READING

Seniman Jepang dan Brazil Meriahkan Pentas Panji d...

Seniman Jepang dan Brazil Meriahkan Pentas Panji di Selomangleng

KEDIRI – Pagelaran Seni Budaya Selomangleng kembali digelar tahun ini. Melibatkan seniman mancanegara, gelaran kali ini memilih tema Majestic Panji-Sekartaji.

Acara tahunan yang dimotori Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri ini akan dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2019. Masih di lokasi Goa Selomangleng yang menyimpan jejak Panji-Sekartaji, perhelatan Panji berskala internasional ini akan mendongkrak kunjungan wisatawan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertunjukan Panji ini akan dimeriahkan seniman tanah air dan manca. Diantaranya adalah seniman dari Jepang dan Brazil. “Mereka mementaskan Panji dengan karakter kebudayaan masing-masing,” kata Kepala Disbudparpora Nur Muhyar melalui Dwi Aris Setyawan, staf Sejarah Purbakala saat berkunjung di kantor redaksi Jatimplus.ID, akhir pekan lalu.

Aris menjelaskan, ada beberapa alasan memilih tema Majestic Panji-Sekartaji. Salah satunya adalah kuatnya jejak sejarah Panji dan Dewi Sekartaji yang ada di Kota Kediri. Jejak keduanya, baik berupa relief maupun cerita rakyat, diyakini lebih kuat di banding kota-kota lain yang memiliki klaim sama. Karena itu gelaran tahun ini memilih tokoh Panji dan Sekartaji untuk diangkat.

Aris menambahkan, mengangkat tokoh Panji dalam gelaran berskala internasional adalah upaya luhur. Jika mayoritas tokoh dalam cerita kuno seperti Mahabharata berusaha menyatukan wilayah melalui peperangan, Panji justru dengan jalur pernikahan. Pesannya, tak semua upaya politik dan kekuasaan selalu dilakukan dengan berdarah-darah.

Tak hanya bicara tokoh, panitia juga memilih cerita tentang kehidupan bersatunya Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Di mana Kediri jaman itu yang digambarkan sebagai kota metropolis. Ini ditunjukkan dari penyebaran kesusastraan dan perdagangan yang meluas hingga Asia Tenggara.

“Banyak kesusastraan yang berkaitan dengan Panji tersebar hingga Kamboja, Vietnam dan negara lain di sekitarnya. Perdagangan melalui Sungai Brantas saat itu juga cukup pesat dengan dibuktikan banyaknya artefak-artefak dari bangsa asing yang ditemukan,” tambah Aris. Melalui pagelaran seni budaya Selomangleng ini, tim kreatif Disbudparpora Kota Kediri ingin memberikan gambaran betapa berkembangnya Kediri saat itu.

Selain pertumbuhan kota, ada banyak nilai yang bisa dipelajari dari jejak sejarah di Goa Selomangleng. Salah satunya adalah relief tentang tiga penganut agama berbeda yakni pemuja Wisnu, Siwa dan Budha. Mereka digambarkan hidup rukun berdampingan di Kediri.

Toleransi antar umat beragama tersebut bisa dirasakan warga Kota Kediri hingga hari ini. Di kota ini, beberapa aliran agama Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Wahidiyah, dan LDII bisa hidup berdampingan.

Selain pagelaran tari, acara tersebut juga mementaskan kolaborasi wushu dan barongsai dari Kota Kediri. Ada pula seni musik oleh Sri Encik Krishna dan Bagus Mazasupa dari Yogyakarta.

Seni teater Rudolf Puspa asal Jakarta dan Teater Veteran Satoe dari Kediri juga akan unjuk gigi. Penampilan mereka akan melengkapi festival tari yang diikuti 10 penari dari dalam dan luar negeri. “Kita gunakan konsep cross culture. Jadi mereka bebas menceritakan tema Panji yang kami tentukan menggunakan konsep seni asal negara mereka masing-masing,” beber Aris. (Adv)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.