READING

Sejarawan Anggap Maling Gentiri Hanya Kisah Fiksi ...

Sejarawan Anggap Maling Gentiri Hanya Kisah Fiksi (3)

Cerita Maling Gentiri berkembang di beberapa daerah di Indonesia. Tak ada yang bisa mengklaim kebenarannya selain melakukan uji DNA dan forensik sejarah.

Achmad Zainal Fachris, sejarawan di Kota Kediri membantah tegas jika Mbah Boncolono disebut sebagai sejarah. Menurut dia Boncolono hanyalah kisah fiksi yang hidup di masyaraka sebagai legenda Kota Kediri. “Tidak pernah ada dalam sejarah kisah Boncolono, itu fiksi,” tegas pengajar sejarah di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kediri ini.

Fachris menuturkan keberadaan makam di puncak Bukit Maskumambang dalam ilmu sejarah disebut sebagai makam semu, penanda, atau petilasan. Bisa jadi makam itu adalah makam seseorang yang kemudian diklaim sebagai makam Boncolono. Tentu saja klaim makam tersebut untuk menguatkan kisah Maling Gentiri yang begitu kuat di masyarakat.

Kamus besar Bahasa Jawa tidak mencantumkan sama sekali kosakata Gentiri. Kata Gentiri kemudian dikaitkan dengan istilah Jawa Gentirit (lari terbirit-birit). Sehingga Maling Gentiri adalah maling atau pencuri yang lari terbirit-birit. 

Kisah Maling Gentiri, menurut Fachris, hidup di beberapa daerah. Semuanya selalu dikisahkan sebagai seorang pencuri yang mengambil harta milik orang kaya yang korup untuk dibagi-bagikan kepada rakyat kecil. Namun tak ada yang dengan tegas menyebut kapan mulainya cerita itu selain menyebut di jaman penjajahan Belanda. “Ciri cerita legenda itu tidak jelas kapan mulainya, seperti cerita Berandal Lokojoyo di era Sunan Kalijaga,” kata Fachris.

Hanya saja, harus diakui jika kisah Maling Gentiri yang hidup di Kota Kediri lebih lengkap dibanding kisah serupa di daerah lain. Di Kediri tertulis lengkap ilmu apa yang dipakai, dikalahkan dengan cara bagaimana, temannya siapa, dan siapa yang menjadi penyokongnya. Maling Gentiri di Kediri ini dikisahkan dihabisi dengan cara dipenggal kepalanya tanpa menyentuh bumi dan dipisahkan, sebagai pengapesan ilmu Pancasona yang dimiliki. “Tapi cerita soal pendekar yang dipenggal dan dipisahkan kepalanya kan memang banyak,” kata Fachris.

Deretan anak tangga menuju makam terduga Maling Gentiri di puncak Bukit Maskumambang Kediri. Foto: Jatimplus/Adhi Kusumo

Untuk menghidupkan kisah tersebut, ditunjuklah tiga makam di puncak Bukit Maskumambang sebagai petilasannya. Sebab merujuk keberadaan makam para wali memang diletakkan di tempat yang tinggi. Satu-satunya cara untuk membuktikan secara empiris makam itu adalah melakukan pembongkaran dan dilakukan uji DNA. Seperti upaya pembuktikan yang dilakukan terhadap makam terduga Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

baca juga: Misteri Maling Gentiri di Bukit Maskumambang

Sudah menjadi rahasia umum dan perilaku orang Jawa untuk menyematkan nama pada makam-makam tua. Pengalaman ini didapatkan Fachris saat mengunjungi tujuh makam tua di Mojokerto yang tak bernama. Namun selang beberapa waktu kemudian dia mendapati makam-makam itu sudah memiliki nama masing-masing dengan gelar Syeh.

baca juga: Mencari Pesugihan di Makam Maling Gentiri

Bagaimana dengan pengakuan Japto Soelistyo Soerjosoemarno sebagai keturunan Boncolono?

Fachris mengaku tak akan mempermasalahkan, selama bisa membuktikan melalui dokumen silsilah keluarga. Jika ingin pembuktian lebih kuat harus dilakukan pembongkaran makam dan dicocokkan DNA-nya dengan Japto.

“Namun bagi saya soal kebenaran makam sudah tidak penting lagi. Kisah itu sudah hidup di masyarakat dan diambil sisi perjuangan tokohnya saja. Termasuk menghidupkan geliat warung di sekitarnya yang menjadi jujukan peziarah,” kata Fachris.

Untuk memperkuat posisinya sebagai cerita fiksi, Fachris telah memproduksi sebuah komik yang mengisahkan Maling Gentiri. Komik itu menyelipkan beberapa nama-nama daerah tua di Kediri seperti Desa Gandekan dan taoke (botoh di jaman Belanda). Gandekan atau mantri yang bekerja sebagai pawang macan diselipkan untuk melengkapi legenda Kediri yang dikenal sebagai kandang macan.

Fachris juga masih akan membuktikan pengaruh cerita Robin Hood di Inggris dengan Maling Gentiri di tanah Jawa. Sebab keduanya memiliki pola yang sama, yakni mencuri untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin. “Kita kan juga pernah dijajah Inggris. Tinggal dulu mana kisah Maling Gentiri atau Robin Hood,” katanya.

Namun lepas dari itu semua, mengunjungi makam Boncolono di puncak Bukit Maskumambang adalah sesuatu. Perjalanan ekstrim yang melelahkan terbayar lunas saat mendapati pemandangan di puncak bukit yang indah. Dari tempat ini seluruh wilayah Kota Kediri terlihat dengan jelas sebagai puzzle kecil. Seperti potongan kisah Maling Gentiri yang tak pernah habis untuk dirangkai. 

Print Friendly, PDF & Email

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.