READING

Sejumlah Nama Desa di Kediri Berasal dari Pohon da...

Sejumlah Nama Desa di Kediri Berasal dari Pohon dan Rerumputan

MASIH banyak yang mengira nama jalan Malioboro di Yogyakarta berasal dari merek rokok produksi Philip Morris, Marlboro. Padahal bukan. Bisa jadi kecele itu dipengaruhi kemiripan fonem Malioboro dan Marlboro. Juga artikulasi yang sepintas terasa serumpun.

Dalam risetnya yang berjudul “Asal Usul Nama Yogyakarta & Malioboro”, sejarawan Peter Carey menyebut jalan Malioboro diambil dari nama Jendral Inggris Duke of Marlborough (1650-1722). Diartikan sebagai jalan berhias untaian bunga. Tidak hanya diabadikan sebagai nama jalan di Yogyakarta. Nama abdi Ratu Elizabeth itu juga dipatrikan sebagai nama benteng di Bengkulu, Sumatera (1714).

Selain ketokohan manusia, asal usul nama sebuah tempat seringkali diambil dari legenda (peristiwa) atau sesuatu yang natural sekaligus bersifat mayoritas. Misalnya pepohonan yang banyak tumbuh disana. Di wilayah eks karsidenan Kediri tidak sedikit nama desa atau kelurahan yang diambil dari nama tumbuhan.

Saat wilayah itu baru dibabat (dibuka) untuk permukiman manusia, bisa jadi pepohonan itu paling banyak tumbuh disana. Sehingga terpilih menjadi penanda. Dalam penelitian yang diberinya judul “Suta Naya Dhadhap Waru, Manusia Jawa dan Tumbuhan”, Iman Budhi Santosa menulis, di Jawa, pemberian nama desa dengan nama tumbuhan merupakan pilihan, bukan kebetulan.

Sebab sudah lama orang Jawa memiliki hubungan batin yang intens dengan tumbuhan. Bagi orang Jawa, tumbuhan adalah sedulur sinarawedi sekaligus perlambang dari kekuatan, kesabaran, kejujuran, keikhlasan, kesetiaan yang dianut dan didambakan.      

Berikut sejumlah desa/kelurahan di wilayah eks Karsidenan Kediri yang asal usul namanya berasal dari nama tumbuh tumbuhan.

  1. Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.  Nama Ngampel berasal dari nama Ampel (Bambusa vulgaris), yakni salah satu jenis bambu yang tumbuh di tanah Jawa. Bambu yang memiliki tiga ciri, yakni buluh hijau, buluh kuning atau hijau bergaris kuning dan buluh beruas pendek, lazim disebut pring ampel. Di desa, pring ampel kebanyakan ditanam di tepi sungai yang berfungsi untuk mencegah longsor. Selain di Kota Kediri, nama Desa Ngampel juga bisa ditemui di wilayah Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Kemudian juga Desa Ampelgading di Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.
  2. Desa Ngasem, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Ngasem diambil dari nama tumbuhan asem atau asam (Tamarindus Indica). Dengan memiliki nama baru (Indonesia) asam Jawa, tumbuhan yang hidup dengan baik di tanah berpasir atau tanah liat hingga ketinggian 1.000 mdpl itu, telah menyatu dengan kehidupan masyarakat Jawa. Orang Madura menyebutnya acem, dan di Sulawesi diucapkan asang jawa. Sementara di negara Filipina disebut sampalok atau kalamagi, di Thailand ma-kham, di Burma magyee, dan di Britania Raya dinamakan tamarind. Selain di wilayah Kecamatan Grogol, Desa Ngasem juga dijumpai di wilayah Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri
  3. Desa Bakung, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar. Diambil dari nama tumbuhan bunga bakung (Crynmum asiaticum). Bunga bakung awalnya hanya tumbuh di Eropa. Selain sebagai hiasan, masyarakat tradisional Eropa dan Jawa meyakini bagian tertentu dari tanaman bunga bakung bisa berfungsi sebagai obat obatan.Tumbuhan yang memiliki tinggi 60-180 cm ini kategori tanaman tahunan atau berumur panjang. Selain di wilayah Kecamatan Bakung, Desa Bakung juga ditemukan di wilayah Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.
  4. Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kediri, Kota Kediri. Dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia I-IV (1987), Karel Heyne menyebut banjaran sebagai suket atau rumput. Di Jawa ada dua jenis suket banjaran, yakni bernama latin Calamagrostis australis dan Festuca nubigena. Calamagrostis australis kerap disebut pari apa atau suket kroncong. Tergolong sebagai rumput menahun yang memiliki tinggi 15-80 cm. Sedangkan Festuca nubigena memiliki tinggi 50-75 cm. Juga berumpun lebih kuat. Kedua jenis rumput ini biasa tumbuh di dataran tinggi kawasan pegunungan. Dimasa silam, rumput ini digunakan pakan ternak, yakni terutama kambing.  
  5. Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Tumbuhan bantengan dibagi menjadi tiga, yakni Vitis adnate, Vitis arachnoidea, dan Vitis lanceolaria. Ketiganya merupakan jenis tumbuhan perdu yang memanjat dengan ketinggian 2-15 meter. Buahnya manis sepat dan juga menimbulkan gatal di mulut. Dulu, buah bantengan diberikan kepada itik, agar bisa bertelur banyak. Akar bantengan berkhasiat mengobati batuk. Sedangkan daunnya untuk menyembuhkan bisul.
  6. Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Nama kelurahan berasal dari tanaman bawang atau bawang putih (Allium sativum). Bawang putih sudah populer sejak lama. Orang Mesir menamai bawang putih khidjana, orang Spanyol menyebut ajo, orang Jerman mengucapkan knoblauc dan orang Cina menamakannya suan. Selain bumbu dapur, bawang putih juga kerap digunakan bahan jamu dan pengobatan tradisional. Bahkan dalam kepercayaan Jawa ada yang menggunakan bawang putih untuk mengcounter gangguan roh jahat. Misalnya membungkus bawang putih bersama jarum atau peniti untuk dibawa ibu hamil atau diletakkan ditempat tidur bayi.
  7. Desa Bedali, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Diambil dari nama tumbuhan Bedali. Sesuai nama latinnya, tumbuhan bedali terdiri dari dua jenis, yakni Radermachera gigantea dan Radermachera glandulosa. Bedali merupakan tumbuhan berkayu yang bisa mencapai tinggi 40 meter dengan diameter 80 cm. Pohon tumbuh di dataran rendah hingga 1.500 mdpl. Di masa lalu kayu bedali yang dibentuk menjadi balok digunakan sebagai bahan perumahan dan jembatan. Meski tidak kebal rayap, kayu bedali tidak mudah retak dan tidak diserang bubuk.  
  8. Desa Bendo, Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Nama desa yang diambil dari nama pohon bendo (Artocarpus elasticus) itu sepertinya berjumlah terbanyak. Antara lain juga Desa Bendo Kecamatan Pare, Desa Sumberbendo, Kecamatan Pare dan Desa Tambibendo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Kemudian Desa Bendo Asri, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Lalu Desa Bendo Kecamatan Gondang, Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru dan Desa Sumberbendo, Kecamatan Pucanglaban  Kabupaten Tulungagung. Ditambah lagi Kelurahan Bendo Kecamatan Kepanjen Kidul dan Kelurahana Bendogerit  Kota Blitar. Serta Desa Bendosari, Kecamatan Kademangan, Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, Desa Kalibendo Kecamatan Ponggok, Desa Bendosewu Kecamatan Talun, Desa Bendorejo Kecamatan Udanawu, Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, Desa Bendowulung, Kecamatan Sanankulon dan Desa Karangbendo Kecamatan Ponggok (Semuanya Kabupaten Blitar). Selain kategori pohon langka, getah Bendo terkenal ampuh untuk memikat (menangkap) burung, yakni terutama perkutut.
  9. Desa Besole Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung. Nama Besole diambil dari nama tumbuhan besole (Cydenanthus excelsus). Kayu pohon dengan ketinggian 20-30 meter itu dianggap kurang bagus. Kayu besole seringkali hanya digunakan untuk kayu bakar. Karenannya pohon besole yang tumbuh didataran rendah sampai 400 mdpl jarang dibudidayakan.
  10. Desa Blimbing, Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri. Pohon bernama latin Averrhoa carambola  itu sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Jawa. Biasa disebut blimbing atau belimbing. Tumbuhan ini bisa tumbuh tanpa budidaya manusia. Seekor kawanan lebah bisa menyebarkan benihnya kemana mana. Karenanya persebaran pohon blimbing sangat luas. Belakangan ini keberadaan buah belimbing terdesak oleh buah buahan lain yang lebih populis, yakni diantaranya rambutan, mangga, salak, apel, duku dan lain sebagainya. Begitu juga dengan kegunaan blimbing wuluh sebagai bahan dapur terdesak oleh bumbu masak buatan.

Demikian 10 nama desa/kelurahan di wilayah eks Karsidenan Kediri yang diambil dari nama tumbuhan. Diluar yang jatimplus himpun, masih banyak lainnya. Berdasarkan riset sastrawan Iman Budhi Santosa, ada sebanyak 3.395 desa/kelurahan di Jawa Timur, Jawa Tengah serta DIY yang mengadaptasi nama 324 tumbuhan.

Bahkan warga Kelurahan Banjaran, Kota Kediri tidak banyak tahu bahwa banjaran itu adalah nama jenis  rerumputan. “Selama ini kita tidak tahu bahwa banjaran itu nama rumput. Banyak yang mengira berasal dari kata berbanjar. Mungkin karena perkotaan, dimana mencari pemandangan rumput liar sudah sulit, sehingga tidak terfikir kalau itu (banjaran) rumput,  “kata Joni sembari tertawa. (*)


Editor : editor posting Reporter : Reporter posting Visual editor : Visual posting

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.