READING

Santriwati Dilecehkan, Ratusan Perempuan Jombang T...

Santriwati Dilecehkan, Ratusan Perempuan Jombang Turun Jalan

JOMBANG – Ratusan perempuan di Jombang berunjuk rasa menuntut penuntasan kasus kekerasan seksual yang terjadi di pondok pesantren. Peristiwa ini dialami seorang santri perempuan dengan pelaku pengurus pondok.

Aksi ratusan perempuan ini dilakukan di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang pagi tadi. Mengenakan pakaian serba hitam, mereka membawa poster dan berorasi menuntut penangkapan pelaku oleh polisi.

“Kami meminta polisi segera menuntaskan kasus ini. Salah satu tuntutan kita yaitu penahanan pelaku,” kata Palupi Pusporini, koordinator aksi massa yang menamakan diri Aliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksual, Rabu 8 Januari 2020.

Palupi menjelaskan, kasus kekerasan seksual ini dialami oleh NK, seorang santriwati di salah satu pondok pesantren di Jombang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2017 lalu, saat NK menawarkan diri menjadi relawan di balai kesehatan pondok tempat SA bertugas. SA adalah pengurus pondok sekaligus putra dari kiai pengasuh pondok tersebut.

Kala itu SA memberikan syarat tertentu kepada NK dan belasan santriwati lain yang ingin menjadi relawan kesehatan, yakni mengikuti wawancara khusus dengan SA. Wawancara itu dimaksudkan untuk menyalurkan ilmu metafakta yang dimiliki SA kepada NK. “Wawancara kepada korban dilakukan di sebuah gubuk pukul 23.00 WIB,” terang Palupi.

Saat itulah SA memperdaya NK dengan menyatakan ketertarikan untuk menjadikan istri. Tak hanya itu, SA juga meminta NK melepaskan seluruh pakaian dan diajak berhubungan badan. SA meyakinkan korban bahwa dirinya bisa menikahkan dirinya sendiri dengan cara menyentuh dada korban dan beralih ke punggung. Dengan ritual itu, SA meyakinkan korban jika mereka telah menjadi suami istri secara agama.

Tak selesai di sana, SA juga mengulang perbuatannya dengan mengajak NK berhubungan badan di hari lain. “Saat itulah SA menyadari menjadi korban pelecehan seksual setelah mendengar ada korban lain selain dirinya,” kata Palupi.

Kasus ini pun dilaporkan ke Polres Jombang yang langsung menetapkan SA sebagai tersangka. Namun hingga kini penyidikan tersebut dinilai lamban dan masih membiarkan SA bebas.

Hal ini memantik reaksi aktivis perempuan di Jombang untuk turun jalan. Mereka antara lain adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Women Crisis Center (WCC), Fatayat, LBK, KPI, Gus Durian dan Formujeres.

Sementara itu saat berunjuk rasa di Mapolres Jombang, Kapolres AKBP Boby P Tambunan menegaskan jika kasus itu tak pernah dihentikan. Polisi berdalih tersangka tak memenuhi panggilan pemeriksaan hingga membuat penyelesaian kasus ini lama. “Kita sudah lakukan pemanggilan yang pertama, surat pemanggilan kedua sudah dilayangkan. Kita akan selesaikan kasus ini secepat-cepatnya,” tandasnya.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.