READING

Romo Hardo, Merawat Umat dari Kebun Sayur

Romo Hardo, Merawat Umat dari Kebun Sayur

Jika umumnya pemuka agama tak jauh dari tempat ibadah, tidak demikian dengan Romo Hardo. Pastur jemaat Gereja Santo Yoseph ini justru kerap ditemukan di lahan pertanian.

Ia adalah Romo Hardo Iswanto C.M. (Congregatio Missionis). Seorang pastur yang aktif melakukan pelayanan jemaat di Gereja Santo Yoseph Kota Kediri, namun kerap dijuluki sebagai Pak Tani.

Penampilannya jauh dari seorang imam gereja Katolik. Sederhana dan santun dalam berucap menjadi ciri khas Romo Hardo dalam keseharian. Tak heran jika pergaulannya di luar gereja sangat luas.

Siang itu Romo Hardo hanya bercelana pendek dengan kemeja putih. Alas kakinya terbungkus sandal selop. Sederhana namun bersih. Sisirannya rambutnya juga rapi dengan kacamata terjepit di sela telinga. “Kalau saya sedang tidak ada pelayanan di gereja, selalu ke sini,” katanya saat menerima Jatimplus di kebun miliknya yang diberi nama Gubuk Lazaris, Senin 23 Desember 2019.

Gubuk Lazaris berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Cukup jauh dari gereja tempat Romo Hardo mengabdi. Meski demikian, pria kelahiran Desa Nglobo, Blora, Jawa Tengah itu tampak sangat menikmati aktivitas di gubuknya.

Suasana kebun seluas 2,5 hektar itu sangat asri. Sejak dari pintu masuk, pemandangan hijau langsung menyeruak. Hamparan sayur mayur terbentang di bawah paranet dengan rapih. Romo Hardo hanya menanam sayuran organik di kebunnya.

baca juga: Rosella di Gereja Puhsarang

Di sudut lain tampak bangunan menyerupai gazebo. Di situlah Romo Hardo menerima tamu-tamunya dengan santai. Gazebo itu berdampingan dengan sebuah ruangan yang menjadi tempat doa. Ini terlihat dari keberadaan meja kayu dengan lilin dan patung Bunda Maria di sana. “Ruang ini juga bisa digunakan untuk sholat bagi pengunjung kebun yang Muslim,” kata Romo Hardo menjelaskan ruangan itu.

Bercocok tanam dan merawat kebun sebenarnya bukan keahliannya. Semua pengetahuan tentang tanaman dipelajari secara otodidak ketika menginjakkan kaki di Kediri tahun 2005 silam. Satu-satunya bekal mengenal tanaman adalah masa kecilnya yang hidup di kawasan hutan di Blora.

Usai menamatkan sekolah menengah pertama di Blora, pria bernama lengkap Markus Hardo Iswanto ini masuk ke Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum, Blitar. Selanjutnya ia hijrah ke Malang melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widyasasana (STFT) Malang. Hingga akhirnya resmi menyandang gelar Pastur pada tahun 1996, dengan tugas pertama di pedalaman Kalimantan Barat. “Jadi saya sudah terbiasa di hutan,” katanya.

Pengalaman itu pula yang membuatnya tergerak menggeluti pertanian. Di kawasan belantara Kalimantan, Romo Hardo kerap menyaksikan kegiatan ilegal logging. Setiap hari hutan digunduli dan disulap menjadi perkebunan sawit.

baca juga: Kami Katolik Silahkan Sholat di Rumah Kami

Hingga ketika ia ditugaskan ke Kota Kediri tahun 2005, Romo Hardo berpikir untuk menyelamatkan lingkungan. Sejak itulah ia lekat dengan dunia pertanian, dan mencoba bercocok tanam secara organik.

Kegiatan itu sejalan dengan program gereja yang banyak melakukan bakti sosial. Hanya saja selama ini masih berkutat pada program pendidikan dan kesehatan. “Saya ingin (melakukan bakti sosial) di bidang pertanian. Saya prihatin karena saat ini petani seringkali berorientasi pada hasil, tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem,” katanya.

Bermodal sebidang tanah yang dibeli tahun 2007 seluas 1 hektar di Desa Sambirejo, Kecamatan Pare, ia mengawali dengan menanam tanaman pangan yakni padi dan jagung. Romo Hardo sengaja tak memakai bahan-bahan kimia untuk membantu pertumbuhan tanamannya. “Hasilnya buruk, diserang hama dan diejek petani lain,” katanya tertawa.

Tak patah arang, Romo Hardo gigih mempertahankan cara bertaninya. Ia bertekad membentuk pertanian ekologi, seperti cita-cita semula.

Perjuangan itu ternyata tak mudah. Selama masa percobaan, ia harus rela mengorbankan waktu istirahatnya usai mengikuti pelayanan gereja. Bahkan jika pastur lain memiliki jam tidur siang, Romo Hardo justru turun ke sawah. “Saya kagum dengan para petani. Hidupnya sangat produktif. Meski seharian sibuk di ladang, malam hari aktif di lingkungan rumah. Ini yang saya contoh,” urainya.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Gubuk Lazaris berdiri di tahun 2010 dengan tanaman organik yang dicita-citakan. Bahkan untuk meningkatkan produktivitasnya, Romo Hardo nekat terbang ke India untuk mengenal lebih dalam budi daya tanaman organik. Rumah Vandanashiva dipilih sebagai tempat belajar. Seorang filsuf perempuan yang sukses menerapkan pertanian terintegrasi.

Kini Gubuk Lazaris terus berkembang hingga mencapai 2,5 hektar. Di dalamnya terdapat aneka tanaman pangan, sayuran, buah, hingga peternakan sapi. Ada pula pengolahan kompos dan kolam ikan.

Romo Hardo tak bekerja sendiri. Terdapat sekitar 10 orang yang membantunya mengelola kebun. Jika musim tanam, banyak warga sekitar yang dipekerjakan secara borongan. Mereka juga siap menerima kunjungan anak sekolah dan petani organik dari berbagai daerah untuk belajar.

Satu hal yang paling membanggakan baginya adalah terbitnya Laudato Si, ensiklik dari Paus Fransiskus yang berisi pandangan dan seruan tentang peduli lingkungan hidup. Romo Hardo sangat bersyukur bahwa apa yang ia jalani tidak hanya menjadi gerakan individu, tetapi menjadi gerakan kolektif gereja-gereja Katolik.

“Semoga upaya ini memberikan dampak positif yang lebih luas kepada lingkungan, khususnya untuk kota dan Kabupaten Kediri,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.