READING

Setelah Alat Berat Merampas Hajat Hidup Puluhan Wa...

Setelah Alat Berat Merampas Hajat Hidup Puluhan Warga Banyuwangi

Sebanyak 46 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Tukang Kayu Kabupaten Banyuwangi dipaksa angkat kaki dari tanah yang mereka tinggali. Selanjutnya rumah yang mereka bangun dengan jerih payah itu diluluhlantakkan dengan alat berat.

BANYUWANGI-  Dengan mata berkaca kaca Nurul Aini, janda 62 tahun ini terus mengumpulkan potongan  kayu. Kayu kayu itu ia ambil dari puing reruntuhan tempat tinggal yang sudah rata dengan tanah yang diharapkan masih bisa menjadi tempat berteduh baru.

Nurul Aini merupakan satu diantara ratusan warga yang menjadi korban eksekusi (penggusuran) tanah seluas 2,4 hektare di Lingkungan Stendo RT. 01 RW. 07 Kelurahan Tukang Kayu Banyuwangi, Rabu (13/11) lalu. Paska pengggusuran itu, ia dan dua cucunya terpaksa bercerai berai.

“Tadi malam saya numpang tidur dihalaman rumah warga, sementara cucu saya sekarang sudah bersama keponakan, ”tutur perempuan yang selama ini tinggal berdua dengan cucunya. Tanah yang sebelumnya berdiri bangunan rumah adalah hasil membeli.

Seingat Nurul Aini, transaksi itu dilakukan almarhum suaminya 20 tahun silam. Memang tidak ada bukti sertifikat yang menunjukkan tanah yang mereka tempati telah beralih kepemilikan. Namun ia mempunyai selembar surat semacam kuitansi jual beli.  

Nurul Aini tidak menyangka selembar surat itu ternyata tidak cukup kuat melindungi hajat hidupnya dari tuntutan Gatot dan Sutrisno, dua ahli waris tanah yang mengajukan gugatan ke pengadilan.  

“Kami tidak tahu harus kemana lagi mencari keadilan, “keluhnya.  

Kesedihan serupa dirasakan keluarga Surat (53). Penggusuran memaksa 8 orang dengan dua diantaranya janda mengungsi ke sebuah gudang rongsokan. Meski saat ini kalah, Surat bertekad tidak akan berhenti melawan.

 “Ya, kalau saya harus melawan, karena saya disini tanah beli, tidak sewa, tidak kontrak. Saya sudah lebih 20 tahun menempati tanah ini, tapi ternyata begini dampaknya, ”tegasnya.

Akibat penggusuran yang meluluhlantakan bangunan rumah anak anaknya tidak bisa lagi bersekolah. Perkakas pendidikan seperti seragam, buku ikut ambruk bersama puing reruntuhan saat alat berat yang didatangkan pengadilan menghantam bangunan rumah.

“Tidak sempat terselamatkan, “keluh Surat. Kasus sengkata tanah ini melibatkan dua ahli waris, yakni Gatot dan Sutrisno. Pada tahun 90an, warga Lingkungan Stendo membeli tanah kepada Sutrisno dengan harga  mulai Rp 9 juta-Rp 30 juta per kapling.

Surat masih ingat saat itu dirinya hanya menerima surat nota jual beli, bukan sertifikat. Sebagai warga yang awam hukum, mereka hanya diam karena merasa semua itu akan baik baik saja. Saat itu warga juga tidak mempersoalkan meskipun sertifikat tanah itu beratas nama Gatot.

Rasa cemas mulai timbul setelah beberapa tahun kemudian sertifikat hak milik yang diharapkan ternyata tidak juga muncul.

Kecemasan itu mencapai puncaknya saat dua orang ahli waris itu tiba tiba menyatakan hendak melakukan penggusuran. Peristiwa itu berlangsung tahun 2007. Penggusuran itu gagal karena warga melakukan perlawanan.

Sejak inisden itu, warga mendapat surat dari Pengadilan Negeri Banyuwangi yang intinya pemberitahuan untuk mengosongkan lahan karena hendak dilakukan penggusuran. Warga sempat tidak percaya, karena ancaman penggusuran bukan pertama kalinya dan seringkali tidak terbukti.

Ternyata apa yang diperkirakan warga meleset. Penggusuran ternyata benar benar dilakukan. Warga kaget kaget dan tidak siap saat melihat  petugas dengan alat berat tiba tiba sudah  berada di lokasi.

Dalam sekejap, tanah dan rumah yang dibeli dengan cucuran keringat itu luluh lantak. Sebagai upaya terakhir sebanyak 200an warga yang terdiri dari 46 KK itu bergotong royong mengumpulkan benda benda yang dinilai masih bisa digunakan.  Untuk sementara waktu mereka mengungsi ke rumah sanak saudara terdekat.

Kendati demikian tidak sedikit yang bertahan di beberapa lokasi yang dinilai aman. “Untuk saat ini warga masih tidur dibeberapa titik lokasi yang dianggap aman dulu, ada yang di pos kamling, ada yang dibawah pohon mangga, ada yang diteras warga” kata Heri Purwanto, ketua RT 01/07 Lingkungan Stendo Tukang Kayu Banyuwangi.

Heri mengatakan penggusuran dilakukan petugas PN Banyuwangi setelah RM Suwoyo alias Gatot memenangkan gugatan perdata. PN Banyuwangi mengeluarkan amar putusan Nomor 7/Pen.Pdt.Eks/2000/PN.BWI, yang intinya melarang memasuki dan menggunakan lahan atas nama RM Suwoyo.

Saat penggusuran berlangsung Lurah Tukang Kayu memilih berdiri di kejauhan tanpa ada upaya membela warga.  Sikap itu, kata Heri yang membuat dirinya dan warga yang tergusur merasa kecewa. Sebab terlepas dari sengketa yang ada, saat ini ada ratusan orang yang kehilangan tempat tinggal.

Mereka membutuhkan bantuan tenda, makanan  obat obatan dan sarana MCK. Selain itu dampak dari penggusuran tidak sedikit anak anak yang tidak bisa lagi bersekolah. “Sampai saat ini juga tidak ada yang sekedar melihat. Baik itu pihak kelurahan maupun dari Pemkab Banyuwangi, “keluhnya.

Sementara Wakapolres Banyuwangi Kompol Andi Yudha mengatakan, dalam kasus ini pihaknya hanya menjaga keamanan selama proses penggusuran yang dilakukan juru sita PN berlangsung. Menurutnya proses berjalan lancar. “Ini kasus yang cukup lama dan baru diproses, “ujarnya.

Reporter : Widie Nurmahmudy
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.