Sengon, Jasanya Bagi Lingkungan

Pohon sengon sempat menjadi pembicaraan warganet lantaran disalahkan ketika listrik mati, 4 Agustus 2019. Untuk ukuran pohon, sengon memang memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi. Jadi kemungkinan ketika sengon sibuk tumbuh di jaringan SUTET, petugas lupa memangkas sampai mematikan listrik. Di sisi lain, sengon sebetulnya tumbuhan yang sangat berguna bagi lingkungan. Sebagai tumbuhan perintis, penghijauan, hingga bernilai ekonomis.

Jurnal PROSEA (Plant Resources of South Asia) mencatat bahwa sengon laut (Albizia falcataria) atau Paraserianthes falcataria merupakan tumbuhan asli Papua Nugini, Papua Barat, Kepulauan Solomon, dan Maluku. Nama lokalnya beragam yaitu jeungjing (Jawa Barat); sengon laut (Jawa Tengah); tedehu pute (Sulawesi); rare, selawoku, selawaku merah, seka, sika, sika bot, sikas, tawa sela (Maluku); bae, bai, wahogon, wai, wikkie (Papua).

Kemudian menyebar ke beberapa tempat di Indonesia, baik melalui penyebaran alami maupun dengan budidaya. Tumbuhan asli ini ditandai dengan ditemukannya tumbuh alami di hutan-hutan wilayah tersebut. Di pegunungan, sengon tumbuh dari kaki gunung hingga batas vegetasi. PROSEA mencatat, sengon bisa tumbuh hingga pada ketinggian 1600 mdpl. Pohon ini tumbuh tegak mencapai ketinggian 40m dengan diameter bisa mencapai 1m.

Tahun 1990-an, sengon mulai banyak dibudidayakan sebagai tanaman kayu dan penghijauan di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Flores, dan Maluku. Menurut data BPS (2004), 60% tanaman sengon yang ada di Indonesia ditanam di Jawa Barat dan Jawa Tengah, baik dalam skala besar maupun skala rumahan.  

Buku Firewood Crops: Shrub and Tree Species for Energy Production (1980) menuliskan bahwa sengon kerap digunakan sebagai tanaman naungan di perkebunan teh dan kopi bersama dadap dan sengon laut. Pohon ini cocok untuk naungan sebab daunnya kecil-kecil sehingga tajuknya tak terlalu rapat sehingga tanaman di bawahnya masih bisa mendapatkan sinar matahari. Sedangkan batangnya bisa memecah angin sehingga tanaman yang ada di bawah naungannya pun terlindungi.

Sengon yang ditanam di TSI Prigen sebagai penghijauan dan pakan satwa.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Daun sengon banyak digunakan untuk pakan ternak. Kayunya memiliki nilai ekonomis tinggi. Tak heran jika warga Banyuwangi ini bisa tajir melintir dengan berbisnis sengon. Pertumbuhannya yang cepat membuat sengon cepat dipanen. Umur 5-6 tahun, bahkan ada yang 3 tahun sudah bisa dipanen kayunya.

Kayu sengon bukan termasuk kayu yang kuat, makanya jarang dipakai untuk membangun rumah yang memerlukan kekuatan. Kayu sengon digunakan untuk keperluan jangka pendek atau untuk furnitur yang tak membutuhkan kekuatan. Misalnya untuk furnitur yang tampil keren tanpa butuh keawetan, papan cor, dan juga peti kemasan.

Selain itu, kayu sengon digunakan untuk partikel board, hingga kelom sepatu dan bakiak. Untuk keperluan bakiak dan kelom sepatu (sepatu wedges) karena kayunya ringan dan mudah dibentuk.

Kayu sengon juga digunakan untuk bahan baku kertas (pulp) dan kayu bakar. Di masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Barat, kayu sengon ini banyak digunakan sebagai bahan membuat arang. Meski arangnya tak sebagus arang dari batok kelapa, namun arang dari kayu sengon menyuplai jumlah yang cukup besar.

Hutan sengon yang tumbuh di jalur Cetho, Gunung Lawu.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Sengon untuk Pertanian Ramah Lingkungan Baduy Luar

Sengon ini tumbuhan yang sungguh baik hati, membuat lingkungan jadi lebih bagus. Makanya kerap digunakan sebagai tanaman reboisasi. Selain pertumbuhannya cepat sehingga cepat menyuplai oksigen, daun sengon yang jatuh ke permukaan tanah terdekomposisi menjadi kompos yang memperbaiki struktur tanah.

Di Baduy Luar, sebagaimanya dituliskan oleh Jurnal Human Ecology vol. 28 (2008), masyarakat di sana mulai menanam sengon sebagai tumbuhan perintis sebelum menanam padi. Jadi, sengon ditanam duluan hingga cukup umur untuk dipanen kayunya. Sementara rantingnya untuk kayu bakar, daun dan akar yang tersisa di tanah menyuburkan tanah. Tanah yang sudah subur oleh material organik ini siap ditanami padi sehingga tak memerlukan pupuk kimia sintetis sebab di Baduy, pupuk kimia sintetis dilarang.

Sementara itu, kayunya dijual ke lingkaran luar Baduy. Karena tak ada infrastruktur jalan, orang Baduy kerap memanggul kayu sengon ini dengan pundaknya sampai pada konsumen. Atau menggunakan transportasi Sungai Ciujung. Uang yang didapatkan digunakan untuk menyewa lahan, mengupah pekerja, membeli makanan untuk upacara tradisional, membeli sawah, dan membeli garam.

Demikianlah sengon memiliki kisah, sebagaimana setiap pohon lain. Kisah yang mencatat peradaban manusia. Maka, jangan mudah menyalahkan makhluk hijau ini (Titik Kartitiani).

print

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.