READING

Santri Ponpes Tebuireng Jombang Kritik Adegan Film...

Santri Ponpes Tebuireng Jombang Kritik Adegan Film The Santri Tak Layak Tonton

Masih juga yang beredar trailer berdurasi 2 menit 45 detik. Namun polemik  film The Santri sudah bermunculan. Bahkan di media sosial telah mencuat tagar pemboikotan. Apakah ini bagian isyarat langit jika film The Santri bakal meledak?

JOMBANG- Denta Fatwa merupakan salah satu santri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Pesantren dimana organisasi Nahdlatul Ulama (NU)  didirikan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Dia tahu, film The Santri garapan sutradara Livi Zheng yang rencananya dilaunching bertepatan Hari Santri 22 Oktober 2019 itu dieksekutif produseri oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Namun hal itu tidak mengurungkan Denta mengkritik adanya adegan film The Santri yang menurutnya kurang layak tonton. Adegan interaksi antara santri dan santriwati yang dipamerkan di trailer, kata dia tidak mencerminkan kehidupan seorang penimba ilmu di lingkungan pondok pesantren.   

“Memang ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan tradisi santri. Seperti adanya sorotan berlebihan pada hubungan pria dan wanita yang tidak menikah. Padahal di pesantren itu ternasuk pelanggaran berat,” kritiknya.

Trailer film The Santri dibuka dengan suara dan adegan Wagub Jawa Timur Emil Elestianto Dardak sebagai seorang ulama atau santri senior. Gus Emil begitu panggilan barunya, memberi wejangan di depan para santri remaja.

Di adegan lain memperlihatkan sepasang santri dan santriwati yang terikat sebagai kekasih yang hendak berpisah. Sementara berpacaran di lingkungan pesantren, hukumnya haram. Santri yang ketahuan harus siap menerima takzir atau hukuman mulai skorsing hingga digunduli rambut kepalannya.  

Kendati demikian Denta juga melihat hal positif yang bisa jadi pelajaran, semisal pengabdian santri pada guru, kegigihan untuk belajar, keikhlasan kiai dalam mengajar dan kesederhanaan kaum santri sendiri.

Dia justru berfikir polemik film The Santri  jangan jangan hanya bagian dari strategi marketing. Sebab sejauh ini pihak manajemen juga menanggapi dengan santai.

“Tidak perlu juga masyarakat berlebihan menyikapi pro dan kontra The Santri. Saya khawatir ini hanya strategi marketing biar orang penasaran dengan The Santri lalu berebut untuk menontonnya. Hingga saat ini tim manajemen juga santai saja. So, jangan berlebihan lah menyikapi hal ini, ”tambah Denta.

Pendapat lebih “pedas” disampaikan Khoirul Anam salah satu aktivis NU di Jombang. Anam mengatakan ormas NU harusnya tidak perlu terlibat langsung dalam pembuatan film.

Dia beralasan  hukum menggambar atau memvisualisasi mahluk bernyawa seperti manusia hingga kini belum berubah, yakni dari haram ke makruh atau mubah. “Hukumnya belum berubah, “katanya.

Anam juga berdalih, tidak semua hal diurusi oleh NU. Apalagi urusan film. Sebab di dalam NU banyak terdapat para kiai. Dan pendapat yang muncul adalah tidak lumrah jika kiai membikin film.

“Anggap saja ini komentar dari santri yang pernah dihukum atau pernah kucing-kucingan dengan keamanan pondok gara-gara nonton bioskop, ”sebutnya.

Kendati demikian, bagi Anam proyek pembuatan film bisa diterima jika yang melakukan lembaga khusus yang mengurusi seni budaya, yaitu Lesbumi. Dalam sejarahnya Lesbumi pernah memiliki tokoh film seperti Usmar Ismail, Asrul Sani dan Jamaluddin Malik.

Sementara dalam film The Santri, cawe cawe itu seakan dilakukan langsung oleh PBNU yang melibatkan orang-orang luar.

Letak masalah menurut pandangan Anam bukan soal cinta. Sebab dia yakin banyak penikmat film tanah air yang menggemari adegan percintaan. Bagi Anam kontroversi film The Santri ada pada adegan tumpeng yang dibawa santri ke gereja.

Masyarakat Indonesia khususnya umat Islam, hingga kini masih banyak yang memiliki tafsir berbeda soal hubungan dengan umat non muslim. Terutama menyangkut kemurnian aqidah.

Saat dilaunching nanti, Anam juga berharap tidak ada mobilisasi kepada santri untuk menonton film The Santri. “Saya tegaskan, tidak perlu juga menggiring santri untuk nonton film. Karena nonton film bukan ibadah. Kalau mau ditonton dan laris manis, ya film-nya harus baguslah,” tutup Anam.

Reporter: Syarif Abdurrahman
Editor: Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.