READING

Sekolah Darurat Kartini, Cita-Cita Setinggi Kolong...

Sekolah Darurat Kartini, Cita-Cita Setinggi Kolong Jembatan Ancol

KEDIRI – Hari Pendidikan Nasional baru saja berlalu. Gegap-gempitanya masih hangat tahi ayam hingga hari ini. Guru-guru berpakaian Korpri gagah dan cantik, begitu juga anak-anak berseragam sekolah rapi jali mengikuti upacara. Lalu ada lomba-lomba. Cerdas cermat, peragaan busana, dan sebagainya. What a perfect scene! Tapi apakah benar wajah pendidikan kita seindah yang saya lihat? Tiba-tiba ingatan saya terlempar sepuluh tahun lalu, nun jauh disana, di kolong jembatan tol Ancol, Lodan, Jakarta Utara.

Ruang Kelas Sekolah Darurat Kartini

Pagi –pagi sekali saya sudah berdesak-desakan menggunakan KRL menuju Stasiun Jakarta Kota. Perjalanan Tebet – Kota saya tempuh sekitar setengah jam perjalanan. KRL di jaman itu masih berupa “supermarket berjalan”. Segala macam barang dijajakan di dalam gerbong. Sementara diatasnya, ramai penumpang beruji nyali sambil menikmati udara segar Kota Jakarta di antara jaringan elektrik bertegangan tinggi. Namun kini, KRL terlihat jauh lebih manusiawi. Entah mengapa, terkadang saya merindukan masa-masa barbar dulu itu. Sesampai di Stasiun Kota, saya baru menyadari kalau rel di stasiun ini benar-benar akhir alias tidak ada lagi sambungan. Memang Stasiun Kota atau Beos adalah satu dari sedikit stasiun di Indonesia yang bertipe terminus atau tidak memiliki jalur lanjutan lagi.

Siswa diajari juga kegiatan non akademis seperti menjahit dan memasak

Saya meneruskan perjalanan dengan menumpang ojek sepeda menuju Kampung Lodan. Konon kata ojek berasal dari obyek atau ngobyek yang berarti mencari penghasilan. Waktu itu masih belum ada ojek online yang bisa kita panggil dengan aplikasi di telepon pintar kita. Si bapak pengendara sepeda begitu lihai dan tangkas membelah jalanan kota tua yang tak pernah alpa oleh kemacetan. Begitu memasuki Jalan Yos Sudarso, terbersit was-was di hati, karena sepeda mungil ini harus berbagi jalan dengan truk-truk bermuatan berat yang berlalu-lalang menuju pelabuhan. Lega rasanya begitu sampai di kampung Lodan. Saya masih harus berjalan menyusuri area gudang sebelum akhirnya menemukan jalan kecil yang kanan-kirinya berjejal rumah-rumah sederhana.

Siswa mengikuti upacara saat peringatan 17 Agustus

Langkah kaki saya berujung pada sebuah bangunan semi permanen berdinding campuran triplek dan batako yang melekat pada pilar-pilar jembatan diatasnya. Sayup-sayup terdengar anak-anak menirukan lafal kata yang diucapkan oleh gurunya. Saya lalu mendorong pintu yang terbuat dari potongan kayu bekas peti kemas di depan saya, terlihatlah suasana ruang kelas yang beraneka ragam penghuninya. Ruangan besar tanpa penerangan itu dibagi menjadi empat bagian besar bersekat tembok bata separuh tinggi orang dewasa. Paling depan adalah ruang kelas untuk anak SMA dan SMP. Sedangkan di belakangnya ada ruang untuk anak SD dan TK. Ruang paling belakang digunakan sebagai dapur untuk memasak makanan bagi murid-murid.

Selain memberikan materi akademis, ibu guru kembar juga mendidik siswa agar berbudi luhur dan berakhlak baik

Pandangan saya terhenti pada kedua sosok itu. Sang ibu guru kembar, Sri Rosyati dan Sri Irianingsih.Seperti biasa Rosi dan Rian, panggilan akrabnya, terlihat cantik dan modis dalam berpenampilan. Walau tak muda lagi, namun semangat dan keceriaan tetap terpancar dari keduanya saat dengan sabar namun kadang tegas memberikan materi pelajaran kepada anak-anak didiknya. Sekolah Darurat Kartini (SDK) adalah sekolah gratis yang didirikan oleh keduanya tahun 1990. Dulunya sekolah ini berdiri di Pluit, karena digusur akhirnya pindah kesini, di Kampung Lodan. “Sekolah ini untuk anak-anak warga miskin daerah sini, harapannya agar mereka kelak bisa mandiri dan bekerja,” Kata Bu Rian. “Kami menyediakan pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA. Siswa mendapat seragam, alat sekolah, susu, dan makan gratis setiap hari,” Paparnya.

Siswa bersama-sama memasak untuk makan siang seluruh siswa

Rosi dan Rian memberi nama sekolah mereka dengan nama Kartini karena ingin meneladani perjuangan RA Kartini dalam pendidikan, yaitu ingin memberi kesempatan bagi semua anak bangsa terutama warga tak mampu untuk memperoleh pendidikan yang layak. “Bukan hanya belajar dari sisi akademis, siswa disini juga dididik untuk memiliki akhlak yang baik,” Jelas Bu Rosi. Ibu dua anak kelahiran Yogyakarta, 4 Februari 1950 ini pun menceritakan awal mula mengapa ia dan saudara kembarnya tergerak hatinya untuk mendirikan Sekolah Darurat Kartini. “Saya prihatin melihat anak-anak dari keluarga miskin yang tinggal di gubuk-gubuk tak layak huni di antara gedung-gedung megah ibukota. Mereka tak bersekolah karena tak memiliki biaya. Pergaulan sehari-hari mereka pun bikin miris,” Kenang Lulusan IKIP Yogyakarta lulusan Bahasa Indonesia ini. “Saya pernah menemui sekumpulan anak-anak usia remaja laki-laki dan perempuan tinggal bersama dalam satu gubuk dan semuanya menderita penyakit kelamin.”

anak-anak hanya bisa menonton saat kelas mereka dibongkar karena terkena penggusuran

Benar adanya sebuah adagium “Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibukota”. Kaum marjinal ini harus bertahan di antara keras dan kejamnya kehidupan ibukota. “Saat anak-anak itu tumbuh dewasa, mereka tak punya banyak pilihan,” Lanjutnya, “Laki-laki akan menjadi kuli atau pekerja kasar, sedangkan yang perempuan menjadi pelacur.” Ucapnya getir. “Saya tak berharap terlalu tinggi untuk mereka, seperti kelak mereka bisa menjadi dokter atau insinyur. Minimal mereka menjadi pekerja di minimarket saja, itu sudah luar biasa bagi saya.” Tutup Bu Rosi. Beliau lalu membantu kembarannya untuk menyiapkan makan siang. Hari itu menu makan siang adalah ikan sarden kalengan. Kebul nasi matang keluar begitu salah satu murid membuka dandang besar di sudut dapur.

Duo guru kembar, Sri Rosyati dan Sri Irianingsih, Pendiri Sekolah Darurat Kartini

Tak terasa hampir 30 tahun Sekolah Darurat Kartini telah mengubah banyak kehidupan warga masyarakat tak mampu yang tersebar di kolong-kolong jembatan dan pemukiman kumuh di ibukota. Kalau dulu ibu guru kembar berjuang sendirian, kini banyak lembaga baik pemerintah maupun swasta yang tergerak untuk menyokong kegiatan mulia mereka tersebut dalam memberikan pendidikan dan harapan bagi anak-anak marjinal untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.

“Mas tolong fotoin dong,” Seorang guru dengan HP keluaran terbaru membangunkan saya dari kenangan tentang Sekolah Darurat Kartini. Kembali pertanyaan awal saya tadi terbersit di pikiran, “Apakah benar wajah pendidikan kita seindah yang saya lihat?”

Teks dan Foto oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.