READING

Saya Diet Kantong Plastik, Ferguso! Bukan Syarat S...

Saya Diet Kantong Plastik, Ferguso! Bukan Syarat Susuk Kecantikan, Apalagi Pesugihan

Baiklah. Di media sosial kita bisa mengunggah tote bag kain, sedotan logam, tumbler, sampai pada kotak-kotak untuk wadah belanja daging. Di Pasar Bence, tak semudah itu, Ferguso! Saya harus nyerocos kuliah 7 menit tiap transaksi, berkali-kali. Lalu si pedagang bertanya dengan sangat-sangat santun,” Maaf, apakah ini sarana pesugihan atau nglakoni?” Di situ saya mendadak merasa terkucil.

Sebut saja Kolonel Sander (bukan nama sebenarnya) yang menjual ayam potong di Pasar Bence, Kelurahan Ngrongo, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Seorang pedagang ayam yang gigi depannya dimakan usia dan sangat ramah. Tak hanya ramah menyapa pada setiap pelanggannya, tapi juga kerap memberi bonus. Kadang tambah satu ceker, potongan sayap, kepala, dan satu lagi: kantong plastik! Tidak tanggung-tanggung, untuk setengah kg ayam, Kolonel Sander selalu membungkus minimal dua lapis. Pertama kantong plastik yang bersentuhan langsung dengan daging, diikat, lalu dimasukkan lagi ke kantong plastik. Rata-rata penjual daging dan ikan melakukannya. Khusus untuk Kolonel Sander ini, kerap kali ditambah satu kali lagi.

Pada awalnya, sekitar 2 tahun silam, ketika pertama kali saya belanja di pasar ini, saya sudah menolak. Namun tak mudah. Kolonel Sander bersikukuh, kantong plastik ini gratis. Dengan memberikan kantong plastik, ia merasa memberikan layanan terbaik untuk pelanggannya. Awalnya, saya mengurangi. Jadi cukup satu kantong plastik saja lalu saya masukkan ke dalam tas belanjaan.

Namun ada yang salah dengan strategi saya. Di pasar ini ada lebih dari 7 orang pedagang daging ayam dan saya tak selalu belanja di satu tempat. Maksud saya, bagi-bagi rezeki. Akibatnya, pedagang tak hapal dengan saya. Saya selalu mulai dari awal, bahwa saya tak membutuhkan kantong plastik. Ini butuh waktu kira-kira 1 tahun untuk meyakinkan bahwa tas saya tak akan kotor kena bocoran daging. Sungguh, 1 tahun dan sampai detik ini, masih selalu menjelaskan.

Akhirnya saya memutuskan belanja di satu tempat saja, yaitu di tempat Kolonel Sander itu pada tahun kedua. Ini juga saya lakukan untuk belanja sayur, belanja bumbu, dan belanja yang lain-lain ke tempat yang sama. Awalnya saya seolah ingin mengubah dunia menyadarkan pedagang sepasar. Tapi sungguh, saya kemudian lelah hayati. Belum lagi, saya kadang-kadang belanja kesiangan dan buru-buru. Cara ini lumayan efektif, sebab pedagang mulai hapal dengan saya dan kebiasaan saya.

Sebut saja Nyonya Popeye (masih bukan nama sebenarnya), sayuran dagangannya. Menariknya lapak Nyonya Pepoye ini, dia seperti menjual dari hasil kebunnya. Kadang-kadang saya menemukan jambu kancing hanya 2 plastik, 1 buah sirsak, satu sisir pisang, seikat sayur paku seperti dipanen dari kebunnya. Selebihnya sayuran sejuta umat yaitu bayam, kangkung, kubis, dan wortel.

Awalnya, saya menolak kantong plastik. Kata Nyonya Popeye, kantong ini gratis dan tidak sopan jika belanjaan ditenteng. Tapi kan saya tak menenteng, saya memasukkannya ke dalam tote bag. Terjadilah tarik menarik terong dan kantong plastik. Sebuah adegan yang tidak seharusnya terjadi dan saya mengalah karena menghormati yang lebih tua.

Lain hari, saya membiarkan Nyonya Popeye memasukkan sayuran ke dalam kantong plastik terlebih dahulu (bahkan sayuran yang sudah diikat pun, dimasukkan ke dalam kantong plastik!). Sebab jika dicegah di awal, akan kacau. Ia sudah sangat otomatis melakukannya. Nah, setelah belanjaan saya terima, saya akan tuang ke tas belanjaan lalu kantong plastiknya saya kembalikan. Alasannya, untuk pembeli berikutnya. Lalu secepatnya ngeloyor pergi.

Tapi untuk barang yang sudah dikemas di plastik, sebaiknya tak perlu cari perkara. Misalnya gula pasir, kerupuk, garam, dll. Konsepnya, cukup mengurangi saja. Sebab mengubah menjadi tanpa plastik sama sekali, rasanya akan jadi public enemy sepasar.

Mari kita hitung. Satu jenis barang, satu kantong plastik. Kalau ada 10 item, ada 10 kantong plastik juga. Bila kita bisa memasukkannya jadi satu ke dalam tas, maka 10 kantong plastik tidak masuk bak sampah pagi itu. Kalaupun terpaksa, kumpulkan, lipat rapi, lalu berikan ke tukang sayur keliling. Mereka akan senang menerimanya. Minimal, satu kantong plastik digunakan lebih dari sekali.

Khusus untuk belanja daging dan ikan, saya makin gigih dengan membawa toples plastik. Sampai di sini, Kolonel Sander semakin tak memahami. Saya sudah jelaskan untuk mengurangi sampah plastik.

“Kan sudah ada yang mengurus. Ada Dinas Kebersihan Kota,” kurang lebih begitu. Saya pernah jelaskan, bahwa sampah plastik ini butuh waktu lama untuk membusuk. Namun penjelasan itu tidak ada artinya, kembali pada point bahwa sampah ini sudah diurus Dinas Kebersihan.

Sampai di sini, akhirnya saya tak menjelaskan apa-apa tapi lebih ke instruktif. Saya mau tanpa kantong plastik. Melihat kegigihan saya dan kedekatan kami sebagai langganan, Kolonel Sander dengan sangat hati-hati dan berbahasa Jawa demikian halus menanyakan tentang kantong plastik ini.

Nyuwun sewu, Mbak. Sepura lho nggih. Napa sampeyan niku nembe nglakoni?” tanyanya. (Maaf Mbak. Sekali lagi maaf. Apa Anda sedang melakukan ritual?)

Nglakoni napa, Pak?” (Ritual apa, Pak?”)

Pesene wong pinter. Susuk napa pesugihan mbokmenawa.” (Pesan dukun. Untuk susuk atau pesugihan).

Mendadak saya mau ngakak tapi takut tidak sopan. Kalaupun saya mencari pesugihan, apa Kolonel Sander tak melihat bahwa siapapun dukunnya, jelas gagal. Karena dari sisi manapun, saya tak tampak sebagai horang kaya berpesugihan. Kalau nglakoni untuk pasang susuk pemikat, apalagi! Sejauh ini saya toh belum mirip Julia Robert.

Mengubah Kebiasaan itu Butuh Waktu

Begitulah potret kecil, bagaimana kantong plastik ini sudah sedemikian “mendarah daging” dalam setiap transaksi. Ingatan saya mundur pada era tahun 1980-an ketika eksistensi kantong plastik belum semasif sekarang. Ibu saya selalu membawa tas belanja ke pasar sebab saat itu kantong plastik membeli. Rp 50,- selembar, angka yang mahal saat itu.

Jika terpaksa beli, ibu akan menyimpannya baik-baik sebab akan digunakan lagi. Kantong plastik ukuran kecil rasanya belum ada. Kami menyebutnya plastik kelir, plastik yang bergaris-garis dengan ukuran besar, untuk wadah semua belanjaan, bukan per barang.

Setiap barang akan dibungkus daun pisang. Mulai dari bawang merah, bawah  putih, lengkuas, kecambah sampai daging ayam. Betul, daging ayam dibungkus dengan daun pisang atau daun jati. Para pedagang masa silam begitu hapal urat daun dan bagaimana memperlakukan daun pisang sehingga liat. Bahan cair pun, mereka bisa membungkusnya hingga tak bocor.

Saya tak hendak glorifikasi masa lalu. Hanya flash back saja. Hal yang kini jadi masalah, yaitu kantong plastik, pernah tak dibutuhkan dan kehidupan berjalan baik-baik saja. Lalu bisakah kita kembali seperti itu? Jelas tak mudah. Mencari daun pisang pun susah.

Akhir tahun 1990-an, kebiasaan berubah. Butuh waktu lama untuk mengubah penggunaan daun berganti dengan kantong plastik sampai menjadi kebiasaan. Praktis meski harus membayar. Lama-lama, kantong plastik menjadi gratis.

Namun, kenyamanan selalu ada ongkosnya. Sampah plastik mencemari laut dunia. Bahkan, Indonesia berada di peringkat kedua dunia setelah Tiongkok, sebagai penyumbang sampah plastik di laut.

Keadaan ini sampai mengundang perhatian Leonardo Di Caprio dalam instagram-nya mengomentari soal sampah plastik Indonesia ini. Tentu saja Leo tak berhadapan dengan pedagang di Pasar Bence. Bukan berarti para pedagang ini tak peduli, namun soal sampah plastik ini di luar khasanah pemikiran mereka.

Tanpa bermaksud mencari kambing hitam, toh teknologi plastik ini juga datang bukan dari Indonesia. Ketika negara lain sudah menggunakan, Indonesia masih menggunakan daun. Ketika kini plastik jadi petaka, rasanya butuh waktu juga untuk mengubahnya.

Minimal, mengurangi. Ya, mengurangi semampunya dari setiap individu. Oh ya, saya jadi mikir. Kalau memang ada dukun yang menyarankan diet kantong plastik, tampaknya dukunnya seorang aktivis lingkungan. Mungkin bisa dipertimbangkan mencari susuk cantik ke sana. Begitu, Esmeralda? (Titik Kartitiani)

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.