Rosella di Gereja Puhsarang

Hari mulai gelap saat kuparkir kendaraan di depan halaman Gereja Puhsarang. Kuabaikan lambaian tangan penjaga parkir yang memintaku memasukkan mobil ke samping gereja. “Sebentar saja mas,” teriakku melalui celah kaca.

Masih menenteng tas kecil berisi catatan liputan siang tadi, aku memasuki halaman gereja yang dibangun dari deretan batu kali. Sempat kulirik arca Bunda Maria dan Yesus yang berdiri tegap di sudut halaman. Ah, gereja ini makin eksotis di sore hari.

Gapura bertuliskan Taman Hidangan Kana menarikku menuruni anak tangga. Jalanan setapak ini mengantarku ke lorong pertokoan yang hampir gelap. Tak ada aktivitas apapun selain dua perempuan yang duduk di depan satu-satunya ruko yang terbuka. “Nyari apa, mas, ” sapa seorang ibu yang tak lain pemilik ruko.

Setelah kusampaikan maksudku, ibu itu bergegas masuk ke dalam toko dan menyeret plastik besar berisi bunga Rosella kering. Bunga yang diyakini berkhasiat menurunkan kadar kolesterol dan mengendalikan hipertensi ini adalah pesanan ibu mertuaku yang kerap disergap darah tinggi.

Keberadaan kios penjual rosella ini kuketahui saat mengajak keluargaku berwisata di kompleks gereja beberapa waktu lalu. Tak hanya kaum Nasrani, gereja di kaki Gunung Wilis ini juga kerap menarik wisatawan Muslim sepertiku karena bangunannya yang unik.

baca juga: Kami Katolik Silahkan Sholat di Rumah Kami

Tanpa kutawar, si ibu mulai menimbang bunga rosella dan memindahkan ke dalam beberapa plastik ukuran 1 ons. Tak adil rasanya jika harga yang diminta masih kutawar. Mengingat hal serupa tak pernah kulakukan saat berbelanja di toko modern milik kaum tajir.

Sambil menunggu timbangan, aku meraih benda menyerupai bola ping pong yang dipenuhi benda lancip. “Itu untuk pijat kepala mas, menghilangkan pusing dengan cepat,” tukas si ibu melirikku.

Rupanya beliau mengamati gerak gerikku. Spontan pernyataan itu kujawab, “Bisa menghilangkan pusing tak punya uang ndak, Bu,” tukasku asal.

Grrrr……..si ibu tertawa terbahak. Demikian pula mbak-mbak yang sedari tadi duduk di depan ruko. Entah sejak kapan kami bertiga larut dalam obrolan ringan diselingi gelak tawa sambil berkerumun di depan timbangan. Mulai soal khasiat bunga rosella, kunjungan jemaat dan wisatawan, hingga sulitnya mencari sekolah dengan sistem zonasi. Suasana lorong yang sepi di samping kompleks makam gereja itu pun tak lagi terasa angker.

Suara endusan diikuti gerangan anjing mendadak membuyarkan obrolanku. Seekor anjing yang entah darimana asalnya tampak mengendus-endus dan menempelkan tubuhnya di celana panjangku. Meski takut menyergap, tak kukibaskan sedikitpun anjing itu dari kakiku.

Selain tak menunjukkan gejala menggigit, suasana obrolan hangat ini tak ingin kuusik hanya gara-gara anjing. Toh, agamaku memberikan solusi bagaimana membersihkan pakaian dari najis hewan terlarang.

Usai menyerahkan uang dan menjinjing tas kresek besar berisi bunga rosella, si ibu menjabat tanganku dengan erat. “Terima kasih Nak. Semoga Tuhan memberkati,” ucapnya sambil tersenyum.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.