READING

Sepotong Cerita Caleg Gagal dan Rumah Sakit Jiwa

Sepotong Cerita Caleg Gagal dan Rumah Sakit Jiwa

SEJAK mengetahui hasil penghitungan suara, dia mulai jarang bicara. Lebih banyak diam, menyendiri. Kepada siapapun. Tidak hanya kepada teman temannya. Tim suksesnya. Tapi juga kepada sanak terdekatnya.

“Kamu kesana dulu ya. Ayah lagi sibuk”. Awalnya diucapkan sebagai permintaan baik baik.

Kedengaran lirih. Halus. Nyaris tak ada nada penghalauan. Namun si bungsu yang baru dua pekan terdaftar sebagai murid playgroup tetap asyik dengan mainannya. Anak anak memang bukan orang dewasa yang mudah menangkap perintah sebagai perintah.

Apalagi dimatanya tidak terlihat ada alasan harus tergusur. Harus menyingkir. Di ruangan hanya ada seorang lelaki dewasa yang sedang duduk, dalam keadaan belum mandi, belum terbasuh air, berwajah muram, dengan asbak yang membukit puntung rokok.

Bergegas setengah berlari istrinya langsung mencengklak si bungsu ke atas gendongannya. Tidak peduli rebusan air dipanci lagi mendidih, bumbu dapur masih berserakan, dan telor mata sapi di penggorengan mulai berbau sangit. Semua ditinggalkan tanpa peduli.

Sebagai ibu yang melahirkan, dia tidak ingin nada bentakan suaminya disusul gebrakan meja berkali kali membuat jiwa anaknya trauma. Bocah kecil yang selama ini tak pernah mengerti apa itu kekerasan, tak urung tetap juga menangis.

“Ayah marah marah lagi ya bunda?”. Di depan pintu kamar, si sulung yang masih menenteng buku pelajaran Matematika SMP hanya bisa bertanya dengan nada duka.

Kalau sudah begitu, wanita itu memilih mengungsikan kedua anaknya ke rumah orang tuanya. Prinsipnya, anak anak harus dijauhkan dari “neraka” rumah tangga.

Kedua bocah kecil itu cukup beruntung memiliki kakek nenek dengan tempat tinggal yang hanya sepeminuman kopi. Meski hanya sementara, mengungsi cukup bisa melupakan peristiwa kekerasan yang berpotensi membuat trauma.

Lalu bagaimana dengan si ayah?.

Yang semula mengurung diri dalam kamar, mulai bergerak keluar rumah. Mendatangi orang orang yang menjadi basis konstituennya. Namun bicaranya tidak lagi fokus.

Omongan calon anggota legislatif (caleg) yang gagal mendapat kursi itu kemana mana. Ngelantur. Sampai akhirnya membuat orang orang tersentak kaget ketika barang barang bantuan yang diberikan dimintanya kembali. Ada material rumah, seperti batu bata dan semen. Ada juga peralatan pertanian. Semua diminta.

Di belakangnya orang orang mulai berbisik, kasak kusuk. Ada yang mengatakan stress. Depresi. Mulai tidak waras. Sampai akhirnya sebutan sakit jiwa itu muncul setelah keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit jiwa ternama.

Maklumlah, si ayah sudah meracau sendiri. Senyum senyum sendiri. Kadang menangis sendiri. Juga tidak mau tidur, menolak mandi, dan terakhir tidak lagi mengenakan baju.

Sebelum benar benar melucuti celana, keluarga langsung mengambil sikap melarikannya ke rumah sakit jiwa.

Mereka yang bersimpati hanya bisa berbisik,“maklum habis banyak”. Faktanya memang habis banyak. Untuk bisa mewujudkan angan angan menjadi anggota legislatif, kocek yang dirogoh si ayah tidak sedikit. Mencapai ratusan juta. Bahkan mendekati angka miliar.

Ketika harapan yang terlalu tinggi tidak kesampaian, yang terjadi adalah njeglek. Jiwanya terguncang, tak mampu menerima kenyataan.

Narasi ini true story masa lalu. Kasus seperti ini hampir selalu ada di setiap perhelatan pemilihan umum legislatif. Artinya menjadi fenomena lima tahunan dan dialami beberapa caleg yang gagal.

Kondisi terparah adalah dilarikan ke rumah sakit jiwa. Ada juga yang tiba tiba stroke, atau digugat cerai istri, begitu tahu cita cita menjadi seorang wakil rakyat pupus.

Dalam sebuah acara talk show televisi,  pengamat politik sekaligus pakar filsafat Rocy Gerung mengatakan, optimisme itu adalah kegilaan, bagaimana mengubah sesuatu yang tidak sesuai kenyataan menjadi kenyataan.

Pesan yang disampaikan, optimisme itu baik. Karena menjadi energi penyemangat. Bahkan hidup harus selalu optimis. Namun jika melebihi takaran, dan hasilnya tidak sesuai harapan, bisa berubah bencana.

Di Jombang, Jawa Timur, untuk menyambut terulangnya kasus serupa (guncangan jiwa), RSUD dan puskesmas setempat sudah menyiapkan pelayanan medis khusus untuk para caleg gagal di Pileg 2019. Bahkan di setiap puskesmas telah disiapkan tenaga medis yang sudah dilatih secara khusus.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Jombang dr Wahyu Sri Harini membenarkan caleg (khususnya yang gagal) berpotensi mengalami gangguan jiwa. “Memang betul, caleg itu termasuk berpotensi mengalami gangguan jiwa. Sudah berkorban banyak, namun hasilnya tidak sesuai harapan, “katanya kepada wartawan.

Sri Harini juga mengatakan, gangguan jiwa memiliki tingkatan yang berbeda. Mulai ringan, sedang, hingga berat. Karena Jombang tidak memiliki rumah sakit khusus penderita gangguan jiwa, maka untuk pasien yang berat akan langsung dirujuk ke Malang atau Surabaya.

Kendati demikian, jika indikasi gangguan jiwa itu muncul, dia menyarankan keluarga untuk tidak ragu ragu segera membawa ke puskesmas terdekat. Jika merasa malu, keluarga bisa menghubungi petugas atau kader. Intinya pasien harus segera tertangani dengan tepat.

“Selain minum obat, pemulihan kejiwaan bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kondisi pasien. Untuk obatnya gratis dari provinsi. Obat dari pemkab juga ada, “paparnya. Lebih jauh Sri Harini menjelaskan, kasus guncangan jiwa tidak hanya mendera kelompok caleg yang gagal.

Banyak penderita gangguan jiwa yang disebabkan ditinggal pasangan, gagal menikah, atau tuntutan orang tua dalam sekolah atau kuliah yang tidak sesuai keinginan. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.