READING

Tradisi Nyekar Warga Kediri Sambut Ramadan

Tradisi Nyekar Warga Kediri Sambut Ramadan

KEDIRI – “Le, wes nyekar Bapakmu rung? Kok Ibuk ketok-ketoken Bapakmu (Nak, sudah ziarah ke makam Bapakmu belum, kok Ibu terbayang-bayang Bapakmu)” Kata Ibu saat keluar dari kamarnya, mengusik keasyikan saya menonton acara TV yang suka bagi-bagi hadiah besar, mulai dari emas hingga mobil, yang announcer-nya berulang kali mengklaim acaranya tanpa rekayasa itu.  “Iya, Bu. Besok saya nyekar Bapak.” Ah, kebiasaan jelek saya tak pernah hilang, yaitu suka menunda rencana. Dari kemarin saya sudah berencana ziarah ke makam Bapak, hingga hampir memasuki bulan puasa, saya belum juga melakukannya.

Seorang Ibu larut dalam doa di depan makam keluarganya

Ziarah makam atau nyekar diperbolehkan bahkan disunahkan oleh Rasulullah SAW, bertujuan untuk mengingatkan diri kita pada kematian. Ziarah makam dalam tradisi masyarakat Jawa juga disebut dengan nyekar yang asalnya dari bahasa Jawa yaitu sekar yang berarti kembang atau bunga. Mengapa ziarah juga disebut nyekar, karena pada praktiknya prosesi ziarah di masyarakat Jawa melibatkan penaburan bunga di atas makam yang dikunjungi. Sulit diketahui kapan tradisi nyekar ini muncul. Namun dipercaya bahwa tradisi ini adalah wujud sinkretis yang dilakukan oleh para wali saat menyebarkan ajaran Islam pertama kali di Pulau Jawa. Yaitu di satu sisi meneruskan tradisi Jawa yang memberi penghormatan kepada roh para leluhur dan di sisi yang lain membingkainya dengan ajaran Islam. Karena secara teologis, tradisi ini memang masih memiliki hubungan dengan akidah Islam tentang kematian. Bahwa setelah manusia meninggal, rohnya akan meninggalkan jasad dan akan berada di alam kubur hingga hari kebangkitan atau hari kiamat kelak.

Berbagai macam kembang seperti kenanga, mawar, kantil, pacar banyu, dan melati bisa dibeli disini

Pagi itu saya bergegas menuju Jalan Kyai Mojo Kota Kediri, salah satu sentra penjualan kembang tabur untuk ziarah. Dulu di kawasan ini terdapat pasar tradisional bernama Pasar Pon. Namun kini pasarnya sudah tiada, yang tersisa hanyalah beberapa penjual kembang boreh atau bunga tabur untuk ziarah yang menempati trotoar di sepanjang jalan. Tidak seperti hari-hari biasa, pagi itu penjual kembang lebih banyak. Selain penjual reguler, ternyata banyak penjual dadakan juga yang hanya membuka lapak saat menjelang Ramadan seperti saat ini. “Saya berjualan kembang hanya pas ramai seperti ini, Mas,” Kata Lilik, salah satu penjual kembang. “Selain menjelang puasa, orang-orang juga banyak membeli kembang saat maleman (malam ke-25 di bulan Ramadan) dan pas lebaran tiba.” Lilik sebenarnya berprofesi sebagai penjual pentol di depan rumahnya di Plosoklaten. Dia ikut berjualan di kawasan ini karena diajak oleh mertuanya, Mbah Rah, yang telah berjualan disini sejak dua puluh tahun lalu. Mbah Rah sendiri menempati lapak tepat di seberang jalan, dibantu oleh anak perempuannya, Titik. Mereka berdua tinggal Prambon, Nganjuk. Menurut Mbah Rah, saat-saat ramai seperti ini, penjualan bunga bisa meningkat hingga lima kali lipat dari hari biasanya. Tapi walaupun lebih ramai, pendapatan bersih yang mereka dapat tidaklah banyak. Dalam sehari mereka rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp 100.000.

Walaupun penjualan naik 5X lipat, namun pendapatan penjual tidak besar karena langka dan mahalnya kembang dari para pemasok

Penyebabnya adalah kurangnya stok dari tempat penghasil kembang. Sesuai dengan hukum ekonomi permintaan dan penawaran, saking banyaknya permintaan kembang untuk nyekar, menyebabkan kelangkaan hingga menyebabkan harga kembang naik tajam dari para pemasok. Kembang yang dijual di kawasan ini, semuanya adalah pasokan dari luar Kota Kediri. Kenanga banyak dipasok dari wilayah Srengat, Kabupaten Blitar. Mawar dari daerah Ngliman, Kabupaten Nganjuk dan bunga grendel dari Gambyok, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Satu kresek besar bunga mawar yang biasanya hanya dihargai Rp 15.000 – Rp 20.000, kini harus ditebus dengan harga Rp 100.000. begitu juga dengan kenanga dengan harga yang sama, padahal biasanya hanya Rp 40.000. Harga naik juga berlaku pada bunga kantil atau gading, pacar banyu, dan melati yang rata-rata mengalami kenaikan hingga dua-tiga kali lipat. Saya membeli 3 paket kembang boreh dari lapak Mbah Rah seharga Rp 5000 per bungkusnya. Saya intip isi di dalamnya terdapat kenanga, kantil, dan beberapa potong mawar. Ternyata saya juga mendapatkan serpihan daun pandan di dalam bungkus tersebut. Rupanya penjual menambahkan daun pandan agar terlihat lebih penuh, untuk menyiasati harga kembang yang naik tajam. Saya tak akan protes, karena paham dengan kondisi penjual kembang saat ini. Selain itu, bagi saya kembang boreh hanyalah penanda saja kalau saya sudah mengunjungi makam Bapak. Yang jauh lebih penting bagi saya, justru doa yang saya gumamkan nanti di sebelah pusara Bapak.

Di saat sedang ramai penziarah, mudah dijumpai anak-anak yang menawarkan jasa untuk membersihkan pusara di area makam

Makam Desa Burengan sudah terlihat ramai walaupun hari masih belum beranjak dari pagi. Begitu memasuki gerbang makam, saya melihat beberapa orang mengerubungi sumur, bergantian mengguyurkan air dari timba untuk membersihkan kaki dan tangan setelah berziarah. Di dekatnya ada beberapa sapu lidi yang memang disediakan bagi penziarah untuk membersihkan makam keluarga mereka. Tapi kalaupun tidak mau terlalu repot, penziarah juga bisa menyewa jasa anak-anak pembersih makam yang banyak dijumpai di saat-saat ramai seperti ini. Mereka tak meminta harga tertentu, seikhlasnya saja. “pengunjung ada yang memberi Rp 2000, Rp 5000, kadang juga ada yang Rp 20.000,” kata salah satu anak, kelas 6 SD, bersekolah di SDN Banjaran III Kota Kediri. “Dapat berapa biasanya dalam sehari?” Tanya saya pada anak yang lain. “Ndak mesti Mas, pagi ini saya baru dapat Rp 100.000,” Jawabnya santai tanpa beban. Tak berapa lama, mereka pun buyar meninggalkan saya sendiri. Mau beli rokok dulu kata salah satu dari mereka.      

Taburan kembang boreh di pusara Bapak

Saya berjalan hati-hati di antara makam yang berjejalan tak beraturan di sepanjang jalan setapak menuju makam Bapak. Sebisa mungkin saya tidak melompati makam seseorang, dan memilih melangkahkan kaki di sela-sela atau pinggirannya. Akhirnya saya sampai di makam Bapak. Saya lalu membuka bungkus tempat kembang boreh tadi dan menaburkan semuanya ke pusara. Setelah itu baru saya mengucap doa dalam hati. Saat nyekar seperti ini, memang lazim dijumpai orang-orang membacakan doa atau surat-surat pendek atau panjang dari Al-Quran di samping makam anggota keluarganya. Karena saya tak hapal banyak surat, maka hanya Al Fatihah yang bisa saya lantunkan dan memutar sebentar pita rekam kenangan bersama Bapak…

Teks dan Foto oleh Adhi Kusumo 

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.