READING

Sepotong Cerita Rekonsiliasi dari Blitar Selatan

Sepotong Cerita Rekonsiliasi dari Blitar Selatan

Di Blitar Selatan, rekonsiliasi peristiwa 1965 berjalan secara kultural. Rekonsiliasi dengan orang orang eks PKI mengalir alamiah tanpa formalitas dan settingan.

Rico, panggil saja begitu, adalah anak seorang eks komunis. Dari kerabat dekat di kampungnya Blitar Selatan, didengarnya getok tular stigma itu. Dalam peristiwa 1965 atau tepatnya tahun 1968 (Peristiwa Blitar Selatan), bapaknya dikatakan sebagai salah satu orang yang tersangkut, yakni istilah yang biasa disematkan kepada orang-orang yang terlibat G 30 S PKI.

Bukan hanya tersangkut. Di saat dirinya masih kecil, atau bahkan mungkin belum lahir, bapaknya juga dikatakan pernah ditahan. Namun sejauh mana keterlibatan sebagai aktivis BTI, Pemuda Rakyat, SOBSI, Sarbupri atau Lekra, hingga kini masih berselubung misteri. “Yang saya dengar hanya tersangkut PKI begitu saja,“ tuturnya.

Sebagai milenial yang asyik menggeluti time line media sosial, awalnya Rico tidak begitu memusingkan cerita itu. Apa itu PKI?, apa itu peristiwa 65, Blitar Selatan?, Luweng Tikus, Embultuk, Operasi Trisula?, baginya tidak penting. Dia lebih menikmati kongkow di kafe sambil mendiskusikan film, memutar youtube dan semacamnya.

Sikapnya easy going, leluasa kesana kemari. Baginya masa bodoh dengan cerita sejarah. Namun sikap cuek itu berubah setelah mendengar penuturan kakak tertuanya, yang bercerita betapa sulitnya menjadi anak seorang eks PKI. Testimoni kakaknya,  untuk mendapatkan sekolah saja sulit.

Bukan hanya sekolah bonafide. Sekolah tidak bermerek pun juga tidak menyediakan kursi untuknya. Setiap didatangi untuk pendaftaran selalu ada alasan bagaimana pihak sekolah bisa melakukan penolakan. Si kakak tahu. Semua itu bukan alasan nilai. Melainkan karena latar belakang orang tua.

“Ini berlangsung tahun 80an-90an. Mungkin karena faktor anak eks komunis, sehingga sulit mencari sekolah,“ tuturnya. Rico menjadi tahu kenapa kakaknya hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat menengah pertama (SMP). Kenapa setelah lulus tidak melanjutkan SMA lalu kuliah, tapi lebih memilih menjadi petani dan tukang pencari rumput.

Di sela cerita pahit itu, si kakak pernah berucap bercita-cita ingin menjadi pegawai (PNS). Dia melihat mengabdi kepada negara dan pelayan masyarakat sebagai pekerjaan yang mulia. “Tapi tentu saja mustahil bisa menjadi PNS,“ katanya menirukan ucapan saat itu.

Dari puzzle kisah yang berceceran itu, rasa penasaran Rico tentang siapa sebenarnya bapaknya terpantik. Dia tidak puas dengan sepenggal cerita yang tidak tuntas. Digalinya data lebih jauh.

Cerita lain yang didapat, bapaknya pernah memanggul senjata. Sebelum geger 65 dan kawasan Blitar Selatan menjadi benteng pertahanan terakhir sejumlah tokoh Comitte Central (CC) PKI Jakarta, bapaknya pernah mendapat pelatihan militer. Petani  bertubuh kecil itu dilatih berperang. Diajari menggunakan senjata api dan bagaimana mempertahankan diri.

Pelatihan yang berlangsung massif itu diinstrukturi langsung kesatuan militer. Mungkin bapak Rico dan teman temannya hendak dijadikan semacam milisi. Rico sempat tidak percaya. Selain berperawakan kecil dan kurus, yang dia tahu ayahnya hanya seorang petani utun. Aktivitasnya sehari hari hanya bercocok tanam dan mencari rumput pakan sapi. Dia tidak melihat syarat sebagai orang yang terampil mengokang senjata.

“Masak seorang petani lugu bisa pegang senjata,“ katanya saat itu meragukan. Lagi-lagi jiwa muda memaksanya mencari tahu lebih jauh lagi. Dia nekat memberanikan diri bertanya langsung kepada bapaknya. Pada suatu hari ketika suasana sedang santai, pertanyaan itu dia lontarkan.

Awalnya Rico hanya mendapati suasana hening. Ayahnya membisu. Sikap pendiamnya terlihat menguat. Namun tidak berlangsung lama teka-teki itu terkuak juga. Bapaknya membuka suara dan membenarkan dirinya berstatus sebagai orang yang tersangkut. Dan itu tidak sendirian. Hampir sebagian besar warga Blitar Selatan saat itu terlibat dalam gerakan G 30 S PKI.

Namun tidak semuanya sama. Ada yang hanya ikut-ikutan, yakni mengikuti tetangga sekitar. Bergabung dengan Lekra. Masuk ke BTI atau Pemuda Rakyat tanpa alasan ideologis. Namun tidak sedikit yang memahami ideologi karena pernah menerima pendidikan ABC politik.

Dalam peristiwa Blitar Selatan, ayahnya yang kini berusia mendekati 90 tahun, berhasil meloloskan diri. Begitu tahu namanya masuk dalam daftar orang yang dicari, dirinya langsung kabur. Bapaknya menjadi pelarian dari hutan ke hutan. Bertahan hidup dengan makan seadanya. Daun-daunan, buah-buahan dan binatang yang ada di depan mata. 

Hanya karena tidak tega mendengar keluarganya terus diinterogasi tentara, ayah Rico akhirnya memutuskan menyerahkan diri. Tidak cukup menjalani hukuman penjara. Selama rezim orde baru berkuasa ayahnya juga dikenakan wajib lapor. “Saya juga pernah melihat KTP yang ada kode ET-nya (Eks Tapol) itu,“ paparnya.  

Masa Lalu Biarkan Berlalu

Sebagai anak eks komunis, Rico tidak pernah mendapat perlakuan yang beda. Bahkan dirinya tidak merasa sebagai keturunan eks PKI. Di kampungnya dia bebas beraktifitas seperti halnya pemuda lain. Dia cukup aktif  di sejumlah agenda kegiatan Karang Taruna dan itu diterima dengan baik. Tidak hanya sekedar hadir. Pemuda berusia 30 tahun itu juga ikut urun rembuk.  

Semisal dalam momentum peringatan hari kemerdekaan (17 Agustus). Mulai persiapan lomba sampai terlaksananya upacara bendera, tidak lepas dari sumbangan pikirannya. Dan itu sudah dilakukan Rico sejak lama. “Kalau pas tidak berhalangan, saya selalu menyempatkan pulang kampung untuk merayakan 17 Agustus di kampung,“ selorohnya.

Secara sosial Rico cukup mendapat tempat. Suaranya lumayan didengar. Oleh lingkungan sekitarnya, usulan yang disampaikan dalam rapat kegiatan seringkali diterima. Dan itu tidak lepas dari latar belakang pendidikannya sebagai sarjana. Di saat banyak pemuda di desanya mengambil jalan menjadi buruh migran ke Malaysia, Taiwan atau Hongkong, Rico memilih sekolah sampai mendapat gelar sarjana.

Soal ini dia merasa bernasib lebih baik dibanding kakaknya. Era reformasi telah memberi banyak kemudahan. Tidak hanya kepada anak-anak eks komunis. Namun juga mengembalikan para eks komunis menjadi lebih manusiawi. Salah satunya dihapusnya kebijakan kode ET KTP para eks tapol. “Tiba di jaman saya, mencari sekolah tidak sesulit seperti yang dialami kakak saya,“ katanya.  

Begitu juga di kegiatan bersifat sosial keagamaan. Yasinan, tahlilan  dan sejumlah aktifitas religi di musala, Rico terlibat cukup aktif. Dia biasa meriung bersama  anak anak aktivis Ansor dan Banser tanpa satu sama lain mengungkit peristiwa Blitar Selatan. “Kami bisa hidup berdampingan dengan rukun,“ katanya.

Baginya semua yang sudah terjadi adalah masa lalu. Sekelam apapun sejarah, asal tidak diungkit-ungkit sebagai sebuah persoalan, menurut Rico akan berlalu dengan sendirinya. Di sisi lain dia melihat tidak banyak generasi muda Blitar Selatan yang mengerti peristiwa 1965 dan 1968.

Apa itu PKI?, apa yang diperjuangkan parpol terlarang itu?, kenapa bisa terjadi G 30 S PKI?,  dan siapa yang bertanggung jawab?, tidak banyak yang paham. Selain tidak mengerti, tidak sedikit yang tidak mau tahu. Ketidakpahaman itu justru membuat mereka tidak merasa dibebani sejarah. Lebih mudah melupakan sejarah.  

“Kalaupun paham hanya hal yang umum. Dan itu juga membuat kami menjadi lebih ringan menjalani hidup,“ katanya. Sikap melupakan sejarah kelam dan mengganti dengan cita-cita membangun desa secara bersama, juga ikut mengikis stigma. Cap Blitar Selatan sebagai kawasan basis berganti dengan cerita tempat kunjungan wisata yang indah.

Faktanya hampir seluruh kawasan pantai di Blitar Selatan tujuan wisata bahari yang memikat. Terkikisnya stigma itu juga dipercepat dengan munculnya banyak tempat ibadah dan maraknya kegiatan keagamaan. “Singkatnya tidak ada lagi istilah anak eks PKI. Yang ada, kami satu desa bagaimana memajukan desa bersama sama,“ paparnya.

Rekonsiliasi Kultural Adalah Kunci

Pembina Barisan Ansor Serba Guna NU Kabupaten Blitar Imron Rosadi membenarkan rekonsiliasi 1965 di Blitar Selatan bergerak melalui jalan kultural. Sudah berlangsung lama antara anak anak eks komunis dan anak anak Ansor bergandengan tangan. Saling mengisi satu sama lain. Bersama sama membangun desa menjadi lebih baik.  

“Jalan kultural dengan media sosial keagamaan menjadikan rekonsiliasi di Blitar Selatan berjalan dengan baik,“ kata Imron yang biasa disapa Baron. Sejak awal, Banser NU Kabupaten Blitar sengaja tidak menempuh ruang formal. Membicarakan rekonsiliasi melalui forum-forum seminar. Atau bertemu dalam panggung settingan.

Meski diakui terkadang dibutuhkan, cara formal itu kata Baron tidak efektif. Bahkan jika tidak tepat melangkah, justru akan membuka luka lama. Baron lebih mempercayai kegiatan yang mengedepankan semangat patembayan, paguyuban ataupun kegotongroyongan. Merangkul semuanya secara alamiah.   

Dengan pembauran kultural, semangat yang muncul adalah kebersamaan. Yang ada apa yang hari ini bisa dilakukan untuk kemajuan bersama, khususnya di wilayah Blitar Selatan. Dan keberhasilan cara kultural ini sekaligus mengikis beban traumatis dan stigma yang ada. “Misalnya ketika ada eks komunis yang meninggal dunia, orang orang Ansor -Banser juga takziah. Begitupun sebaliknya,“ katanya.  

Di sisi lain di setiap momentum yang bersinggungan dengan peristiwa G 30 S PKI ataupun hari lahir PKI yang jatuh 23 Mei, tidak lagi muncul gejolak apapun. Sebab sejarah telah dipahami bersama sebagai masa lalu yang sudah selesai. “Di tingkat bawah tidak ada lagi stigma yang bisa memanaskan suasana. Semua bisa bergandengan bersama,“ paparnya.   

Baron menambahkan, keberhasilan program rekonsiliasi di Blitar Selatan tidak lepas dari peran ketokohan seseorang, yakni baik tokoh lokal ataupun di atasnya. Rekonsiliasi yang berjalan baik tidak hanya sekadar diucapkan. Tapi juga diimplementasikan dengan sungguh sungguh.

Demi keutuhan NKRI, semua yang sudah terbangun baik ini menurut Baron harus dijaga. Karenanya ketika ada kelompok radikal yang kembali memunculkan isu komunis yang intinya hendak membenturkan dan memecah belah kebangsaan, dirinya sangat menentangnya.

“Kami sangat menentang isu yang memecah belah itu. Meskipun tentunya Ansor-Banser tetap senantiasa menjaga kewaspadaan, “tegasnya. (Mas Garendi)  

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.