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.