READING

Sejak Mataram dan Kediri Kuno, Pemindahan Ibukota ...

Sejak Mataram dan Kediri Kuno, Pemindahan Ibukota Hal Biasa

Pemindahan ibu kota negara Indonesia bertujuan untuk mengurangi dominasi Jawa, yakni terutama dalam sektor perekonomian.

KEDIRI- Selama ini seluruh kegiatan ekonomi terpusat di Jawa, khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya. Tidak hanya soal pembangunan yang mendahului pulau lainnya. Pertumbuhan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa juga tidak seimbang. 

Bergesernya pusat kekuasaan ke luar Jawa akan mengikis dominasi Jawa. Jawa tidak lagi pemegang kunci tunggal. Presiden Joko Widodo berharap akan terjadi pemerataan ekonomi. Terutama Indonesia bagian timur yang selama ini masih tertinggal.

Baca Juga : https://jatimplus.id/ribuan-santri-lirboyo-sholat-ghaib-untuk-mbah-moen/

“Supaya lebih Indonesia sentris, karena bagaimana pun Jawa ini terlalu dominan untuk perekonomian Indonesia, “ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro.

Perpindahan ibukota juga akan mengurangi beban berat yang selama ini dipikul DKI Jakarta dan Pulau Jawa pada umumnya. Terutama terkait laju pertambahan penduduk yang pesat. 

Sebanyak 57 persen dari penduduk di Indonesia berada di Pulau Jawa. Selebihnya di Sumatera 21 persen, Kalimantan 6 persen, Sulawesi 7 persen, dan Papua-Maluku 3 persen. Selain kemacetan, problem lain yang muncul adalah banjir.

“Pertimbangan rasional yang bisa pindahkan ibu kota baru dari Jakarta, mendorong pemerataan ekonomi ke Indonesia bagian timur, “kata Bambang.

Baca Juga :https://jatimplus.id/tanda-kasih-umat-katolik-mojokerto-untuk-mbah-moen/

Seiring kepastian perpindahan ibukota yang disampaikan Presiden Jokowi, pulau Kalimantan disebut sebut. Namun apakah Palangkaraya atau Samarinda, pilihan belum dijatuhkan. Wakil Presiden Jusuf Kalla sendiri mengusulkan Mamuju.

Sementara perpindahan ibukota dari Jakarta ke luar Jawa diestimasikan bakal menghabiskan biaya Rp 466 triliun. Skema pembiayaan itu bisa berasal dari banyak sumber, yakni APBN kerjasama pemerintah badan usaha, BUMN dan swasta murni. 

Dari Ibukota ke Ibukota

Pada awal mulanya kerajaan dan kraton berdiri di Jawa Barat. Mulai abad 6 pindah ke Jawa Tengah dan mulai abad 10 pindah ke Jawa Timur. 

Seperti ditulis Linus Suryadi AG dalam “Regol Megal Megol, Fenomena Kosmogoni Jawa”, seolah telah terbentang radius waktu dan zaman tetap, bahwa setiap 500 tahun berjalan, maka pusat keraton beralih jatah dan bergerak dari belahan Jawa Barat, Tengah, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Seolah olah pulau Jawa dibagi menjadi tiga belahan, “tulisnya. Karenanya dalam ritus peralihan  kekuasaan di Indonesia, pemindahan ibukota bukan hal baru. 

Baca Juga : https://jatimplus.id/tidak-seperti-rachma-dan-sukma-kenapa-saat-nyekar-makam-bk-megawati-selalu-anti-kamera/

Di masa Kerajaan Mataram Kuno, Raja Mpu Sindok telah memindahkan ibukota kerajaannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. 

Mpu Sindok merupakan pendiri dinasti Isana yang sekaligus leluhur Raja Airlangga, Kediri. Di masa Indonesia masih bernama Dwipantara Mpu Sindok memangku kekuasaan Mataram Kuno pada 929 (851 Saka) hingga 948 (870 Saka). 

Menurut peneliti asing Van Bemmelen, perpindahan ibukota yang berlokasi di kawasan perbukitan Menoreh itu disebabkan bencana alam yang dahsyat. 

Letusan gunung api disertai gempa bumi, banjir lahar, hujan abu serta batu batuan telah menimbulkan kerusakan hebat. Dalam catatan Bemmelen, dampak letusan merapi telah merusak Medang Kamulan yang merupakan ibukota Mataram Kuno. 

Baca Juga : https://jatimplus.id/belasan-nama-desa-di-jatim-dan-jateng-terinspirasi-pohon-sengon/

Pemukiman penduduk juga luluh lantak. Hanya saja tidak tertulis berapa jumlah nyawa yang melayang. Situasi yang tidak aman itu mendorong raja mengambil keputusan memindahkan ibukota kerajaan.

Sumber lain menyebut, bencana alam bukan faktor tunggal alasan ibukota Medang Kamulan harus berpindah ke Tamwlang, wilayah Kanuruhan (Kanjuruhan), Jawa Timur. Ada faktor ekonomi yang turut melatarbelakangi. 

Baca Juga : https://jatimplus.id/trik-jitu-berbisnis-sengon-ala-jokowi/

Letak kerajaan yang berada di pedalaman dengan sumber daya alam terbatas, membuat perekonomian sulit berkembang. Jauhnya pusat kerajaan dengan pusat perdagangan yang umumnya di kawasan pesisir pantai (Bandar), membuat kerajaan tidak berdaya membangun hubungan dagang internasional yang di abad 10 itu mulai berkembang.

Karenanya pemindahan ibukota dicurigai memang sudah direncanakan secara matang. Adapun bencana alam hanyalah faktor pemicu. 

Baca Juga :https://jatimplus.id/tidak-hanya-besarnya-pahala-puasa-h-10-idul-adha-adalah-hari-terbaik-berbuat-kebajikan/

Dalam prasasti Paradah 934 (856 Saka) dan Anjukladang 937 (859 Saka), ibukota kerajaan kemudian berpindah lagi ke Watu Galuh, yakni Desa Watugaluh, Jombang, di tepi Sungai Brantas.

Perpindahan dari Tamwlang ke Watu Galuh kali ini disinyalir untuk menghindari ancaman musuh. Perpindahan ibukota kerajaan itu terus berlanjut di era Raja Dharmawangsa hingga Airlangga.

Di akhir abad 10, ibukota kerajaan di Watu Galuh dipindah ke daerah Watan, kaki Gunung Penanggungan, sebelah selatan Sidoarjo. Seperti yang tertulis dalam prasasti Pucangan (1041), pada tahun 1006 Dharmawangsa diserang Raja Wura Wari dan terbunuh. 

Setelah berhasil mengalahkan Wura Wari dan merebut kembali kerajaan, Airlangga memindahkan ibukota ke Watan Mas. Karena pergolakan politik, ibukota kerajaan kemudian dipindah ke Kahuripan, sebelah timur Gunung Penanggungan.

Menurut prasasti Pamwatan, pada 1042 ibukota kerajaan dipindah lagi ke Dahana atau Daha (sekarang Kediri) hingga akhir pemerintahannya. Sampai saat ini tidak ada catatan yang menyebutkan alasan pemindahan ibukota ke Daha. 

Dilansir dari detik.com, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro berharap ibukota baru mampu mempresentasikan identitas bangsa dengan pengelolaan pemerintah yang kuat dan efisien.

“Pemindahan ibukota negara harus merupakan strategic vision dari pembangunan nasional, terutama dalam jangka panjang, “ujarnya. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.