READING

Setelah Dandhy Laksono Tersangka, Berikutnya Siapa...

Setelah Dandhy Laksono Tersangka, Berikutnya Siapa Lagi?

Dandhy Laksono ditangkap. Pada Kamis (26/9) pukul 11 malam, jurnalis yang juga sutradara film Sexy Killers itu didatangi petugas, disodori surat penahanan, lalu digelandang ke Polda Metro Jaya. Penangkapan Dandhy terkait cuitannya di media sosial tentang kecamuk di Papua yang hingga kini masih membara.

Begini kronologis Penangkapan yang disampaikan YLBHI:

Pada pukul 22.30 Wib Dandhy Laksono baru tiba di rumahnya, di komplek perumahan Pondok Gede, Bekasi.

Baru 15 menit di dalam rumah, tepat  pukul 22.45 Wib, tamu menggedor gedor pagar rumah Dandhy. Dandhy beranjak keluar, lalu membuka pagar.

Ada empat orang, dengan satu orang bernama Fathur sebagai pimpinan. Disampaikan kepada Dandhy, kedatangan mereka di tengah malam dengan membawa serta surat penangkapan.

Penangkapan itu terkait postingan Dandhy soal rusuh Papua di media sosial twitter. Proses penjemputan paksa berlangsung cepat.

Pukul 23.05 WIB, Dandhy dinaikkan ke mobil Toyota Fortuner D 216 CC dan langsung dibawa ke Polda Metro Jaya Jakarta. Peristiwa itu disaksikan dua orang satpan di lingkungan RT setempat.

“Disandera” dengan Status Tersangka

Mengenakan kaos oblong warna hitam, Dandhy keluar dari ruang pemeriksaan Polda Metro Jaya. Air muka aktivis yang rajin mengkritik kebijakan negara itu  tidak menunjukkan rasa panik. Tenang.

Saat menceritakan perihal surat penahanan tanpa didahului pemanggilan, tanpa lebih dulu berstatus saksi, Dandhy terlihat tak bisa menahan gelinya. “Tiba tiba menyodorkan surat penahanan.Biasanya ada panggilan. Saksi dulu atau apa, “katanya sembari tersenyum.

Kendati demikian, kepada awak media Dandhy mengaku hal itu cukup membuatnya kaget. “Iya saya terkejut karena tiba tiba ada petugas datang ke rumah, menunjukkan materi yang saya tweet, mengkonfirmasi apakah itu tweet saya terkait Papua dan daya jawab betul, “tuturnya.

Sejumlah aktivis Civil Society mendampinginya. Dari dalam ruangan Polda Metro Jaya, tampak  keluar Budiman Sujatmiko, anggota DPR RI dari Fraksi PDI P. Mantan Ketua Umum PRD yang menjadi rival Dandhy dalam debat Papua langsung menjejerinya.

Dalam proses verbal, Dandhy dicecar 14 pertanyaan serta 45 pertanyaan turunan.

Dia memilih kooperatif, mengikuti seluruh proses verbal. Dalam kasus yang menjeratnya Dandhy justru merasa penasaran dasar yang digunakan aparat kepolisian.    

Meski dibolehkan meninggalkan Polda Metro Jaya, Dandhy ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat pasal ujaran kebencian dan Sara UU ITE. Oleh kuasa hukum Dandhy, tuduhan itu dinilai tidak relevan.

Penangkapan Dandhy dan penetapannya sebagai tersangka mengejutkan warga net. Dalam sekejap banjir hastag #BebaskanDandhy. Petisi online berjudul “Hargai Kebebasan Berpendapat : Bebaskan Dandy Laksono dari Seluruh Tuntutan Hukum” juga muncul membela Dandhy.

Dari target 15.000 tanda tangan dukungan, petisi online di situs change.org sudah ditandatangani 12 ribu. “Dandhy sepertinya telah disandera, “kata aktivis anti korupsi Blitar.   

Dandhy dan Badudu

Lahir 29 Juni 1976 di Lumajang, Jawa Timur, pemilik nama lengkap Dandhy Dwi Laksono itu dikenal sebagai jurnalis, sutradara film dokumenter dan sekaligus aktivis civil society yang getol menghantam kebijakan negara yang tidak pro rakyat.

Isu kemanusiaan, lingkungan hidup dan militerisasi selalu digali dan disingkapnya lebar lebar. Sebut saja film dokumenter Sexy Killers yang meledak jelang pemilihan Presiden 2019 lalu. Tayangan itu memukul telak ulu hati kedua kubu pasangan capres cawapres.

Dia sempat dicap tukang kompor gerakan hak memilih untuk tidak memilih (golput). Begitu juga filmnya yang lain, Di Balik Tembok Arsip Nasional (2008), Kiri Hijau Kanan Merah (2009), Baret Coklat (2010) dan Alkinemokiye (2012), juga menimbulkan kontroversi.    

Jebolan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran itu  mengawali karir sebagai reporter di tabloid Kapital (1998). Selama 14 tahun malang melintang sebagai jurnalis, hampir semua media, yakni mulai cetak, TV, online dan lain lain, pernah dijajalnya.  

Laporan investigasi Dandhy soal kasus Pembunuhan Munir dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) diganjar sebagai liputan Jurnalis Terbaik Jakarta (2008). Karya Ranger di Tepian Leuser (2008) juga menyabet penghargaan British Council Broadcast Competition (2008).

Namun pilihan terakhirnya jatuh pada film dokumenter. Sepanjang tahun 2015-2016, Dandhy melakukan perjalanan panjang keliling Indonesia dengan bersepeda motor dan dinamai Ekspedisi Biru.  

Dalam kasus rusuh Papua yang hingga kini masih terus membara, Dandhy terang terangan menunjukkan keberpihakannya. Baginya ada nilai kemanusiaan orang orang Papua yang patut dibela.

Belum lagi kasus HAM di Papua yang bertahun tahun terbengkalai. Atas sikapnya, stempel  pro separatisme disematkan kepadanya. Dukungannya terhadap Papua mengingatkan dengan sikapnya soal refrendum Timor Timur di era pemerintahan Habibie.

 “Banyak orang Indonesia mencibir makna kemerdekaan Timor Leste bila ujungnya harus sengsara. Persis orang orang Belanda yang mencibir republik yang tak henti hentinya dirundung kekacauan di masa masa revolusi,“katanya (Prolog Indonesia Sale).

Alghiffary Aqsa, kuasa hukum Dandhy mengatakan hanya satu cuitan soal rusuh Wamena yang dimasalahkan Polda Metro Jaya. Dandhy dianggap melanggar pasal 28 UU ITE dan pasal 14 dan 15 No 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana. “Twit terkait insiden di Jayapura dan Wamena, “katanya.

Meski tidak ditahan, namun dengan status tersangka, cukup dengan dalih melarikan diri, mengulangi perbuatan dan menghilangkan alat bukti, aparat kepolisian bisa setiap saat menjebloskan Dandhy kedalam bui.

Selain Dandhy Laksono, pada malam yang sama aparat kepolisian juga menangkap Ananda Badudu. Penjemputan paksa cucu pakar Bahasa Indonesia JS Badudu itu terkait dengan alasan Ananda membantu mengumpulkan sekaligus menyalurkan dana dari masyarakat untuk aksi demonstrasi mahasiswa.

Petisi online di situs change.org berjudul “Bebaskan Ananda Badudu dengan hastag #KitaBersamaAnandaBadudu sontak ditandatangani 61 ribu lebih netizen. Aktivis HAM, musisi dan mantan jurnalis yang sempat diverbal sebagai saksi itu, akhirnya dibebaskan.  

Selain menyebut Rakyat Siaga Satu, sebagai bentuk protes, di akun medsosnya sastrawan Puthut EA secara satir menuliskan pesannya, “Pak Jokowi, beri peringatan kepada polisi, kalau diving jangan berkali kali. Nanti dikasih kartu merah oleh rakyat!”.  

Jika kericuhan demokrasi tetap tidak berubah dan arogansi kekuasaan tetap berjalan, pertanyaanya, setelah Dandhy Laksono dan Ananda Badudu, besok giliran siapa lagi yang akan ditangkap? (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.