READING

Romo Widyawan: Bom Surabaya 2018 adalah Peristiwa ...

Romo Widyawan: Bom Surabaya 2018 adalah Peristiwa Iman, Bukan Konflik Agama

Target bom adalah gereja. Pelakunya ber-KTP Islam. Ada kesan ingin menjuruskan pada konflik agama. Masyarakat Indonesia sudah cerdas. Tragedi bom Surabaya adalah tragedi kemanusiaan yang harus dilawan oleh semua. Bukan konflik agama.

SURABAYA – Pagi yang tenang dan khusyuk di gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel, Surabaya. Bom itu meledak, menewaskan 8 orang termasuk anak-anak. Sejumlah 7 orang lainnya dilarikan ke rumah sakit. Sisanya adalah trauma dan ketakutan menyelimuti gereja dan sekitarnya. Setahun kemudian, luka-luka fisik mereka sudah sembuh. Hanya trauma itu tetap membekas.

R.D. Aloysius Widyawan, wakil ketua dewan paroki SMTB tak ada di tempat ketika kejadian. Beberapa menit kemudian baru tiba dan menyaksikan puing dan ketakutan yang memuramkan pagi. Romo Widyawan masih mengingat detailnya. Pojok-pojok luka yang bisa tersembuhkan, bisa memaafkan, namun tak akan bisa melupakan.

“Kami sadar ini bukan konflik agama. Ini bukan soal Kristen, bukan soal Katolik, bukan soal Islam. Ini soal bagaimana kekerasan tak bisa dibenarkan,” kata Romo Widyawan.

Meski menyadari demikian, proses pemulihannya tak bisa cepat. Puing bisa segera dibersihkan. Bangunan kembali diperbaiki. Namun memulihkan luka batin butuh waktu. Memulihkan dari kengerian ketika menyapa rumah Tuhan. Kengerian yang kerap kali mengatasnamakan jalan Tuhan.

Setelah kejadian, rasa was-was menghantui. Misalnya di lampu merah atau di jalanan ketika ada orang yang membawa tas besar dengan atribut yang tak biasa, jemaat dan juga masyarakat di sekitar gereja merasa tak nyaman.

“Selama 1-2 bulan, tingkat kehadiran umat ke gereja menurun hingga 30%. Ini terjadi di mana-mana setelah bom itu. Orang lebih memilih keluar kota atau tinggal di rumah pada Sabtu dan Minggu. Sebuah pekerjaan tak mudah untuk memulihkannya.

Salah satu jemaat gereja yang bersedia diwawancara wartawan setelah tragedi bom. Kini, gereja itu lebih terbuka pada masyarakat lintas agama.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

Dalam hal pemulihan, banyak sekali pihak yang terlibat. Mulai dari pemerintah, rumah sakit, dan masyarakat lintas agama. Pihak-pihak yang kerap tak terberitakan. Pemerintah memberikan bantuan material berupa dana meski tak semua bisa terpenuhi, khususnya dana untuk pengobatan. Kemudian rumah sakit bekerjasama melakukan hal yang belum tertangani pemerintah. Dan akhirnya jemaat dalam satu paroki dan masyarakat menyelesaikan yang belum tertangani.

Baca juga: Jemaat Resah Saat Perempuan Berhijab Ikut Ibadah di Gereja

“Secara material, banyak yang turun tangan membantu. Hal ini tidak saja meringankan secara fisik. Namun yang paling penting menunjukkan pada para korban dan keluarga korban, dia tidak sendirian. Masih banyak ada orang baik di sekitarnya,” kata Romo Widyawan. Pendampingan bagi keluarga korban terus dilakukan hingga kini. Setiap saat ketika membutuhkan khususnya membutuhkan perjumpaan dan ditemani.  

Baca juga: Gus Reza: Jangan Merasa Benar Sendiri

Selain bantuan material, langkah taktis yang dilakukan paroki dalam hal spiritual seperti doa dan misa khusus. Mulai dari setelah ledakan hingga hari ini. Tiap bulan ada doa khusus. Tiap tanggal 13 setiap bulan setelah kejadian selalu ada doa untuk mengenang dan mengingat peristiwa tersebut. Bukan untuk memperpanjang luka namun untuk refleksi diri, apa yang ingin dikatakan Tuhan dari tragedi tersebut.

Merawat Indonesia dalam Keberagaman

“Selama pemulihan itu, kami belajar banyak hal. Sangat banyak. Kini gereja Ngagel jadi lebih terbuka,” tambah Romo Widyawan. Jemaat menjalin relasi dengan masyarakat lintas agama menjadi lebih intens. Relasi yang dibangun dari perjumpaan dalam berbagai acara yang digelar. Perjumpaan ini membuat saling mengenal antara pihak gereja dan pihak di luar gereja.

“Beberapa muslim yang berjilbab datang ke gua Maria. Kami mendampingi. Mereka jadi tahu seperti apa kami. Sama halnya kami mengetahui tentang komunitas muslim dan komunitas agama lain. Jadi kami saling mengenal,” terangnya. Awalnya ada keengganan dan pertanyaan karena belum pernah tahu, akhirnya menjadi terbuka.

Baca juga: Banser NU Pelopori Gerakan Bersih Lingkungan

Bahkan menurut Romo Widyawan, Sinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur akan berkunjung pada bulan Juni nanti untuk mengadakan sahur bersama di SMTB. Sudah menjadi kebiasaannya untuk sahur keliling di beberapa tempat.

“Saya heran juga, kenapa tempat kami yang dipilih. Kata Bu Sinta, untuk merawat Indonesia. 1 Juni itu hari kelahiran Pancasila,” terang Romo Widyawan. Merawat Indonesia dalam keberagaman. Untuk melawan kekerasan kemanusiaan bersama-sama dengan saling mengenal dan terbuka.

Baca juga: Bom Sri Lanka Buka Luka Lama

Baca juga: Komitmen Australia-Indonesia Melawan Terorisme

Bom Surabaya memberi penyadaran bahwa masyarakat Indonesia sudah cerdas untuk memahami. Sama halnya ketika terjadi penembakan di masjid Al Noor, Christcurch, Selandia Baru, 13 Maret 2016. Jemaat SMTB pun menggelar doa untuk muslim yang meninggal. Sama halnya ketika terjadi pengeboman di tiga gereja Sri Lanka, 21 April silam. Jemaat pun menggelar doa bersama. Permasalahannya bukan agama apa yang diserang, namun semua itu menyerang kemanusiaan. Masyarakat lintas agama harus bekerjasama untuk melawan kekerasan ini. (Titik Kartitiani)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.