READING

Rumah Cagar Budaya Milik Orang Tua Pejuang PETA So...

Rumah Cagar Budaya Milik Orang Tua Pejuang PETA Soeprijadi Dijual

BLITAR- Rumah berstatus cagar budaya peninggalan orang tua pejuang Pembela Tanah Air (PETA) Syodanco Soeprijadi di Kota Blitar dijual. Oleh Soeroto (80) adik Soeprijadi, sebuah plang reklame penjualan lengkap dengan nomor HP yang bisa dihubungi, telah dipasang di depan rumah.

Soeroto yang tidak berumah tangga tidak memberi alasan spesifik penjualan. Dia hanya mengatakan sudah terlalu tua untuk terus menempati sekaligus menjadi perawat rumah warisan orang tuanya.

“Iya dijual. Karena umur saya juga sudah tua, “tutur Soeroto kepada Jatimplus sembari tertawa.

Rumah bernomor 42 itu berada di pinggir jalan raya Syodanco Soeprijadi Kota Blitar. Disebelah baratnya merupakan rumah dinas Walikota Blitar. Kemudian rumah dinas komandan Kodim Blitar, komplek SMP Negeri 03 Kota Blitar yang dulu menjadi markas PETA Blitar dan Taman Makam Pahlawan.

Bangunan lawas itu berdiri diatas tanah seluas 856 meter persegi. Arsitekturnya bergaya khas kolonial Belanda. Lazimnya model rumah yang banyak ditempati para priyayi Jawa. Halamannya luas. Banyak tumbuh bunga, tanaman liar dan pohon buah buahan. Teduh.  

Begitu melintasi halaman, tampak seperangkat kursi dan meja berbahan karet ban bekas terpasang di teras berbentuk separuh lingkaran. Di atas pintu masuk tertulis “Wisma Darmadi”. Begitu di ruang tamu terlihat tiga kamar dengan daun pintu warna kuning mentah. Daun pintu bermodel klasik itu menggunakan pegangan bahan kuningan.  

Terlihat juga tiga kamar lain dengan ukuran sedikit lebih kecil di sisi belakang. “Jumlah kamarnya ada enam. Yang ukuran terbesar ada tiga, “kata Soeroto menerangkan.  Tidak hanya daun pintu dan kusen kusen. Sebagian besar perabot di dalam ruangan juga kategori klasik.  

Almari, kursi, meja, bufet hingga lampu gantung.  Sejumlah foto keluarga hitam putih terpajang pada dinding. Sebuah lukisan lawas Pangeran Diponegoro tampak mendominasi. Di ujung lukisan tergores angka tahun 1948. Ada juga lukisan dan foto Soeprijadi berpose setengah badan.

Foto itu yang banyak beredar di buku sejarah. Rumah milik Darmadi, yakni orang tua Soeprijadi masih orisinil. Bentuk bangunannya masih asli. Tidak ada yang berubah. Kalaupun renovasi hanya sebatas pembenahan kecil kecil. Menurut Soeroto rumah itu dibeli tahun 1933 dari Mayor Hadiwijoyo.   

Darmadi merupakan Bupati Blitar ketujuh (periode 1945-1947). Paska kemerdekaan Darmadi yang kelahiran Lodoyo Kabupaten Kediri juga pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kediri. Ayahnya, kata Soeroto juga pernah menjadi bagian tentara PETA angkatan pertama.

Darmadi menikah dua kali. Pernikahan pertama dengan Ny Rahayu dikarunia dua anak, yakni salah satunya Syodanco Soeprijadi yang lahir di Kabupaten Trenggalek 13 April 1923.

Kemudian menikah lagi dengan Ny Sesulih dikarunia 11 anak, dimana Soeroto merupakan anak kedua. “Rumah ditempati keluarga pada tahun 1956. Karena sebelumnya bertempat tinggal di rumah dinas di Nganjuk, “kata Soeroto.

Soeroto yang berlatar belakang montir mobil adalah seorang perantau. Di era orde lama dia pernah bertempat tinggal di Jakarta. Kemudian tahun 1960an merantau ke Makassar sebelum akhirnya pulang ke Blitar pada tahun 2008. Soeroto mengaku menempati rumah peninggalan ayahnya seorang diri.

Terkait semua urusan jual beli, dia telah menyerahkan  kepada  keponakannya yang bernama Sri Astuti, yakni pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar. Karenanya saat ditanya harga jual, Soeroto mengaku tidak tahu. Begitu juga siapa saja yang sudah menawar, lagi lagi dia juga mengatakan tidak tahu.  

Informasi yang dihimpun, luas per meternya ditawarkan Rp 9 juta. Menurut Soeroto, jumlah ahli waris penjualan rumah bersejarah itu sebanyak 10 orang. Mereka terdiri dari anak dan cucu. “Ahli waris ada 10 orang. Kalau soal harga saya tidak tahu. Terima bersih saja,  “katanya dengan tertawa.

Menanggapi hal ini Wakil Walikota Blitar Santoso mengatakan Pemkot Blitar berminat memiliki rumah yang dijual itu lantaran status cadar budaya. Jika berhasil dibeli, Pemkot yang berencana membangun Museum PETA di kawasan SMP Negeri 3 Kota Blitar akan menggabungkannya.

“Lebih baik jika pemkot bisa membelinya. Sebab ini merupakan aset sejarah sekaligus cagar budaya. Namun kita akan melihat anggaran dulu, “ujarnya. Pembangunan Museum PETA sendiri baru bisa direalisasi setelah pembangunan gedung baru SMP Negeri 03 selesai.   

Dengan adanya Museum PETA, Santoso berharap generasi muda, yakni khususnya Blitar Raya akan semakin mengerti apa itu pemberontakan PETA yang dipimpin Syodanco Soeprijadi. Di setiap tanggal 14 Februari generasi muda akan memperingati perjuangan PETA daripada mengingat perayaan hari Valentine.

“Keberadaan Museum PETA sangat penting bagi generasi muda Blitar Raya. Anak muda akan mengingat di tanggal 14 Februari telah terjadi peristiwa pemberontakan PETA. Tidak hanya mengingat hari valentine saja, “kata Santoso (*).

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.