READING

Sekolah Libur, Bagaimana Nasib Pedagang Cilok?

Sekolah Libur, Bagaimana Nasib Pedagang Cilok?

KEDIRI – Berhentinya kegiatan sekolah tak hanya membuat para pelajar stres. Pedagang jajanan yang kerap memenuhi pagar sekolah turut kelimpungan lantaran tak ada penghasilan.

Kepedihan para pedagang ini diungkapkan Suherman, seorang pedagang pentol (cilok) yang setiap hari mangkal di depan MTs Negeri 2 Kediri. Selama ini dia menghidupi keluarga dari uang saku anak sekolah yang membeli pentolnya. “Selama sekolah tutup kami juga kehilangan penghasilan,” kata Suherman.

Sejak aktivitas belajar mengajar dihentikan dua pekan lalu, Suherman turut kelimpungan. Meski sepi, dia tak bisa menghentikan produksi pentol karena tuntutan kebutuhan istri dan dua anak.

Celakanya upaya untuk pindah berdagang ke tempat lain tak berbuah manis. Beberapa tempat wisata yang menjadi lokasi alternatif selain sekolah tak kalah sepi. Sejak wabah Covid-19 atau virus corona merebak, seluruh tempat wisata tak pernah disentuh orang. “Pernah keliling kampung, juga sepi. Anak-anak tidak ada yang keluar rumah,” keluhnya.

Suherman tak sendirian. Nasib pahit ini juga dialami seluruh pedagang jajanan yang kerap berkeluh kesah padanya. Maklum, Suherman ditunjuk sebagai Ketua Paguyuban Pedagang Keliling Kota Kediri oleh teman-temannya.

Nasib pedagang asongan juga sebelas dua belas. Upaya menjajakan dagangan di atas bus antar kota juga menemui jalan buntu lantaran sepinya penumpang. Padahal biasanya menjelang bulan suci ramadhan jumlah pemudik yang pulang kampung cukup banyak. “Biasanya kalau Sabtu dan Senin bus pasti ramai. Sekarang penumpangnya tinggal sepuluh persen saja,” kata Andik, Ketua Paguyuban Pedagang Asongan Kota Kediri.

Gerakan sosial Yayasan Amanah Madani membantu warga terdampak Corona

Beruntung dalam situasi ini bermunculan gerakan sosial yang diinisiasi masyarakat Kota Kediri untuk membantu sesama. Sejumlah komunitas ramai-ramai menggalang bantuan untuk disalurkan kepada masyarakat yang terdampak cukup parah.

Salah satunya adalah gerakan sosial yang dilakukan Yayasan Amanah Madani (YAM) yang digawangi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Reza Ahmad Zahid. Ulama yang akrab disapa Gus Reza ini tergerak menggalang donatur sebanyak-banyaknya untuk membantu masyarakat terdampak. “Ini juga ikhtiar kita untuk tolak balak dari wabah Covid-19,” kata Gus Reza yang menjadi Pembina YAM.

Sekretaris YAM Ahmad Sofwul Anam menjelaskan, donasi yang diterima telah disalurkan kepada warga yang membutuhkan seperti pedagang kaki lima dan asongan. Bentuknya berupa paket sembako yang langsung bisa dikonsumsi masyarakat. “Kami akan terus menggalang gerakan sosial agar bisa membantu lebih banyak orang seperti pedagang keliling dan asongan,” katanya.

Gerakan Wartawan

Aksi sosial untuk membantu warga terdampak Covid-19 juga dilakukan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Kediri. Sejak beberapa hari lalu mereka telah mendirikan posko Covid-19 Crisis Centre untuk menggalang donasi sosial.

Hasil donasi tersebut dirupakan paket sembako berisi beras, mie instan, dan minyak goreng, yang akan dibagikan besok Selasa, 7 April 2020 di sejumlah kantong warga. Meliputi Kelurahan Semampir, Pojok, Ngadiredjo, Singonegaran, dan Darmo di Kota Kediri, serta Desa Banyakan, Gurah, Semanding, dan Dusun Karangdono di wilayah Kabupaten Kediri. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.