READING

Semangat Sugihermanto Berkarya dan Berbagi Keindah...

Semangat Sugihermanto Berkarya dan Berbagi Keindahan dalam Gelap

”Halo travelers, saat ini saya sedang berada di Pantai Parangtritis, dan kali ini sangat spesial karena kita akan berekreasi dengan dua orang penyandang tuna netra. Saya sendiri adalah penyandang low vision, dan dua orang teman saya adalah penyandang totally blind, dan juga low vision,”

GRESIK – Kutipan di atas merupakan prolog dari sebuah video blog (vlog) berjudul ”Pantai Parangtritis, Keindahan dalam Kegelapan” karya Sugihermanto. Vlog tersebut belum lama ini memenangi Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 kategori video, yang diselenggarakan BaleBengong, portal media jurnalisme warga yang berbasis di Bali.

Dalam video berdurasi 3 menit 7 detik, warga Jalan Ploso, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Jawa Timur itu, bercerita tentang pengalaman liburan dengan dua kawannya sesama penyandang tuna netra, Tutus Setiawan dan Atung Yunarto. Dia memvisualisasikan bagaimana mereka menikmati keindahan Pantai Parangtritis, di Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sugihermanto adalah penyandang low vision yang memiliki hobi membuat video dan mengunggahnya ke laman berbagi video, Youtube  melalui channel-nya, mlaku-mlaku (Bahasa Jawa: Jalan Jalan). Sesuai namanya, kanal tersebut berisi video perjalanan di beberapa tempat wisata dan kuliner.

Vlog berjudul ”Pantai Parangtritis, Keindahan dalam Kegelapan” adalah satu di antara beberapa karya Sugihermanto yang  sudah memenuhi laman Youtube. Video yang diunggah pada 28 September 2018 tersebut dibuat untuk berbagi pengalaman kepada khalayak bagaimana penyandang tuna netra berinteraksi dengan lingkungan.

Dia ingin menyampaikan pesan bahwa keindahan pantai, deburan ombak, hingga pasir putih tetap bisa dinikmati oleh mereka penyandang tuna netra. Tentunya dengan cara dan keunikan yang mereka miliki.

Sugihermanto sehari-sehari berprofesi sebagai pengajar di SDN Tlogopagut 1 Gresik, Jawa Timur. Berbekal ijazah Magister Pendidikan Luar Biasa, pria berusia 35 tahun tersebut menjadi tenaga pendidik bagi anak berkebutuhan khusus.

Sedangkan pengetahuan tentang pembuatan video, diperoleh Sugihermanto secara otodidak, serta bimbingan beberapa jurnalis yang dikenalnya. Sejak kecil, dia punya keinginan menjadi jurnalis. Namun, karena sadar akan sulit memenuhi tuntutan media mainstream, dia mengurungkan niatnya dan memilih menjadi jurnalis warga.

Beruntung, seiring perkembangan teknologi, Youtube hadir sebagai media berbagi video yang memungkinkan setiap orang termasuk Sugihermanto untuk berkarya dengan menjadi content creator. Sehingga web video sharing buatan Steven Chen dkk menjadi tempat melampiaskan hasrat jurnalistiknya.

Bergabung sejak 8 Desember 2014, Sugihermanto sudah mengunggah 26 video di kanal miliknya. Selain video tentang liburan di Pantai Parangtritis, ada beberapa versi liburan yang di-upload, seperti rekreasi di Puncak Becici, air terjun Grogojogan Sewu, hingga Taman Jurug, Solo.

Proses pembuatan video-video tersebut dilakukannya sendiri dengan sisa kemampuan visual yang dimilikinya, mulai dari pengambilan gambar sampai proses editing. Dan untuk mengabadikan setiap momen liburannya, dia berbekal handycam dan kamera ponsel.

Bagi alumnus Universitas Negeri Surabaya tersebut, membawa handycam dan ponsel sekaligus dapat mempermudah pekerjaannya mengambil gambar. Sebab, jika menggunakan handycam yang memiliki layar berukuran 2 sampai 3 inch, dia sulit mendapatkan gambar sesuai keinginan.

”Kalau pakai handycam, saya harus berkali-kali mengulang pengambilan gambar,” kata Sugihermanto kepada Jatimplus.id

Dia pun lebih sering menggunakan ponsel pintar untuk mengambil gambar, disamping mudah, juga ditunjang dengan resolusi yang lebih baik.Namun, pada saat-saat tertentu, handycam tetap dibutuhkan, terutama untuk meyakinkan masyarakat atau narasumber.

Selain mengambilan gambar, ponsel juga berfungsi untuk mengetahui informasi atau membaca tulisan yang jaraknya jauh. Biasanya, dia siasati dengan cara memotretnya terlebih dahulu, kemudian membacanya dengan cara diperbesar.

Tidak terlalu mendapat kesulitan dalam megambil gambar, Sugihermanto justru menemukan banyak kendala dalam proses editing. Sebab komputer yang dipakainya tidak ramah tuna netra. Tak jarang dia harus mendekat ke layar untuk membaca ikon di dekstop.

Sehingga proses itu terkadang membutuhkan waktu yang relatif lama. Bahkan untuk menyunting video berdurasi 3 sampai 4 menit, dia bisa menghabiskan waktu sampai satu minggu.

”Video ini (Pantai Parangtritis, Keindahan dalam Kegelapan) membutuhkan waktu kurang lebih satu mingguan. Soalnya semua saya lakukan sendiri, mulai dari mengambil gambar, editing sampai dubbing,” jelasnya.

Namun, kesulitan-kesulitan tersebut tidak akan menyurutkan semangat Sugihermanto untuk terus berkarya dan menghasilkan video yang lain. Karena itu adalah bagian dari upayanya mengadvokasi penyandang tuna netra. 

Reporter : Sahrul Mustofa

Editor   : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.