Selalu Ada Telur di Kediri

KEDIRI – Jika ada kompetisi pemilihan bahan makanan yang paling banyak dikonsumsi, telur akan menempati posisi teratas. Selain sebagai lauk, telur juga menjadi bahan pembuat kue.

Tak heran jika peternak ayam petelur hingga ibu rumah tangga berunjuk rasa jika terjadi perubahan harga telur. Bahkan di Blitar, aksi melempar telur ke jalan raya pernah dilakukan para peternak ayam saat harganya anjlok di pasaran.

Begitu pentingnya komoditas ini hingga membuat Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar harus membuat kesepakatan dengan para penghasil telur. Komitmen kesepahaman ini demi menjaga stabilitas pasokan dan harga telur di pasaran agar tak menyusahkan masyarakat. “Kami ingin menekan harga dengan memangkas mata rantai distribusi yang panjang,” kata Abdullah Abu Bakar usai menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kabupaten Blitar.

Pemerintah merasa penting untuk menandatangani kesepakatan ini mengingat telur menjadi kebutuhan pokok masyarakat, dan salah satu penentu pergerakan inflasi Kota Kediri. Karena itu pemerintah memastikan tak akan ada kekurangan pasokan telur hingga akhir Desember 2018 mendatang.

Kerjasama ini, menurut Abu Bakar, berupa komitmen koperasi untuk menyediakan dan menjamin pasokan telur ada di Kota Kediri. Selain itu mereka juga wajib membuat patokan harga sesuai dengan harga jual kandang agar cukup murah di tangan konsumen. “Kita akan pastikan harga telur tidak mahal di tangan masyarakat,” kata Abu Bakar.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Kediri Djoko Raharto mengapresiasi upaya tersebut. Selama ini tingkat inflasi Kota Kediri sangat rendah di kawasan Jawa dan Bali. “Salah satunya karena keberhasilan menjaga pasokan kebutuhan pokok,” katanya.

Ada empat langkah yang wajib dilakukan pemerintah daerah untuk menjaga inflasi agar tetap stabil. Yakni menjaga kecukupan pasokan komoditas pangan, keterjangkauan harga pangan, kelancaran distribusi, dan komunikasi publik yang efektif. Keempat hal ini harus dilakukan bersama-sama dengan meninggalkan ego sektoral pemangku kepentingan.

Djoko Raharto juga menjelaskan dengan kesepakatan ini, telur yang diproduksi koperasi Kabupaten Blitar siap diambil jika sewaktu-waktu terjadi gejolak harga di Kediri. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.