READING

Rudy Badil (Bukan Obituari), Ini tentang FOKSI Jat...

Rudy Badil (Bukan Obituari), Ini tentang FOKSI Jatim dan Konservasi

Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu-Gie

Halo Bang Badil, di mana pun Bang Badil kini berada,

Sebetulnya saya sedang sedih, sangat. Mendengar berita tadi pagi dari Ully (ingat kan Bang, Ully Rangkuti yang Bang Badil sering marahin itu huhuhu). Lalu tadi pagi Mas Prasto minta saya bikin obituari. Mas Prasto yang dulu koordinator FOKSI Jatim (entah siapa juga yang ngangkat dia jadi koordinator, tapi jelas seizinmu, Bang. Dia memang mengoordinasi kawan-kawan FOKSI di Jatim. Kini sudah jadi Pemred Jatimplus.ID. Pemred dia, Bang. Makanya saya tak berani nolak tugas ini sebab saya anak buahnya).

Yah, nulis obituari untukmu. Tentulah bukan obituari yang menyek-menyek kayak tulisanku biasanya (penuh gombalan tiada tara). Bang Badil pasti tak suka. Tapi, kalau dirimu baca ini, pastilah ngamuk-ngamuk juga. Obituari, Bang! Obituari. Hal yang mungkin tak kausukai, sebab engkau ingin hidup seribu tahun lagi. Dan seribu tahun lagi. Itu sudah kaubuktikan betapa dirimu mencintai kehidupan dan Semesta ini. Meski kaki sudah pincang karena stroke ketambahan ditabrak motor, dirimu tetap jalan, tetap datang di acara-acara konservasi, tetap menulis. Bahkan tahun lalu, masih bermobil dari Jakarta-Prigen dengan Patar dan Mas Ipung untuk menulis buku Tiga Macan Safari. Bermobil! Dan mau mengajakku juga seketika ketika pulang. Ah, tidak, Bang. Saya nggak bawa daleman ganti.

Sialan lu, Tik! Lu kira gue mampus apa. Penjahat orang-orang itu!” Saya ingat kalimat itu, Bang. Ketika kabarmu meninggal tersebar di FB dan saya dengan sedih mengirim WA padamu. WA itu hanya di-read dan tidak dibalas. Rupanya doi sangat kesal dikabarkan meninggal.  Baru kemudian WA-mu muncul beberapa bulan kemudian mengabari bahwa dirimu ada di TSI Prigen dan meminta saya ke sana. Singkat dan padat WA itu: merapat ke TSI Prigen-BD. Saya di-sialan-sialan-kan begitu datang sama Mas Prasto. Iya, saya, bukan Mas Prasto. Kenapa gue lagi?! Padahal niat saya baik, Bang. Ya, memastikan dirimu tidak meninggal. Sebab saya tidak minat menulis obituarimu. Tidak!

Rudy Badil, difoto pada saat OWAKA (Orientasi Wartawan Konservasi) di Taman Safari Indonesia, Cisarua, 22/11/2015.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Pagi tadi, kabarmu itu sungguh tidak hoaks. Meski saya berharap, kabar itu hoaks seperti tahun lalu. Ketika saya di Jakarta beberapa hari lalu, saya dengar kabar bahwa Bang Badil masuk ICU karena jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan otak akibat stroke. Saya sudah siap-siap mau nyusul Mas Bertho yang menjagamu di RS Hermina Depok, Selasa, 9 Juli 2019. Tapi setelah saya hitung dengan jam bezuk, tidak mungkin sampai. Saya bisa ketinggalan kereta, Bang. Sebab belum lama saya juga ketinggalan kereta gara-gara berangkat mepet. Makanya, saya hanya bisa memantau kabarmu dari teman-teman. Berita kondisimu tidak jua membaik, sampai akhirnya tadi pagi. Dirimu benar-benar pergi sebab yang mengabari Banu Adikara, putra sematawayangmu. Banu tentulah tidak iseng. Mengabari bahwa Bapaknya telah tiada pada pukul 07.15 WIB, 11 Juli 2019.

Apa yang saya ingat tentangmu rasanya terlalu panjang kalau dituliskan di sini. Ini media online, Bang. Pembaca tak akan betah membaca panjang-panjang, katanya begitu. Makanya kutulis satu hal saja, tentang FOKSI (Forum Komunikasi Satwa Liar) yang kaudirikan 5 Februari 1999. Cintamu terhadap jurnalistik dan konservasi khususnya soal satwa liar menjadi alasanmu mendirikan lembaga ini. Sebuah forum yang tidak serius tapi membicarakan hal-hal serius.

Forum yang unik, tempat bergabunganya elemen-elemen yang rasanya sulit untuk bergabung. Misalnya bagaimana “penyelundup” satwa bisa kauundang dan duduk bersama dengan kami para jurnalis. Para LSM yang keras bisa duduk satu forum dengan pemerintah yang dulu biasanya dibantai habis-habisan. Itu FOKSI, Bang. Meski secara serius tertulis manis bahwa FOKSI merupakan forum silaturahmi antara jurnalis, pecinta dan pemerhati satwa liar, penangkar, akademisi, dan pemerintah.

Tiap tahun, FOKSI mengadakan OWAKA (Orientasi Wartawan Konservasi) yang disponsori oleh Taman Safari Indonesia dan OVG (Outing Venture Game). Pada forum inilah, saya belajar banyak darimu, Bang. Belajar menulis, belajar memahami peta konservasi Indonesia dan peta elemen yang bergerak di dalamnya. Menulis soal konservasi flora fauna perlu pemahaman yang cukup agar tak salah tulis dan salah istilah. Bang Badil mendidik kami dengan keras (a.k.a sering diomelin) soal ke-valid-an data dan istilah yang tak boleh salah.

FOKSI (Forum Komunikasi Satwa Liar Indonesia). Rudy Badil (bercelana pendek) bersama Tony Sumampau (berkaus putih), Direktur TSI tahun 2015. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Saya gabung dengan FOKSI tahun 2004, saat OWAKA di TSI Cisarua. Awalnya saya ingin tanya tentang buku curik bali (Leucopsar rothchildi) yang kautulis. Oleh Mas Hery Suyono (Redpel FLONA saat itu), saya dikasih nomormu. Oh ya, Mas Hery sangat sedih juga, Bang. Mendengar kabar kepergianmu. Dia salah satu yang kauajari di alam bebas hingga sampai ke Nepal. Lalu saya meneleponmu. Jawabanmu singkat, datang saja ke Cisarua. Akan ada OWAKA. Apa itu OWAKA? Pokoknya datang saja. Begitulah, wartawan unyu dan kecil ini langsung cabut dari Kebon Jeruk ke Cisarua dengan angkutan umum. Datang dengan tanpa tahu apa-apa hanya dengan password: mau wawancara Bang Badil. Saat itulah, otomatis saya bergabung dengan FOKSI dan mengenalmu. Selama 3 hari di TSI dan tanpa membawa baju ganti. Dan karena yang meminta dirimu, Mas Hery pun tak ada alasan menolak meski saya tidak ngantor selama 3 hari.

Hasilnya saya ingat seumur hidup sebagai wartawan flora fauna. Saya bertemu dengan penangkar curik bali. Jelas narasumber langka dan berita seksi ketika saat itu, curik bali hanya bisa ditangkarkan di TN Bali Barat.  Sebagai wartawan muda yang penuh semangat kerja, saya tulis dong lengkap selengkap-lengkapnya tentang penangkaran yang spektakuler plus harganya sekalian. Rupanya, penulisan harga itulah yang kemudian memicu naiknya harga di pasaran. Usai berita itu rilis di majalah FLONA tahun 2004, harga curik bali naik berlipat-lipat. Saya pun jadi jiper berhadapan lagi dengan Bang Badil. Mengerut jadi segede kacang polong.

Tapi ternyata, saya tidak dimarahi. Hanya dikasih tahu apa efek pemberitaan yang tidak hati-hati. Rupanya, tidak sampai di situ. Saya “ditatar” soal konservasi ketika saya memprotes pandanganmu tentang kebun binatang. Kita berdebat dan saya sok keras kepala. Tak banyak kata, kaubawa saya pada Willie Smits untuk wawancara. Mr. Smits adalah pendiri Gibbon Foundation juga inisiator Schmutzer Primate Center Ragunan. Orang ini jelas tak mudah ditemui. Entah dengan cara apa, dirimu bisa dan langsung mengirimku ke hadapannya. Tanpa persiapan apa-apa. Saat itu, Bang Badil “sangat bahagia” melihat saya mati kutu dan gemetar karena tidak tahu harus bertanya apa. Begitulah cara Bang Badil “mendidik” saya meliput tentang konservasi. Bukan dengan teori yang manis, tapi langsung praktik bahkan cenderung pahit dan sengak.

Bang Badil bisa mengakses narasumber sulit. Hanya dengan password namanya, saya bisa melenggang dan aman. Ingat nggak, Bang, suatu hari menelepon untuk mengajak ke Kalimantan besok. Iya, besok. Ke sebuah penangkaran red arowana. Namun Mas Hery tak mengizinkan, bukan karena apa-apa. Karena saat itu saya hamil 8 bulan. Akhirnya, dialihkan ke Rudi Purwanto (wartawan Flona yang sangat mencintai Liverpool). Kemudian, narasumber itu pun berlanjut menjadi berita-berita yang menarik di Flona.

Flona sudah tutup, Bang. Tahun 2014. Tapi saat itu Bang Badil berpesan pada saya, tetap menulis. Flona hanya persinggahan. Masih banyak tempat untuk menulis konservasi. Yah, tentu kalimatnya nggak manis kayak gini. Intinya, tetap menulis.

Bang Badil pernah menyodori saya untuk menghidupkan kembali majalah Burung Indonesia. Oh ya, NGO Bird Life yang kemudian menjadi Burung Indonesia itu juga ada namamu dalam rintisannya. Meski saya semangat, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Sebab saya manusia setengah pohon, lebih paham tentang kecambah melinjo dibanding dengan burung elang sekalipun. Draft itu masih tersimpan, Bang. Masih.

Sepak terjangmu di ranah konservasi satwa liar menandai banyak moment penting. FOKSI hanya salah satunya. Dari FOKSI ini kemudian Bang Badil pun menginisiasi lahirnya APCB (Asosiasi Penangkar Curik Bali). Sebuah konsep konservasi dengan pendekatan penangkaran. Jadi, para penangkar jalak suren yang karakternya dekat dengan curik bali diberi indukan untuk menangkarkan. Kemudian sukses, pasar pun dibanjiri curik bali hasil tangkaran ini sehingga harganya anjlog (saya tak mau menuliskan harganya eh). Sehingga penangkapan di habitat aslinya menurun drastis.

Di FOKSI, kauajari kami tentang menjadi wartawan terhormat. Dirimu akan sangat ngamuk ketika melihat kami meminta-minta. Itulah alasannya, kenapa FOKSI tidak pernah bikin kartu anggota. Salah satunya, agar kami tidak gratis ketika masuk TSI kalau tidak untuk kepentingan liputan. Itu pun dicontohkan Bang Badil. Bang Badil tetap membayar ketika masuk TSI, meski semua pasti kenal siapa dia. Pun soal pendanaan, meski belum bisa menutup semua biaya, Bang Badil membuat OVG sebagai sumber dana FOKSI. Minimal ada usaha, meski tetap di-support oleh TSI. Nilai-nilai itu saya ingat betul. Pun di tempat lain ketika saya liputan.
“Miskin tapi sombong,” begitu katamu selalu.

Oh ya, gara-gara nilai-nilai itu, saya jadi melakukan hal bodoh, Bang. Bodoh tapi gembira. Jadi waktu itu APCB mengadakan riset awal. Menyusuri penangkar jalak suren dari Jawa Barat-Jawa Timur. Saya dan Susanna Sunarno (Susan yang wartawan Transtv dulu banget) ikut tim itu bersama Bird Life dan TSI. Waktu itu ada Mbak Yanti dan Dr. Paul Jepson yang ahli burung itu. Saya diinepin Pak Yan (yang kaukenalkan dan beliau sungguh baik hati dan konsen pada konsevasi satwa) di Hyatt, Yogyakarta lebih dari hari kerja kami. Kami tak enak, lalu check out dan sisa uangnya kami kembalikan. Padahal Pak Yan tentu tidak memikirkan itu, tapi ini soal hati, Bang. Dan tahu apa yang terjadi? Dari Hyatt kami rencana menghabiskan malam di Malioboro agar tak menyewa kamar. Rupanya kami tak kuat, lalu menginap di losmen super kecil, banyak bangsatnya, di dekat bandara untuk menunggu pesawat ke Jakarta esoknya. Yah, kami memang naif.

FOKSI pun mengalami dinamika. Pernah direvitalisasi tahun 2010 di TSI Prigen. Sempat OWAKA beberapa kali dan beberapa event offline. Saya dan Mas Prasto sempat menghidupkan www.foksijatim.com., Bang. Saat itu Bang Badil juga bahagia melihat semangat kami. Namun kami kehabisan energi. Sampai akhirnya, Bang Badil memutuskan FOKSI demisioner tahun 2015.

Saat penandatanganan buku “Norman Edwin, Sahabat Sang Alam” dengan editor Rudy Badil, di TSI Prigen, 6 Maret 2018. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Namun bukan berarti berhenti, apalagi berhenti menulis. Semangatmu, Bang, memotivasi kami. Project terakhir yang kami kerjakan dengan semangat adalah buku Tiga Macan Safari, tentang sejarah pendirian Taman Safari Indonesia. Ini timnya banyak tiada tara. Itulah sifatmu, Bang. Yang selalu membagi-bagi rezeki. Kalau mau, semua bisa kauambil sendiri. Tapi tidak. Engkau selalu mengajak teman-temanmu untuk bekerja sama, membangun semua bersama. Saking sering bersama-samanya, pekerjaannya justru menjadi panjang tiada tara. Namun tetap menggembirakan.

Kalau sedang duduk, saya sering bertanya tentang Gie, tentang Norman Edwin, tentang Warkop DKI. Mendengar cerita darimu, serasa saya hadir di antara tokoh-tokoh itu. Cerita-cerita yang takkan tertulis menjadi buku atau dalam istilahmu “di-Gramedia-kan”. Hanya bisa kunikmati, ketika saya duduk dan mendengarkan kisahmu.

Itu saja yang saya tulis, Bang. Ini saya sudah mulai sedih lagi. Ada Mas Hari TW di samping saya. Di kantor Jatimplus.ID yang senyap. Media baru, Bang. Dengan semangat seperti ketika Bang Badil mendirikan FOKSI. Optimisme Jawa Timur, begitulah.

Doa terindahku untukmu. Semoga Banu dan Mbak Xenia (yang lembut hati) diberi tabah dan ikhlas. Bukan obituari sebenarnya. Hanya pesan dan kesan biar hari ini ada catatannya. Hari ketika sakitmu berakhir dan tak lagi pincang, bisa terbang ke ketiadataraan.

Hari ketika dirimu bergabung dengan Norman, Gie, Dono, dan Kasino yang sudah mendahului. Mungkin di sana dirimu reunian. Dono dan Kasino yang lucu sementara dirimu berkadar lucu rendah, makanya nggak jadi gabung di Warkop DKI, cukup jadi pendiri saja. Tapi kukira Gie tetap ganteng sementara dirimu menua, iya nggak? Bisa ngomong jorok dengan Bang Norman. Masak nasi goreng dengan irisan sosis seperti waktu di TSI Cisarua. Tapi tetap saya tak suka, kalau gelasnya pakai gelas plastik.

Bener, Bang. Seperti pesen teman-temanmu yang masih di dunia yang fana ini, malaikat jangan kaumarahi. Cukup kami-kami yang kaumarahi. Dan kini, kami akan merindukan marahmu itu. Sangat.

Salam hormat saya, Bang
Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.