READING

Setahun Bom Surabaya, Bom Sri Lanka Kuak Luka Lama

Setahun Bom Surabaya, Bom Sri Lanka Kuak Luka Lama

Susah payah Silvia Chayaningsih meredakan amarah yang berkecamuk dalam dirinya semenjak bom menyalak di Gereja Santa Maria Tak Bercela pada Minggu, 13 Mei 2018 silam.

SURABAYA – Peristiwa ledakan yang terjadi di tiga gereja di Sri Lanka pada Minggu Paskah 21 April 2019 memutar kembali rekaman peristiwa yang justru ingin dia redam.

Apa salah kami, sehingga gereja kami dijadikan sasaran bom?. Pertanyaan  ini masih saja diulangnya saat dihubungi jatimplus melalui telepon pada Selasa (7/5/2019). Dirinya mengaku masih belum menemukan jawaban tuntas atas pertanyaan ini.

Minggu pagi itu, Silvia mengikuti misa pada sesi kedua. Dirinya bertugas sebagai penyambut jemaat yang hendak masuk ke dalam gereja.  Misa sesi pertama sudah selesai beberapa saat lalu. Jemaat yang hendak ikut misa sesi kedua mulai berdatangan. Pada saat itulah dua pelaku yang sempat dihadang laju motornya saat hendak mendekati pintu masuk gereja, meledakkan diri yang menyebabkan 6 jemaat meninggal dunia.

6 foto anggota jemaat yang menjadi korban ledakan 13 Mei 2018 di pajang pada saat misa yang diselenggarakan seminggu sesudah peristiwa ledakan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo

Silvia yang tak jauh dari tempat ledakan segera mendekat. “Darah ada di mana-mana,” tuturnya saat wawancara setahun silam di rumahnya. Dia melakukan pertolongan sebisanya. Serpihan tubuh terserak  di sejumlah titik halaman gereja.

Baca juga: Bom Surabaya Adalah Peristiwa Iman, Bukan Konflik Agama

Akibat kuatnya bunyi ledakan, telinga kanannya tak berfungsi dengan normal hingga kini. Ledakan tersebut juga melukai Gabriella Hervianny, putrinya yang saat itu berusia 16 tahun. Gabby pahanya terluka tertembus pecahan kaca.

Baca juga: Komitmen Australia-Indonesia Melawan Terorisme

“Saya tidak takut, sama sekali tidak takut, tapi saya marah ,” jawabnya tegas dalam wawancara setahun silam ketika ditanya apakah akan ikut misa hari Minggu depan. Gereja Santa Maria Tak Bercela memang tetap mengadakan misa sebagaimana biasanya meski usai diguncang bom.

Pada Minggu, 30 Mei 2018, tujuh hari setelah ledakan, Silvia pergi ke gereja mengikuti misa. Puing-puing sudah dibersihkan dan beberapa bagian atap yang rusak sudah dibenahi. Pada misa kala itu, keamanan gereja diperketat. Jemaat yang hendak beribadah, bawaannya diperiksa di luar pagar oleh aparat keamanan dari kepolisian yang dibantu oleh Banser dan relawan sebelum dipersilakan masuk ke dalam gereja.

Baca juga: Jemaat Resah Perempuan Berhijab Ikut Ibadah di Gereja

Silvia Chayaningsih sedang berdoa di Gereja Maria Tak Bercela sebelum dimulai misa yang diselenggarakan seminggu sesudah peristiwa ledakan bom. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo

“Saya ikut bimbingan Romo, melakukan puasa dan doa,” kata Silvia tentang upayanya memulihkan emosinya yang ruah dengan amarah. “Tak selalu stabil. Kadang naik kadang turun,”akunya. Januari silam dalam suatu acara di mana dirinya berada dalam satu forum dengan para mantan teroris, dia mengakui amarahnya langsung mencuat. Namun dia sadar bahwa mereka bukanlah pelaku yang mengebom gerejanya.

Baca juga: Gus Reza: Jangan Merasa Benar Sendiri

“Amarah saya sebetulnya berangsur-angsur padam. Walaupun ajaran dasar Katolik adalah mengampuni, namun peristiwa ledakan bom di Sri Lanka membuat sisi manusia saya meledak lagi,” aku Silvia.  “Memori peristiwa ledakan di gereja kami seperti tayang kembali,” lanjut perempuan 45 tahun ini.

Tepat setahun ledakan bom Surabaya, Senin (13/5/2019) di Gereja Santa Maria Tak Bercela akan dilakukan peringatan untuk mengenang para korban yang melibatkan umat dari berbagai agama.

Baca juga: Banser NU Pelopori Gerakan Bersih Lingkungan

Pada 13 Mei 2018 silam, Surabaya diguncang oleh bom yang dilakukan oleh satu keluarga yang terdiri dari suami istri dengan 4 orang. Mereka menarget tiga gereja. Dua anak laki-laki  masing-masing berumur 18 dan 16 tahun mengawali ledakan pertama di Gereja Santa Maria Tak bercela dengan mengenderai motor. Disusul sang istri dengan dua anak perempuannya masing-masing berumur 12 dan 9 tahun yang meledakkan diri di depan pagar GKI Diponegoro. Dan urutan terakhir dilakukan oleh sang bapak yang menabrakkan mobil bom bunuh dirinya di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno. Akibat ledakan ini tercatat 18 orang meninggal dunia dan 57 orang luka-luka.

Pada tanggal yang sama, bom meledak di rusunawa Sidoarjo. Bom meledak sebelum sempat dipergunakan di tempat sasaran. Ledakan ini menewaskan tiga orang terduga pelaku yang juga merupakan satu keluarga.

Senin pagi (14/5/2018), sehari setelah ledakan bom di tiga gereja, Mapolrestabes Surabaya menjadi sasaran bom. Satu keluarga yang terdiri dari 5 orang berboncengan menggunakan 2 sepeda motor meledakkan diri di pos penjagaan. 4 orang pelaku tewas sementara satu anak usia 7 tahun terpental oleh ledakan dan berhasil diselamatkan. Ledakan bom ini melukai 4 orang anggota kepolisian dan 6 orang pengunjung yang posisinya dekat lokasi kejadian. (Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.