READING

Salah Kaprah Susu Kental Manis Adalah Susu Bayi

Salah Kaprah Susu Kental Manis Adalah Susu Bayi

Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa kandungan susu kental manis (SKM) cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang baru dilahirkannya. Mereka memilih memberikan SKM sebagai alternatif dari ASI karena harganya yang relatif murah daripada susu formula. Padahal bayi yang baru lahir masih memiliki sistem pencernaan yang sederhana dan sensitif.

SKM sendiri memiliki kandungan protein yang rendah karena melalui proses penguapan. Selain diuapkan dari susu sapi, SKM juga diberi gula tambahan sehingga kadar gulanya cukup tinggi. Pencernaannya pun belum bisa mencerna dan menyerapnya dengan baik.

Dalam laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dijelaskan bahwa laktosa merupakan sumber karbohidrat penting dalam ASI atau susu formula. Hampir seluruh laktosa yang masuk tersebut nantinya akan dipecah dalam usus halus menjadi partikel gula yang lebih sederhana yakni glukosa dan galaktosa. Hasil pecahan tersebut yang kemudian diserap dalam darah sebagai nutrisi tubuh.

Proses pemecahan sendiri dilakukan oleh enzim lactase yang ada di usus halus. Jika proses pemecahan ini bermasalah berarti ada masalah pula pada enzimnya. Hal ini biasa disebut sebagai intoleransi laktosa dan ditunjukkan dengan gejala diare pada bayi. Gejala lainnya seperti nyeri perut, kembung, muntah, hingga tinjanya berbau asam.

Sedangkan untuk anak di atas satu tahun, SKM tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka membutuhkan gizi yang lebih banyak dan beragam demi menunjang pertumbuhan dan perkembangan organ-organ vitalnya. Pada saat itu, anak sudah harus diberikan makanan pendamping ASI.

Pemberian susu maksimal hanya 30 persen dari kebutuhan kalorinya. Sedangkan 70 persen sisanya diberikan berupa makanan padat namun tetap memiliki tekstur yang lembut agar pencernaan bayi tidak bekerja terlalu berat. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan makanan apa saja yang diberikan dengan mengukur kandungan kalsium dan asam amino esensial yang masuk ke dalam tubuh si kecil.

Sementara itu, data dari Scientific community menunjukkan bahwa kandungan di dalam SKM didominasi oleh gula sucrosa sebesar 43-45 persen. Sedangkan 8 persen sisanya ada lemak susu, 6,5 persen mengandung protein susu dan 10 persen laktosa susu.

Angka ini menunjukkan bahwa SKM ini jauh dari rekomendasi gula tambahan yang dianjurkan WHO yang membatasi tidak lebih dari 10 persen saja. Inilah mengapa SKM sebenarnya dilarang untuk diberikan kepada anak-anak yang berada di bawah umur lima tahun secara berlebihan. Alih-alih kebutuhan nutrisinya terpenuhi, anak malah bisa menderita obesitas.

Para orang tua juga seringkali menganggap anak cukup mengonsumsi susu saja tanpa pemberian bahan makanan lain. Sehingga kebutuhan lainnya menjadi kurang. Makanya ada banyak kasus bayi menderita gizi buruk akibat kurangnya asupan gizi seimbang yang dibutuhkan tubuh.

Potensi diabetes juga bisa menyerang akibat tingginya kandungan gula dalam darah. Dan jika berjalan dalam jangka waktu lama, ginjal anak juga bisa bermasalah. Risiko lainnya yang mungkin muncul adalah bayi menderita alergi susu dengan gejala pada ruam pada kulit.

Jadi, sebisa mungkin hindari memberikan SKM kepada bayi dan anak balita karena memiliki kandungan gula terlampau tinggi dan protein rendah. Untuk anak usia di bawah satu tahun sebaiknya berikan ASI atau ASI donor yang telah terbukti aman. Jika tidak bisa karena suatu hal, berikan alternatif susu formula dengan anjuran dokter spesialis anak.

Penulis : Dina Rosyidha
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.