READING

Sepotong Cerita Anarko Sindikalis Yang Vegetarian

Sepotong Cerita Anarko Sindikalis Yang Vegetarian

Di tengah peringatan hari buruh sedunia (May Day) di Bandung Rabu (1/5) lalu, sejumlah massa berbaju hitam hitam tiba-tiba ditangkap aparat kepolisian. Orang orang yang dituduh merusak fasilitas umum itu dituding sebagai kelompok Anarko Sindikalis.

SEKITAR tahun 1997-1998. Saya mengenalnya dengan nama Bangun (bukan nama sebenarnya). Seorang mahasiswa kampus swasta di Malang Jawa Timur. Bangun datang dari salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Sebuah daerah yang sejak era kolonial dikenal sebagai tambang minyak bumi yang besar. Juga merupakan daerah produsen kayu jati paling bermutu di tanah Jawa. Begitulah setidaknya dia bercerita tentang asal usulnya.

Kami beda angkatan dan jurusan. Bangun beberapa tingkat lebih atas. Sementara saya belum lama tercatat sebagai warga kampus. Sebagai aktivis yang banyak bergerak di luar lingkungan kampus, tampilan Bangun selalu mencuri perhatian. Pada saat sebagian besar aktivis dan seniman kampus menggemari rambut gondrong, dia justru memapras rambut hingga sisa beberapa senti.

Begitu juga dengan aksesoris yang dikenakan. Sebelum flat cap dan news boys cap menjamur seperti sekarang, Bangun sudah lebih dulu mengenakannya. Pelindung kepala yang biasa dijuluki “topi copet” itu selalu menemani langkahnya pergi. Penampilannya tidak lepas dari kaos hitam, celana jeans belel dan flat cap. Kecuali tidak sedang bercukur skin head, topi itu nyaris tak pernah dia lepas.

“Habis bertemu kawan kawan,” tuturnya pada suatu siang tanpa melepas flat capnya. Meski dikenal sebagai aktivis, Bangun tidak tergabung dalam arus besar organisasi kampus. Baik HMI, PMII maupun GMNI, tidak pernah dia masuki. Dia ditengarai sebagai seorang anarko sindikalis. Apa itu?. Sebuah gerakan massa yang merunut sejarahnya bertujuan menghapus pemerintahan dengan melakukan pemogokan umum dan pengaturan masyarakat yang dikendalikan oleh pekerja atau buruh.

Gerakan Anarko Sindikalis memiliki basis perlawanan di buruh. Gerakan ini muncul pertama pada tahun 1890an di Perancis. Meskipun tidak diucapkan, identitas Bangun terlihat dari bacaan dan aksesoris yang kerap menampakkan simbol (A didalam lingkaran) yang mengarah ke Anarko Sindikalis. Jalan pikirannya juga revolusioner. Terutama saat bicara soal pemilik modal dan kebijakan negara yang tidak memihak rakyat, nada yang keluar hanya perlawanan.

Diksi-diksinya selalu blak-blakan tak kenal kompromis. Bakunin, Proudhon, Kropotkin, dan Ema Goldman adalah “nabi nabi” pemikir junjungannya. Pemikiran radikal tokoh Anarkisme itu kerap dia kutip dalam diskusi soal kekuasaan negara, kapitalisme dan buruh.

“Seorang anarkis (anarko) tidak akan memerintah dan juga tidak akan diperintah”. Atau “Siapakah sih kapitalis itu? Segalanya! Seharusnya dia menjadi apa? Bukan apa apa!”. Juga “Keinginan melakukan destruksi merupakan sebuah keinginan yang kreatif” menjadi kredo-kredonya yang kerap menghantam lawan bicaranya di forum diskusi buruh.  

Kaum anarko sindikalis memandang gerakan anarkisme sebagai bentuk aksi langsung sekaligus penolakan terbuka terhadap segala batasan hukum, ekonomi, sosial dan moral. Anarkisme juga menolak militerisme dan keseragaman. Mereka mendukung semangat pemberontakan dalam bentuk apapun dan melawan segala sesuatu yang menghalangi perkembangan manusia.  

Pada konteks perburuhan, gerakan anarkisme memandang aksi ekonomi langsung (demontrasi pemogokan umum) dan revolusioner menjadi kekuatan sangat besar dalam pertarungan demi kemerdekaan industri sekaligus menyampaikan pentingnya kekuatan buruh. Karenanya di setiap peringatan May Day, Bangun dan teman temannya selalu turun ke jalan melakukan solidaritas aksi.  

Saya masih ingat bagaimana pembelaan totalnya terhadap kaum buruh. Saat itu topik yang dibicarakan soal sepatu brand dunia. Adidas, Reebok, atau Nike. Bangun memblejeti borok para pemodal asing. Analisanya tajam. Teori nilai lebih, yakni bagaimana kapitalisme merampas hidup kaum buruh, dijlentrehkannya secara lugas. Dengan tegas dia mengatakan produk kapitalis harus ditolak.

“Memakai produk kapitalis sama halnya menginjak injak hidup kaum buruh,” kritiknya. Buruh teralienasi. Terasingkan, terpinggirkan, tertindas menjadi terminologi yang akrab dia ucapkan.Tidak sekadar teori. Solidaritas kepada nasib buruh dia tunjukkan dengan menolak alas kaki produk pabrikan. Kemanapun pergi, tak peduli ke kampus dia memilih tidak bersepatu maupun bersandal. Nyeker. Satu-satunya alas kaki yang pernah dia pakai hanya bakiak atau terompah kayu buatan warga lokal.

Gara-gara itu (nyeker) dia sempat tidak diizinkan mengikuti ujian tengah semester  di kelas. Namun Bangun menyikapi kalem dan mengritik pelarangan itu bentuk arogansi pendidikan. “Tidak ada kaitan kecerdasan dengan alas kaki yang dipakai. Lagipula di kampus ini saya juga tidak gratis,” katanya saat itu. Bangun juga menolak menaiki kendaraan umum. Alasannya sama dengan sepatu. Produk kapitalis.

Begitu juga sikapnya terhadap bisnis waralaba kuliner yang berbau Amrik, yakni Mc Donald dan CFC. Tidak hanya bicara soal buruh yang tertindas. Dia juga memaparkan korelasi bisnis kuliner itu dengan pembabatan hutan dan kerusakan lingkungan. Sikap ramah lingkungannya dia tunjukkan dengan tidak menggunakan sabun mandi dan deterjen yang limbahnya berpotensi merusak air tanah.     

Pernah suatu hari Bangun mengungkapkan cita-citanya ingin membeli tanah di kawasan jalan raya Ijen. Mendengar itu saya tertawa. Ijen merupakan kawasan elit di Kota Malang. Kawasan jetsetnya kaum berduit Malang. Selain utopia, keinginan itu  juga mematahkan ideologi anti kemapanannya. Namun ternyata dia memiliki alasan lain yang mulia.

Setelah tanah terbeli dan  dibagi bagi, dia berangan angan menyulap kawasan Ijen yang mewah itu menjadi area persawahan. Dengan kembali menjadi sawah atau tegalan, menurutnya tanah akan lebih produktif. Bangun memimpikan kelas sosial tertindas kembali berdaya dengan alat produksi milik sendiri. “Dan transaksi masyarakat  yang selama ini menggunakan uang, kembali pada konsep barter,” katanya sungguh sungguh.

Di masanya Bangun memiliki kemampuan mengakses teknologi informasi yang lebih maju. Ketika komputer masih memakai sistem DOS dan internet masih menjadi barang yang langka, dia sudah piawai menggunakannya. Dia lebih banyak menggunakan internet sebagai alat berjejaring. Berkomunikasi dengan kawan kawan se ideologinya di lintas negara.

Namun di balik kegarangan sikapnya terhadap kapitalisme, Bangun ternyata penyuka musik berirama lembut. Dia pendengar musik Toto yang khusyuk. Dalam suasana hening dia kerap menikmatinya sendiri. Juga seorang pendengar lagu Sting yang fanatik. Bangun tidak merokok. Juga bukan peminum alkohol. Bahkan dia seorang vegetarian.  

Pola makan yang menjauhi daging binatang, bahkan termasuk telur itu, terkuak secara tidak sengaja. Dalam suatu jamuan makan di kontrakan mahasiswa dia hanya mengambil lauk tempe tahu dan sayur. Sementara telur tidak sedikitpun dia sentuh. Bangun mendeklare dirinya seorang vegan. “Saya sudah lama hanya makan makanan produk nabati,” katanya siang itu. Karena aktifitas masing-masing kami jarang bertemu. Bahkan sampai lulus dan meninggalkan Malang, saya tidak pernah bertemu lagi.

Rabu lalu (1/5/) saat kepolisian Bandung Jawa Barat menangkapi orang orang berbaju hitam-hitam dan Kapolri Jendral Tito Karnavian menyebut mereka sebagai kelompok Anarko Sindikalis, saya kembali teringat Bangun. Dia pernah bilang, setelah lulus dia ingin kembali ke kampung halamannya di Jawa Tengah. Dia bercita cita memiliki perpustakaan pribadi di desa yang diberinya nama Bintang Kecil. (Mas Garendi)   

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.