READING

Rupa-Rupa Perempuan Perupa Kediri Dalam Mantra Mat...

Rupa-Rupa Perempuan Perupa Kediri Dalam Mantra Matra

Perempuan Perupa Kediri menghadirkan gelar karya bertajuk “Mantra Matra” di Auditorium SMA Negeri 1 Kediri, 24 – 26 Februari 2019. Mantra berarti sekumpulan kata-kata yang mampu mensugesti atau menyakinkan diri sendiri terhadap sesuatu, sedangkan Matra dalam dunia seni dikenal sebagai dimensi atau bentuk karya seni itu sendiri. Harapannya, pameran ini mampu menyakinkan dan membangkitkan energi para perempuan perupa di Kediri untuk berani berekspresi dalam bentuk karya seni.

Auditorium SMA Negeri 1 Kediri menjadi tempat pameran “Mantra Matra”.

KEDIRI – Delapan puluh karya seni berbentuk lukisan, sketsa, mix media, dan seni instalasi dari 34 seniman beratribut pelajar, mahasiswa, guru, ibu rumah tangga, pegawai, hingga profesional, terpajang rapi menyambut pengunjung pameran.

Begitu memasuki ruangan, pengunjung langsung disambut seekor ikan besar berbahan fiber yang diletakkan tepat di bagian tengah ruangan. Badannya berongga, berisi berbagai macam produk harian berkemasan. Sementara di bawahnya berserakan aneka rupa sampah rumah tangga. Karya seni ini menunjukkan buruknya perilaku masyarakat dalam mengelola sampah terutama plastik, hingga mencemari ekosistem laut dan sungai yang mengakibatkan ikan-ikan mengkonsumsi sampah.

Dua orang pengunjung berpakaian lurik.

“Kadang pengunjung membuang sampah di bawah situ juga, mungkin itu dikira gundukan sampah beneran,” kata Woro Puspitaningrum, ketua pameran sambil tertawa, saat menjelaskan makna seni instalasi karya Ida Sulistyawati berjudul “Celoteh Seekor Ikan” tersebut.

Sedikit bergeser ke sebelah kiri, terdapat 8 lukisan berbahan gauche di atas kertas yang masing-masing berukuran 23×32 cm karya dari Woro yaitu “Little Girls Series”. Tiap bagian berisi berbagai karakter wajah bergaya dekoratif childish dengan warna-warna cerah. “Perempuan mempunyai banyak karakter. Mulai dari keibuan, kekanakan, sampai yang segalak setan juga ada,” paparnya bersemangat.

Seorang pengunjung nampak serius memperhatikan sebuah lukisan.

Perempuan Perupa Kediri ternyata baru saja terbentuk Desember 2019 lalu, dan ini adalah pameran perdana mereka. “Kami ingin mengajak perupa-perupa perempuan di Kediri untuk aktif berkarya dan berpameran, salah satunya dengan kegiatan pameran seperti ini,” kata Woro.

Untuk pengumpulan karya, komunitas ini berinisiatif jemput bola dengan mendatangi sekolah-sekolah dan kampus mencari perupa-perupa perempuan berbakat yang bisa diajak gabung untuk pameran bersama.

Woro menambahkan embrio dari gerakan para perempuan perupa Kediri ini telah ada sejak 24 tahun lalu, sekitar tahun 1996. Kala itu terbentuk kumpulan perempuan perupa di Kediri bernama Timun Mas. Inisiatornya adalah Dyah Purnasari, Diah Sulistyorini, dan Woro Puspitaningrum. “Saya masih ingat, dulu mereka berdua benaran door to door mengajak seniman perempuan di Kediri termasuk saya yang waktu itu baru saja lulus SMA untuk ikut gabung di Timun Mas,” kenang Woro.  

Kala itu pameran diadakan di Gedung Kesenian Kediri, yang kini telah beralih fungsi menjadi kantor Kecamatan Mojoroto.

Woro Puspitaningrum, Ketua Umum Perempuan Perupa Kediri.

Namun seiring perjalanan waktu, Timun Mas mengalami mati suri akibat kesibukan masing-masing penggeraknya. “Sesuai kodrat sebagai perempuan, sebagian besar dari kami akhirnya menikah dan waktu banyak tersita untuk mengurus keluarga,” kata Woro yang berharap bisa membangkitkan kembali semangat teman-temannya untuk berkarya seni kembali.

Display karya para peserta pameran “Mantra Matra”.

Pameran Seni Rupa Mantra Matra ini akan berlngsung selama 24 – 26 Februari 2020 mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB di Audiotorium SMA 1 Kediri.

Teks dan Foto : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.