READING

Sepotong Cerita Reuni Budi Yang Sempat Lupa Diri

Sepotong Cerita Reuni Budi Yang Sempat Lupa Diri

REUNI bisa menjadi arena pemenuhan hasrat mereka yang agenda masa lalunya belum kesampaian. Seperti halnya Budi (nama alias) yang pernah memendam rasa pada teman sekelas, namun waktu berlalu dan ia hanya bisa gigit jari.

Begitu grup WA alumni sekolahnya bersepakat mengadakan reuni, dia seketika bersorak gembira. Budi yang pertama menaruh jempol tiga, disusul alasan sudah waktunya komunikasi tidak hanya berkutat di dalam grup WA.

“Saat itu rasanya tak sabar menanti datangnya hari H, “tutur Budi dengan ketawa.  

Dulu Budi termasuk bocah remaja yang mudah terjerembab pada sesuatu yang oleh pandangan umum disebut memikat. Kagum tapi memilih bisu. Gentar mengutarakan isi hati. Paling puncak hanya ber ghibah bersama teman senasib.

Kadang kadang ia memberanikan diri mencuri pandang. Namun itupun selalu diiringi dengan pori pori tangan yang membesar dan berkali kali mengelap dahi yang mendadak licin.

Rasa malu yang  tidak pada tempat itu kerap menggelincirkan Budi ke dalam golongan merugi. Celakanya semua itu baru ia sadari setelah semuanya menemukan pasangan.   

“Saya itu dulu pemalu dan kalau diingat lagi malu maluin, “tuturnya serius.      

Hati Budi seperti digelonggong Tequiela lima gelas es teh sambil menikmati keindahan surya yang nyungsep di ufuk barat, ketika hari H reuni disepakati. Hatinya sempoyongan, deg degan yang disusul salah tingkah.

Badai bahagia mengoyak ngoyak hingga lupa bila dirinya bukan lagi bocah berseragam SMA. Usia Budi sudah kepala empat lebih dua angka. Sudah beristri dan beranak tiga dengan si sulung sudah duduk di bangku Aliyah. “Itu lebih karena terbawa perasaan cepat cepat ingin bertemu si dia, “katanya.

Terbitnya jadwal reuni yang telah disepakati membuat wajah memori Budi seketika berpaling ke belakang. Bertanya tanya dalam hati apakah doi masih sememikat dulu?, atau malah semakin aduhai?, lalu seperti apa suaminya?, apa pekerjaanya?.  

Ada kecamuk antara rasa cemas dan grogi yang mengguncang. Apakah keindahan itu masih utuh atau hanya tinggal puing puing sisa. Apakah akan menjadi perjumpaan yang bahagia?.

Brengseknya, pikiran bengalnya ikut menggarami, apakah  hanya cukup bersalaman dan ngobrol begitu saja?. Begitu berfikir itu nama nama hotel berbintang plus bandrol untuk semalam, sontak melintas.   

“Ada rasa dag dig dug yang tidak jelas jluntrungnya,“ungkapnya dengan jujur sambil tersenyum nakal.

Dulu, Budi jenis bocah yang bila bertemu lawan jenis selalu minder, dan selalu merasa bukan siapa siapa. Itu lebih dikarenakan fasilitas yang ia miliki tidak setara dengan lainnya.

Dia bukan tipe Pablo Picasso yang mudah memikat banyak lawan jenis, yang beberapa diantaranya sampai patah hati, bahkan gila dan mati bunuh diri.  

Dia tidak sebandel Picasso yang diumur 15 tahun sudah keluyuran dari satu rumah bordil ke rumah bordil yang akhirnya mengidap penyakit kelamin.

Budi juga bukan model Kusno yang cukup bermodal kharisma diri dan kecerdasan, tanpa waktu lama meringkus hati Inggit Garnasih yang sudah bersuami.

Saat ini Budi telah menjelma sebagai sosok pria dewasa yang dari penampilannya orang langsung bisa menyimpulkan lelaki tajir. Metamorfosa itu ikut mengubah mentalnya menjadi lebih percaya diri.

Giorgio Armani sudah menjadi bagian sandangannya sehari hari. Apalagi koleksi blue jeans 501 nya, yang bila setiap hari dipakai bisa berganti ganti selama tiga pekan.

Belum lagi sepatu, arloji, ponsel, laptopnya, yang untuk pegawai rendahan harus bekerja pontang panting dua tiga tahun, bahkan sampai terserang tipus baru bisa memiliki.

Di garasi rumahnya terparkir empat mobil yang pajak tahunannya diatas 5 jutaan yang lengkap dengan sopir pribadi yang siap mengantar kemana mana.

Gestur tubuh Budi juga berubah drastis. Perawakan yang dulu jangkung kurus serta kerap dibully dengan sebutan jerangkong, menjelma padat berisi. Perkakas gym menjadikan otot bisepnya mengencang, dada semakin bidang dan pundaknya lebih tegap.

Namun khusus untuk bagian perut sengaja tidak diratakan, ia sengaja membiarkan sedikit membuncit, dengan alasan simbol kemakmuran. “Dengan apa yang saya miliki saat ini kepercayaan diri saya seperti meloncat ke atas gedung pencakar langit, “paparnya.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Sesuai kesepakatan bersama, reuni tidak diwajibkan membawa keluarga. Tapi bila memang ada yang ingin memaksa mengajak pasangan (istri dan suami) atau anak, hukumnya sunah.  

 ”Tahu sendirilah. Ini pertemuan manusia yang sudah sama sama dewasa, “selorohnya.

Reuni adalah romantisme. Sebuah kesenangan terhadap spontanitas, ketidakaturan, variasi, yang tidak dapat diperkirakan, ketidakpastian pemberontakan, keliaran imajinasi, eksentrik yang tidak biasa.

Namun motif yang menghinggapi Budi tentu tidak sama dengan gerakan (romantisme) yang lahir di Eropa akhir abad 18 hingga pertengahan abad 19 dengan filsuf Friedrich Schlegel sebagai perintisnya itu.

Di hari reuni itu Budi sengaja tidak membawa anak dan istri. Dia berharap saat bertemu dengan pujaan hati bisa lebih leluasa berimprovisasi. Dan pertemuan benar benar sesuai harapan.

Di depan si pujaan, Budi membuka senyuman yang ia tata sealamiah mungkin. Tak urung hatinya masih bergetar yang itu membuat momentum berjabat tangan tanpa sengaja menjadi sedikit remasan.

Dan sontak si doi mengaduh kecil sambil berjingkat jingkat. “Saya pun sedikit malu, “tuturnya mengenang.

Percakapan pun mengalir lancar. Teman teman lain yang semula ikut nimbrung dan itu menganggu, bergeser ke tempat lain satu persatu. Mulai dari membicarakan soal anak, suami, pekerjaan, berpindah ketema lebih privasi.

Sebelum acara reriungan berakhir, percakapan berlanjut dengan saling menukar nomor selular. “Dan selanjutnya tahu sendirilah. Kita kan sama sama sudah dewasa,  “kata Budi dengan ketawa ngakak.

Apa lagi yang dibutuhkan dua orang lain jenis yang sudah sama sama dewasa saat kembali bersua?. “Eit, jangan ngeres dulu dong, “sergah Budi.

Paska reuni hubungannya dengan si doi memang semakin akrab. Semakin sering menyapa dan bertukar kabar. Namun itu menjadi sebuah hubungan antar keluarga.

Kebetulan suami si pujaan hati adalah sahabat kakak kandung Budi. Karenanya antara keluarganya dan keluarga si doi akhirnya sering beranjang sana, saling berkunjung, bersilaturahmi.

Bukankah sesuai hadis kanjeng nabi, selain memperluas rezeki, silaturahmi juga bisa memperpanjang usia?. Begitulah faedah reuni. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.