READING

Sayur Organik Sistem Hidroponik Bisa Dijual, Bisa ...

Sayur Organik Sistem Hidroponik Bisa Dijual, Bisa Beramal

KEDIRI – Aktivitas berkebun memang tidak ada matinya. Apalagi di tengah kondisi saat ini yang penuh ketidakpastian. Pasokan bahan makanan menjadi sangat dibutuhkan. Membuat harga-harga menjadi tidak menentu dan rawan mengalami lonjakan. Hasil panennya pun tidak hanya bisa dinikmati sendiri, tetapi juga bisa bermanfaat untuk orang lain.

Seperti yang dialami Maesaroh, salah satu anggota Komunitas Hidroponik Kota Kediri (Kohikari). Perempuan 48 tahun ini sudah memulainya dengan memanfaatkan lahan sempit di tempatnya mengajar yakni di PAUD SPS Ar-Rahmat, Kleco, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren.

Modal instalasinya dibiayai oleh sekolah. Dari sana, PAUD pun punya penghasilan tambahan untuk biaya operasional. “Pada saat itu saya hanya berpikir agar PAUD punya penghasilan tambahan,” kata Maesaroh.

Di tahun 2018, Maesaroh pun mencoba membuat sendiri di rumahnya dengan lahan seadanya yakni tidak sampai 20 meter persegi. Setahun kemudian, Maesaroh sudah berhasil panen secara berkala dan mulai menjual hasil panennya bersama komunitas.

Baca juga : Bosan di Rumah? Berkebun Aja Yuk!

Karena dianggap produktif dan berhasil, ia pun saat ini bekerjasama dengan Koramil 0802/02 Pesantren untuk mengelola kebun hidroponik di halaman kantor tersebut. Luas kebun itu sekitar 10 meter persegi saja. Ada setidaknya 14 pipa PVC yang dijadikan sebagai instalasi hidroponik di sana.

Sejumlah 8 pipa terdapat 22 titik, dan 6 pipa dilubangi 19 titik. Jumlah titik ini dibuat berdasarkan ketentuan jarak tanam ideal jenis-jenis sayuran yang akan ditanam. Jadi tidak asal membuat lubang. Di kebun ini ada tiga jenis sayuran yang ditanam yakni kangkung, selada, dan samhong.

Instalasi hidroponik sederhana menggunakan pipa PVC dengan lubang yang disesuaikan aturan jarak tanam sayuran. Foto : dok Humas Pemkot

“Panen kangkung biasanya setiap dua minggu sekali. Di sini bisa dapat 10 kg per panen,” tambah perempuan yang juga menjadi bagian pemasaran Kohikari ini.

Harga kangkung di tingkat pembeli bisa mencapai Rp 15 ribu per kg. Sedangkan selada dan samhong dijual Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kg. Harganya relatif lebih mahal daripada sayuran pada umumnya karena produksi Maesaroh ini termasuk sayur organik. “Pembelinya kebanyakan langganan dan bila panen banyak sisanya kadang dikirim ke Surabaya,” tambahnya.

Menurut Maesaroh, selama wabah corona, penjualan sayuran tetap stabil. Mengingat sayuran adalah kebutuhan makanan harian. Sehingga tetap dikonsumsi dalam kondisi apapun. Hanya saja saat ini Maesaroh tidak bisa mengenalkan hidroponik secara luas karena kendala mobilitas yang terbatas.

“Kohikari tak hanya menjual sayuran, tapi juga ada misi untuk mengenalkan bertanam di halaman rumah dengan sayuran ini,” bebernya.

Tidak hanya untuk diperjual-belikan, Kohikari juga mendonasikan beberapa hasil panennya untuk menyuplai kebutuhan masyarakat yang terdampak wabah. Kamis lalu (23/04), Kohikari kembali menyumbang sayuran organik untuk Kelurahan Dandangan, Kota Kediri. Jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya yakni mencapai 233 paket sayuran atau sekitar 1,5 kuintal sayur.

“Alhamdulillah bisa bermanfaat dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang melakukan isolasi diri. Semoga wabah ini bisa segera selesai,” pungkasnya.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.