Santri Alim dan Zuhud (3)

KEDIRI- Sebelum menyeberangi selat Madura dan nyantri di  Pondok Pesantren Kiai Syaikhona Kholil, Bangkalan, Mbah Manab menyempatkan belajar di Ponpes Kedungdoro Sepanjang, Sidoarjo. Seperti di tempat sebelumnya. Setelah dirasa cukup, Manab akan beralih ke ponpes lainnya. Tujuan pengembaraan berikutnya adalah ponpes Kiai Kholil yang dikenal sebagai  mahaguru kiai atau kiainya para kiai di tanah Jawa.

Di Ponpes Bangkalan Madura, setiap santri baru harus melalui ujian lahir dan batin. Setiap santri harus memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Untuk memenuhi itu Manab pun nyambi sebagai buruh tani. Bahkan ikut membantu panen petani di sawah sampai ke wilayah Jember dan Banyuwangi.

Upah yang diterima bukan uang, melainkan padi yang lalu digunakan bekal hidup di pesantren. Di buku Napak Tilas Masyayikh tertulis cukup banyak kisah kesederhanaan Mbah Manab selama 23 tahun nyantri di Bangkalan, Madura.

Saat mengikuti pengajian tafsir Al Jalalain di bulan ramadhan, Manab pernah tidak sadarkan diri. Usut punya usut, pingsannya Manab bukan lantaran cuaca panas Madura, melainkan belum makan sejak berbuka hingga sahur. Saking miskinnya, sejumput makanan untuk sekedar mengganjal perut saja, dia tidak punya.

Kemiskinan itu juga dikisahkan  di dalam cerita sepotong pakaian. Konon selama nyantri di Kiai Kholil, Manab hanya memiliki satu baju. Jika kotor, dia segera bergegas mencuci di sungai. Sambil menunggu baju mengering, Manab biasanya memilih berendam di sungai.

Selama di dalam air, waktu yang ada dia gunakan untuk menghafal Alfiyyah ibn Malik. Dia pernah hafal, namun lupa. Karenanya diulanginya sehingga pengetahuan itu betul betul menancap di ingatan. Meski santri papa, tekad belajar Manab tidak pernah padam. Dalam keadaan apapun, baginya proyek tholabul ilmi harus terus berjalan.

Suatu ketika Manab pulang ke Magelang untuk menengok saudaranya. Saat kembali, dia diberi uang saku oleh ibunya untuk membeli tiket kereta api. Alih alih membeli tiket, uang itu dia gunakan untuk membeli dua kitab, yakni Minhaj al Qawim dan Ibn “Aqil . Demi dua kitab itu, konsekuensinya Manab harus berjalan kaki ratusan kilometer ke  Bangkalan Madura.

Manab juga kerap menjual kitab yang sudah dia pahami isinya. Hasil penjualan dia gunakan untuk membeli kitab yang belum pernah dia tahu isinya. Selain itu dia kerap menukar kitab yang sudah dia kuasai dengan kitab milik temannya yang belum dibaca. Ketekunannya belajar membuatnya tumbuh sebagai santri alim sekaligus.

Diantara santri santri lain Manab kerap menjadi rujuan tempat bertanya. Suatu hari Kiai Kholil memanggil dan memintanya pergi dari pondok pesantren.

“Nab (Manab), ilmuku sudah habis. Kamu pulang saja, “kata Kiai Kholil seperti tertulis dalam buku Napak Tilas Masyayikh. Dari Madura, Manab melanjutkan nyantri di Ponpes Tebuireng, Jombang.  Lima tahun lamanya Manab memperdalam ilmu hadist. Gurunya, yakni Kiai Hasyim Asy’ari sama sama pernah nyantri di Kiai Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.

Baca juga :

Sang Founding Father Lirboyo

Menyusuri Jejak Bangkiak

Di Ponpes Tebuireng, Manab bertemu dengan sejumlah santri yang kelak menjadi pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren di tanah Jawa. Para santri itu diantaranya Wahab Chasbullah (Pengasuh Ponpes Tambakberas Jombang), Bisri Syansuri (Pendiri Ponpes Denanyar Jombang), Chudlori (Pendiri Ponpes Tegalrejo Magelang), dan As’ad Syamsul Arifin (Pengasuh Ponpes Sukorejo, Asembagus Situbondo).

Mbah Manab sendiri merupakan pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Lirboyo, Kediri. Sepulang dari menunaikan rukun Islam ke lima (haji), nama Mbah Manab berganti menjadi Abdul Karim. Kendati demikian masih banyak yang tetap memanggilnya dengan nama Mbah Manab. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.