READING

SD Pelangi Bangsa, Mujur Karena Digusur

SD Pelangi Bangsa, Mujur Karena Digusur

Sebuah bangunan sekolah terbengkalai di Dusun Tanjung, Desa Grogol, Kabupaten Kediri. Dusun yang tak lama lagi beralih rupa menjadi landas pacu bandara ini menyisakan puing dan kenangan.

Bangunan lama SD Pelangi Bangsa yang ditinggalkan penghuninya.

Sekolah Dasar Pelangi Bangsa yang ada di Dusun Tanjung menarik perhatianku. Sekolah ini terlihat lengang dan tanpa aktivitas. Bukan saja ditinggal oleh murid-muridnya, seluruh perabot dan perlengkapan belajar juga melompong.

Halaman sekolah ini tak terlalu luas, namun asri karena banyak pepohonan. Tepat di tengah halaman berdiri kokoh sebuah patung adat Dayak, layaknya laskar yang menjadi penghuni terakhir sekolah ini.

Saya memutuskan menelusuri ruang demi ruang yang ada. Dinding kelasnya berwarna putih, dengan beberapa “artefak” yang ditinggalkan penghuninya. Seperti daftar piket kelas serta potongan majalah bergambar menara Eiffel. Sementara di bagian lain terdapat beberapa ruangan tak beratap.

Melihat sisa bangunannya, saya bayangkan sekolah ini dulunya pasti keren dan menjadi favorit orang tua untuk menyekolahkan anaknya disini. Padahal letaknya tidak terlalu strategis, karena jauh dari keramaian kota.

Salah satu “artefak” yang ditinggalkan murid-murid SD Pelangi Bangsa di bekas sekolahnya.

Di mana mereka sekarang?

Dalam perjalanan pulang, saya mampir di sebuah warung kelontong untuk membeli minuman dingin. Siang yang terik membuat kerongkonganku kering.

Sembari mengangsurkan uang untuk membayar, saya bertanya ke bapak pemilik warung, “Pak tahu SD Pelangi Bangsa yang tergusur pembangunan bandara? Sekarang mereka pindah kemana ya?”

Pemilik warung pun menjelaskan kondisi sekolah yang baru. Ternyata SD Pelangi Bangsa hijrah tak terlalu jauh dari lokasi lama, sekitar satu kilometer saja. Saya pun bergegas menuju ke sana sambil menyalakan Google Map yang tersemat di HP.

Alamat yang muncul di mesin pencarian Google adalah “SD Pelangi Bangsa, Sawah, Grogol, Kec. Grogol, Kediri, Jawa Timur 64151”. Menunjukkan jika lokasi yang baru belum teridentifikasi secara resmi.

Bangunan baru SD Pelangi Bangsa.

Setelah menyusuri jalan desa, saya menemukan sekolah itu. Gedung sekolah ini tampak menonjol di tengah hamparan lahan pertanian sekitarnya. Seluruh bangunan dicat warna biru hingga terlihat megah laiknya sekolah di kota besar.

Terdapat empat bangunan utama di sekolah ini, dengan lokasi belajar taman kanak kanak dan sekolah dasar di bangunan utama berlantai dua. Sedang dua gedung di kanan kirinya berfungsi sebagai kantin, ruang kegiatan sekolah, dan ruang guru.

Sebuah masjid yang cukup besar juga dibangun di area itu. Lantunan ayat suci Al Quran terdengar melalui pengeras suara, menunggu waktu Shalat Jumat tiba.

Siang itu masih banyak anak-anak yang belum pulang. Mereka kompak mengenakan busana muslim. Beberapa anak terlihat makan siang di kantin. Sedangkan yang lain riuh berlarian di halaman dan koridor sekolah.

Tanah lapang yang menjadi halaman sekolah masih terlihat kosong dan gersang. Belum banyak pohon dan bunga yang ditanam. Beberapa pekerja bangunan juga masih beraktivitas di halaman. Tampaknya mereka sedang menyelesaikan pembangunan taman.

Bangunan utama terdiri dari 2 lantai untuk ruang kelas murid yang total berjumlah 300 orang, mulai dari TK hingga SD kelas 6.

“Khusus hari Jumat, siswa perempuan boleh pulang jam sebelas. Sedangkan yang laki-laki wajib mengikuti Shalat Jumat,” terang Samsul, salah satu guru SD Pelangi Bangsa yang menemani saya melihat ruang sekolah.

Ia menjelaskan sekolah ini resmi diserahterimakan pada 13 Januari 2020. Namun aktivitas pindahan sudah dilakukan sejak Desember 2019. Dan terhitung tanggal 6 Januari 2020 seluruh kegiatan belajar mengajar di SD Pelangi Bangsa telah beroperasi.

Murid-murid merasa senang dan nyaman dengan bangunan baru.

Samsul menuturkan bahwa SD Pelangi Bangsa termasuk obyek yang mengalami penggusuran di awal pembangunan bandara. Sementara warga Dusun Tanjung sendiri telah pindah dari dusun lamanya dan membangun rumah baru di Dusun Bedrek Selatan, di lahan baru yang dinamai Tanjung Baru. Nama ini dipilih sebagai pengingat anak cucu mereka dari mana nenek moyang mereka berasal.     

Lokasi SD Pelangi Bangsa dibangun tak jauh dari kompleks pemukiman baru itu, sehingga memudahkan anak-anak bersekolah.

Masjid cukup besar dan megah turut dibangun di area sekolah.

“Apakah ini berarti pertukaran itu menguntungkan?” tanyaku. Samsul tertawa lebar dan meminta saya membandingkan kondisi SD Pelangi Bangsa yang baru dengan yang lama.

Tak saya pungkiri memang ganti untung itu nyata. Kalau saya bandingkan, luas bangunan SD Pelangi Bangsa yang lama hanya seperempat dari bangunan baru. Lebih dari cukup untuk menampung 300 pelajar yang terdiri dari 125 siswa taman kanak kanak dan 175 siswa sekolah dasar.

Luasnya areal sekolah ini sempat memunculkan ide membangun asrama untuk full day school. Tapi ide itu belum mendapat persetujuan.

Ruangan baru dengan bangku dan meja dari sekolah lama.

Setelah beberapa lama ngobrol, saya meminta ijin untuk berkeliling mengamati denyut sekolah baru ini. Beberapa anak perempuan berlarian di antara pilar-pilar koridor sekolah. Mereka terlihat ceria dan tak canggung menyapa saya, menunjukkan pendidikan karakter yang baik di sekolah ini.

“Senang Dik, sekolah di sini?” tanyaku. Mereka serempak mengangguk dengan muka berbinar.

Saya lalu melongok ke dalam kelas melalui jendela. Pandangan saya tertuju pada bangku dan meja usang yang kurang padan dengan ruang kelas. “Kok meja kursinya tidak sekalian baru, Pak?” tanyaku ke Samsul saat menuju masjid.

“Kan yang ditukar guling cuma bangunannya,” jawabnya tertawa.

Setelah shalat Jumat, anak-anak pun pulang dengan berbagai kendaraan, termasuk angkutan khas pedesaan.

Teks dan Foto : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.