READING

Selamat Hari Ibu, Nyai Sholeha Wachid Hasyim

Selamat Hari Ibu, Nyai Sholeha Wachid Hasyim

JOMBANG- Tanggal 22 Desember 1928 diingat sebagai konggres perempuan pertama di Indonesia. Untuk mengingat peristiwa bersejarah itu, pada tahun 1956, Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Hari Ibu. Sebetulnya, lebih tepat sebagai “hari perempuan”, sudah jadi ibu maupun belum. Menandai peran perempuan dalam setiap gerak kelahiran NKRI.

Ibu, sebuah kata yang akan lekat seumur hidup bagi semua manusia. Dari satu kata itu, mewakili jutaan kisah, termasuk tentang perempuan yang sangat menginspirasi Gus Dur, Nyai Sholeha Wachid Hasyim, ibunda Gus Dur dan atau istri dari mantan Menteri Agama RI K.H. A. Wachid Hasyim.

Dalam Seribu Jilid Makna Jejak Ibu pada buku Ibuku Insiprasiku, Gus Dur mengatakan bahwa ibunya bagaikan “Ayam Induk” bagi pimpinan NU. Ibunya tidak banyak bicara tentang kesetaraan gender, tetapi beliau melaksanakannya jauh sebelum masyarakat membahasnya.

Sang Bunda dilahirkan di Jombang pada 11 Oktober 1922. Ia anak ke-lima K.H. Bishri Syansuri dengan istri Nyai Hj. Nur Chadijah (adik dari K.H. A. Abdul Wahab Hasbullah) dari 10 saudara.

Ketua 1 Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, Sri Mulyati (tengah).
FOTO: JATIMPLUS.ID/Syarief Abdurrahman.

“Nama kecilnya adalah Munawwaroh,” kata Ketua 1 Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU Sri Mulyati saat ditemui di kantor pusat Muslimat NU di Kalibata, Jakarta Selatan, awal Desember 2019.

Munawwaroh kecil dididik dalam bidang keilmuan pesantren oleh ayahnya di Pesantren Denanyar. Saat usia menginjak 14 tahun, ia dinikahkan dengan Gus Abdurrahim, anak dari Kiai Cholil Singosari, tetapi sang suami kemudian wafat pada tahun awal pernikahan mereka.

Selanjutnya ia menikah dengan Kiai Wachid Hasyim pada tahun 1936 M, tepat hari Jumat, 10 Syawal 1356 H. Setelah menikah, pada awalnya, mereka tinggal di Denanyar, tetapi kemudian pindah ke Pesantren Tebuireng, sampai sekitar tahun 1942.

Nyai Sholeha bagi Gus Dur merupakan sosok yang lengkap, selain ibu juga bertugas sebagai ayah. Dikarenakan ayahnya Gus Dur wafat saat ia masih kecil. Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh Nyai Sholeha Wachid Hasyim. Sifat yang turun ke Gus Dur terpancar dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan. Kemudian hari tak mengherankan Gus Dur dikenal sebagai bapak pluralisme Indonesia.

Gus Dur begitu mencintai dan taat pada ibunya. Sering kali dalam rapat keluarga Gus Dur punya pandangan sendiri yang berbeda dengan adik-adiknya. Ketika tidak ditemukan solusi karena Gus Dur tidak sepakat, maka saudara-saudaranya melaporkan ke Nyai Sholeha jika Gus Dur tidak sepakat. Ajaibnya, saat sang ibu meminta Gus Dur mengikuti hasil rapat, maka ia pun segera mengiyakan.

Sejarah mencatat, keahlian dalam diplomasi yang dimiliki oleh kader Muslimat NU seperti Nyai Sholeha membuat ia bisa duduk di parlemen. Ini juga menjadi pertimbangan pemerintah saat itu sehingga melibatkan Muslimat NU dalam Kongres Islam Asia Afrika yang di selenggarakan di Bandung 1964.

“Pimpinan Muslimat NU yang masuk dalam jajaran kepanitian acara ini adalah Nyai Sholeha Wahid Hasyim (Wakil Bendahara) sendiri dan Mahmudah Mawardi (SC) yang merangkap sebagai juru bicara mewakili Indonesia,” tambah Sri.

Dalam karier politik, Nyai Sholeha pernah menjadi anggota DPRD DKI pada pemilu 1955. Pada 1960 ia diangkat menjadi anggota DPR GD dan menjadi anggota DPR RI pada tahun 1971 mewakili partai Nahdlatul Ulama. Pada 1982 terpilih lagi melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hingga1987.

Selain berjuang di parlemen, Nyai Sholeha juga turut serta mengisi pembangunan Indonesia yang baru merdeka. Dalam periode 1958-1960, di jajaran Badan Kerja Sama (BKS) Perempuan militer yang digerakkan ABRI, Muslimat NU memperoleh kepercayaan duduk sebagai wakil Bendahara atas nama Sholeha Wahid Hasyim lagi. Selanjutnya pada periode 1960-1962 posisi ini digantikan oleh Malichah Agus dan dilanjutkan oleh Aisyah Hamid Baidlowi (1963-1964).

Pergerakan Nyai Sholeha pada Masa G/30S PKI

Setahun sebelum meletusnya G/30S PKI, pada 1964 Muslimat NU gencar menjadi sukarelawati bertempat di Pusat Pendidikan Hansip Pusat. Kegiatan ini dipimpin oleh Nyai Saifuddin Zuhri dengan pengasuh asrama Chadidjah Imron Rosjadi. Kegiatan ini mendapat restu dari PBNU melalui surat tanggal 5 Oktober Nomor 2207/B/x/64.

Materi pendidikannya antara lain baris berbaris, teknik menggunakan senjata, latihan menembak, bongkar pasang senjata dengan mata tertutup, cara menanggulangi kebakaran, PPPK, dan perawatan keluarga. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai daerah.

Dua hari setelah meletusnya G/S30 PKI, muslimat NU membuat pernyataan sikap menolak permintaan Dewan Revolusi memasukkan nama Mahmudah Mawardi sebagai anggota. Pada 2 Oktober 1965, Nyai Sholeha Wahid Hasyim kembali mewakili Muslimat NU dalam menghadiri rapat MPRS.

Pada tanggal 5 Oktober 1965 bersama PBNU, muslimat menandatangani sikap mengutuk penghianatan PKI. Muslimat NU diwakili Nyai Wahid Hasyim lagi, pada hari yang sama juga turut menandatangani pernyataan sikap Front Pancasila agar Pemerintah menindak tegas dan membubarkan PKI.

Tak berhenti di sana, muslimat NU dengan dikomando Nyai Sholeha juga meminta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk membubarkan Taman Kanak-kanak “Melati” yang dikelola oleh Gerwani (Gerakan Perempuan Indonesia), sayap perempuan PKI. Isu pembubaran ini dibawa muslimat pada rapat Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

“Akhirnya TK melati diambil alih dari Gerwani oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,” ungkap Sri.

Perjuangan melawan PKI terus dilakukan Muslimat NU, pada tanggal 8 November 1965 di bawah pimpinan Asmah Sjachruni (Muslimat NU) dan Nyai Arudji Kartawinata (PSII) mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut pembubaran PKI. Perjuangan Muslimat juga dilakukan dalam organisasi Kesatuan Aksi Perempuan Indonesia (KAWI). KAWI bubar setelah tuntutan Tritura (bubarkan PKI, bubarkan Kabinet dan turunkan harga barang) terwujud.

Setelah PKI bubar, Nyai Sholeha kembali melanjutkan perjuangannya lewat pendidikan, sosial, dan keagamaan seraya membesarkan putra-putrinya. Gerakan secara kultural ini berlanjut hingga wafat. Nyai Sholeha tidak menikah lagi setelah cerai wafat dengan Kiai Wachid Hasyim, meskipun saat itu usianya baru 30 tahun saat menjanda.

Beberapa organisasi sosial yang digelutinya antara lain YDB (Yayasan Dana Bantuan), Yayasan Bunga Kamboja, IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia), Home Care, panti jompo dan pengajian untuk para ibu yang dinamakan al-Ishlah di Mataraman. Di dalamnya ia sangat aktif dan cukup berperan.

Sosok Nyai Sholeha tergambar jelas dalam buku Ibuku inspirasiku yang ditulis oleh kedua putranya, Gus Dur dan pengasuh Tebuireng saat ini, K.H. Salahuddin Wahid. Nyai Sholeha Wahid di mata kedua putranya adalah pribadi yang terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja, ia sangat rajin melakukan silaturrahim dengan banyak pihak.

Kediamannya kerap menjadi tempat pertemuan tokoh-tokoh bangsa terutama kaum Nahdliyin untuk berdiskusi dan merancang strategi. Apalagi saat dua tokoh NU K.H. A. Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syansuri masih hidup.

“Nyai Sholeha adalah muslimat sejati, meskipun membesarkan enam anaknya sendiri tapi sukses mengantar anaknya menjadi orang besar. Seperti Gus Dur yang jadi Ketua Umum NU dan presiden,” tandas Sri.

Tokoh yang sangat dihormati Gus Dur ini, wafat pada Jum’at, 29 Juli 1994, sekitar pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Usianya kala itu 72 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman Tebuireng Jombang.

Di tangan Nyai Sholeha, perempuan Islam menjadi sosok yang tangguh, berprinsip, dan aktif.

Selamat Hari Ibu, Nyai. Dari rahimmu lahir sosok-sosok  yang bermartabat, tak hanya akhlaq mulia tapi juga cendekia. Al Fatihah.

Reporter: Syarif Abdurrahman
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.