READING

Santri Keren Tak Cukup Baca Al-Quran, Ini Buktinya

Santri Keren Tak Cukup Baca Al-Quran, Ini Buktinya

Santri pondok pesantren punya pandangan dan gagasan sendiri tentang kebangsaan. Dari balik tembok pesantren, mereka memotret dinamika negeri ini dengan sudut pandang berbeda.

Kamis, 3 September 2019, menjadi hari bersejarah bagi santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Di aula Muktamar yang megah, mereka menjadi saksi kedahsyatan para santri saat beradu argumen dan gagasan tentang bangsa. Ini bukan pemandangan yang biasa.

Mohamad Yasin Al-Muwaffaq berdiri dari lantai. Mengenakan kemeja lengan panjang, sarung, dan peci hitam, siswa Aliyah yang juga santri Pondok Pesantren Lirboyo ini bergegas naik ke atas altar. Di depannya terhampar ratusan santri yang duduk bersila.

Dengan muka tegang, Yasin mengambil mikrophone. Tangannya sedikit gemetar saat menyampaikan salam kepada rekan-rekannya yang menjadi penonton. Setelah menguasai diri, Yasin membuka lembaran kertas yang dibawa. Kertas ukuran A4 itu dipenuhi tulisan berbahasa Arab.

Sejurus kemudian Yasin menyampaikan isi tulisan itu dengan Bahasa Indonesia. Judulnya “Bangsaku Bangsa Yang Mandiri”.  Itu adalah tulisan esai yang ditulis Yasin dengan bahasa Arab. Yasin adalah salah satu dari 30 peserta lomba penulisan esai berbahasa Arab dengan tema kebangsaan yang diselenggarakan Pondok Pesantren Lirboyo, Lesbumi NU, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Di depan tiga dewan juri, Yasin mempresentasikan kembali isi tulisannya dalam waktu 10 menit. Paparan itu harus jelas, runtut, dan menggambarkan keseluruhan tulisan. Tanpa canggung Yasin menyampaikan pandangan dan gagasan tentang banyak hal yang dipotret dari sudut pandang santri.

Salah satunya adalah pendidikan pesantren. Pesantren yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dan kerap dinomorduakan dari lembaga pendidikan formal, dianggap memiliki sistem pendidikan yang lengkap. “Orang yang belajar di pondok pesantren tidak akan sama dengan orang yang belajar di luar pesantren. Sekolah-sekolah umum, perguruan tinggi di luar sana dapat membina otak, tetapi gagal dalam membina watak,” ungkapnya.

Menurut Yasin, alumni pesantren yang hidup di tengah masyarakat memiliki pandangan ideologi Islam moderat, tidak radikal, toleran, agar tercipta keserasian dengan manusia sekaligus Allah. Sehingga tak berlebihan jika dirinya menganggap pendidikan pesantren jauh lebih lengkap di banding pendidikan formal yang mengandalkan ilmu pengetahuan umum semata.

Kebanggan pada pesantren inilah yang disampaikan Yasin dalam tulisan panjangnya, sebagai representasi dari kecintaan pada tanah air. Karena itu sudah sepantasnya masyarakat Indonesia ikut menjaga eksistensi pondok pesantren agar tidak hilang. “Jika pesantren hilang, maka tradisi tahlil dan istighotsah yang menjadi media menjaga kerukunan akan turut musnah,” pungkasnya.

Usai membacakan tulisannya, Yasin masih harus mempertahankan pendapatnya di depan dewan juri. Berbagai kritik dan sanggahan dilontarkan juri untuk mengukur kedalaman pengetahuan Yasin sebelum diperkenankan turun dari altar.

Ada 30 santri yang menjadi peserta lomba penulisan esai berbahasa Arab. Dari jumlah itu, dewan juri memilih 10 santri terbaik untuk mempresentasikan di depan forum. Yasin adalah salah satunya.

Tak hanya santri Lirboyo, lomba penulisan esai ini juga diikuti delegasi dari sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur. Selain kebanggaan mewakili  pondoknya, para santri yang terpilh menjadi juara berhak membawa uang tunai dari panitia.

Nilainya cukup besar. Juara pertama diganjar hadiah uang tunai Rp 4,5 juta. Mereka juga berhak membawa tropi lomba penulisan esai yang baru pertama kalinya digelar di Pondok Pesantren Lirboyo. Lomba ini merupakan rangkaian dari Halaqoh Kebangsaan yang digelar mulai tanggal 1 – 4 Oktober 2019 di Lirboyo.

Membuka Ruang Kritis Santri

Lomba penulisan esai yang diikuti santri pondok pesantren ini dinilai strategis untuk menciptakan ruang kritis mereka. Forum seperti ini bisa menjadi katarsis bagi santri untuk berani mengemukakan pendapat.

Menulis esai adalah pilihan tepat untuk menggali pendapat para santri. Sebab tulisan esai memberi ruang lebih luas dan cenderung tak memiliki pakem yang mengikat. Hal ini sekaligus menjadi solusi bagi sebagian santri yang merasa grogi saat menyampaikan pendapat secara lisan, dan lebih menyukai melalui tulisan.

“Ketika santri menulis, itu sudah menjadi poin plus. Hasil muktamar sastra 2018 lalu salah satunya mengkritisi minimnya santri yang menulis meski ada ribuan santri di Indonesia,” ungkap Titik Kartitiani, penulis yang juga editor Jatimplus.ID.

Selama ini tulisan-tulisan soal pesantren justru lebih banyak ditulis oleh orang di luar pesantren. Padahal pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pesantren masih kalah jauh di banding santri yang berada di dalamnya.

Tema kebangsaan yang dipilih oleh panitia dalam lomba ini, menurut Titik, juga sangat strategis. Sebab santri akan memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang nasionalisme, lengkap dengan dalil-dalil agama yang relevan. “Tulisan santri akan memperkaya khasanah. Sehingga akhirnya, mereka bisa menunjukkan wajah Islam yang lebih ramah,” pungkas Titik.

Imam Mubarok Muslim, pengurus Lesbumi NU Jawa Timur mendorong santri tak sekedar bisa baca tulis Al-Quran. Peran santri dalam menyampaikan dakwah juga harus mengikuti perkembangan jaman, di antaranya melalui tulisan. “Dalam menulis ada banyak hal yang dipelajari sekaligus, yakni membaca dan menyampaikan pikiran secara runtut,” kata pengajar Institut Agama Islam Tribakti Kediri ini.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.