Saksi Bisu Warteg Sisi Istana

Dalam hal “ekspansi”, ada dua jenis warung lokal yang kekuatannya tak diragukan: warteg (warung tegal) dan warung padang. Secara lokasi, warteg satu ini bisa jadi warteg paling strategis se-Indonesia: di sisi Istana Negara.

Letaknya nyelip, di jalan Veteran III, Jakarta. Tersembunyi di balik pagar tembok tinggi. Di gerbang ada pintu kokoh yang dibuka separuh. Jika kita masuk, kaki mesti diangkat, ada penghalang besi di bagian bawah agar motor tak bisa ke dalam. Pada saat jam makan siang, pengunjung (terutama mereka yang badannya oversize), mesti memiringkan badannya, berkelit di sela-sela motor yang diparkir tepat di depan pintu masuk.

Alhasil, hanya orang yang bekerja di sekitaran warung saja yang tahu. Inilah warteg dengan lokasi paling strategis, selemparan batu dari kompleks Istana Kepresidenan.

Halamannnya tak begitu besar. Rupanya memanfaatkan bagian depan gudang perlengkapan. Pada waktu-waktu  tertentu  truk tiga perempat  keluar- masuk mengangkut perabot. Entah itu kursi, sofa, karpet, atau tiang-tiang penyangga.

Pada  halaman yang di-conblock dan tak begitu luas ini berdiri 4 warung. Dua warung makan, dan 2 warung rokok serta minuman. Tak ketinggalan satu gerobak dorong penjual buah.

Di bawah pohon mangga yang sudah berumur puluhan tahun dan bertajuk rimbun ada meja kayu berbentuk persegi. Hanya  satu sisi saja yang  terbuka kolongnya. Sementara sisi lain tertutup. Alhasil,  kita mesti melebarkan kaki jika duduk. Kursi panjang ala kadarnya ditata mengelilingi meja.

Tepat di bagian depan gerbang, ada penjual gado-gado. Ibu penjualnya ramah. “Pedas atau tidak,” tanyanya, setiap kali ada orang pesan. Di sebelahnya warung rokok dan minuman. Di ujung kita akan menjumpai lagi penjual rokok dan aneka minuman sasetan plus mie instan. Meski pendiam, penjual mie instan ini cekatan. Dalam sekejap hidangan tersedia di atas meja, lengkap dengan dua saset sambalnya. Wuah … wuah…. Pedas level 3.

Pintu masuk dipalangi besi agar sepeda motor tidak masuk
Foto: dok. Istimewa

Bagi yang  pingin makan besar, si ibu di depan penjual gado-gado,  menyediakan masakan andalan – sup sayur plus lauk telur dadar, ikan goreng, dan ampela ati, lengkap dengan lilitan usus. Bakwan , tempe, dan tahu isi juga langsung ludes, meski baru keluar dari penggorengannya. 

“Minumnya apa, Mas?,” tanyanya ramah sehabis menyerahkan sepiring nasi. Dari logatnya, ibu ini berasal dari Jawa.

Ada juga tukang buah yang memonopoli penjualan. Ia paling ramai, malah terbilang kenes. Siapapun disapa, apalagi kalau kita menanggapi. Makin seru saja. Saya sempat mengulik dari mana buah-buah itu berasal.

“Daan Mogot, Pak.” Ia jujur, jika buahnya kurang manis, ia bilang apa adanya. “Lagi ngggak musim,” tambahnya.

Sebagai satu-satunya warung yang paling dekat dengan istana, tempat ini selalu riuh. Harganya ramah di kantong.   Tak mengenal kelas, warteg ini biasa disambangi mulai dari menteri hingga penata saji. Tercatat  Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri dan Menteri Perindustrian Saleh Husin mengisi perut sembari menunggu acara di istana pas jam makan siang pada 2015.

Tempat nyempil ini pun menjadi  “markas” bagi para pengawal para menteri atau pejabat. Bayangkan jika “di dalam” ada rapat lengkap, yang dihadiri 32 menteri, maka ada ada 32 pengawal belum termasuk ajudan, tumplek blek. Itu minimal.

Lalu-lintas komunikasi lewat handy talky  pun bersahut-sahutan dengan mereka yang ada di dalam. Jika ada panggilan, meski tengah ngopi atau bersantap, mereka akan  sigap dan bersiap. Nguing …. Nguing ….. nguing ……. Pejabat penting pun segera berlalu di bawah pengawalan yang ketat.

Sebagian karyawan lembaga kenegaraan, acap mengandalkan asupan makanan dan cemilan dari sini. Pun para tamu daerah yang  mau bertemu dengan pejabat pusat. Serasa seperti sebuah meeting point.

Tak pelak, beragam  rumor, gosip, atau berita panas kerap merebak dan berseliweran di sini. Isu politik,  rumor pergantian pejabat,  hingga pengerjaan proyek, dsb.

 Warteg ini bisa jadi menjadi saksi bisu dari satu pemerintahan ke pemerintahan. Mungkin juga akan melewati tahun penting saat negeri ini memasuki ulang tahun kemerdekaan ke-100. Pada 2045 nanti.

(G. Sujayanto-penata aksara, tinggal di Bekasi)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.